Kematian Maria (39) di rumah kontrakannya bukan sekadar tragedi kriminalitas biasa. Hasil autopsi membongkar anatomi kekerasan yang luar biasa brutal: luka gorok yang menuntut 33 jahitan dan tanda-tanda kematian akibat pembungkaman paksa. Di tengah duka, hilangnya motor, laptop, hingga ponsel milik korban kian menebalkan misteri apakah ini perampokan murni atau eksekusi yang disamarkan.
PALEMBANG, NUSALY – Ruang pribadi Maria di Perumahan Bukit Berlian, Muaradua, berubah menjadi panggung eksekusi yang senyap pada Rabu (25/3/2026) pagi. Staf Sekretariat Bawaslu Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan itu ditemukan tak bernyawa dalam kondisi yang menggetarkan nurani. Hasil autopsi dari RS Bhayangkara Palembang yang dirilis Kamis (26/3/2026) mengonfirmasi satu hal: ia dijemput maut melalui serangan yang sangat personal, terukur, dan brutal.
Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Nandang Mu’min Wijaya, mengungkap detail medis yang mengerikan. Penyebab utama kematian adalah asfiksia atau mati lemas karena saluran pernapasan yang terhambat, dibarengi dengan putusnya pembuluh darah besar di leher akibat senjata tajam. Luka itu begitu menganga hingga tim medis harus menyatukannya kembali dengan 33 jahitan. Sebuah angka yang bicara banyak tentang betapa dalamnya determinasi pelaku untuk memastikan nyawa korban lepas dari raganya.
Anatomi serangan di ruang privat
Maria tidak menyerah tanpa perlawanan. Tubuhnya adalah saksi bisu atas pergolakan terakhirnya melawan sang jagal. Tim forensik menemukan memar di dahi dan kedua bahunya, serta luka lecet di dagu hingga lengan. Yang paling menyesakkan adalah temuan luka di bibir atas dan bawah dengan pola cetakan gigi. Ini indikasi kuat bahwa korban dibungkam secara sangat keras, tepat saat pelaku mengayunkan senjata tajam ke lehernya.
Bintik pendarahan (petechiae) ditemukan menyebar di kelopak mata, seluruh wajah, hingga organ-organ vital seperti paru-paru dan jantung. Secara medis, ini adalah tanda-tanda perjuangan paru-paru mencari oksigen di detik-detik terakhir. Kerusakan pada kulit kepala bagian dalam dan patah tulang leher semakin mempertegas bahwa serangan ini dilakukan dengan tenaga yang sangat eksplosif. Polisi bahkan mengambil sampel swab vagina untuk memastikan tidak ada dimensi kekerasan lain yang tersembunyi di balik tabir pembunuhan ini.
Harta raib dan lenyapnya aset digital
Kapolres OKU Selatan, AKBP I Made Redi Hartana, mengonfirmasi lenyapnya sejumlah harta benda penting milik korban. Barang yang hilang meliputi satu unit sepeda motor Honda BeAT, sebuah laptop, dan dua unit ponsel.
Hilangnya perangkat digital ini memicu pertanyaan besar bagi penyidik: apakah pelaku adalah perampok yang kebetulan masuk, atau seseorang yang memiliki kepentingan untuk menghilangkan jejak komunikasi serta data-data milik korban?
Lenyapnya laptop milik seorang staf di lembaga penyelenggara pemilu di tengah tahun politik adalah sebuah sinyal merah. Penyidik kini harus membedakan antara pencurian dengan kekerasan (curas) murni atau pembunuhan berencana yang dipoles seolah-olah perampokan biasa.
“Kami belum bisa memastikan apakah tindak pidana pencurian ini terjadi di awal atau di bagian akhir peristiwa,” ujar Redi. Fokus pengejaran kini diarahkan pada pelacakan sinyal perangkat digital tersebut.
Lubang hitam keamanan
Kematian Maria di lingkungan perumahan Dusun I Desa Pelangki meninggalkan trauma mendalam bagi warga. Garis polisi yang melintang di depan rumah kontrakan itu kini menjadi monumen bisu atas kerentanan seorang perempuan yang hidup sendiri di perantauan demi menjalankan tugas negara. Tragedi ini bukan hanya soal hilangnya nyawa, melainkan soal runtuhnya rasa aman di ruang yang paling privat sekalipun.
Setiap dari 33 jahitan di leher Maria kini menjadi beban moral yang harus dijawab tuntas oleh penyidik di lapangan. Keberhasilan Polda Sumsel dan Polres OKU Selatan dalam mengungkap kasus ini dalam waktu singkat akan menjadi ukuran kredibilitas kepolisian di mata masyarakat Bumi Sriwijaya. Jangan sampai noda darah di Bukit Berlian menguap begitu saja tanpa ada tersangka yang meringkuk di balik jeruji besi dengan jeratan pasal yang paling berat.
Setiap menit pelarian pelaku adalah penghinaan terhadap nilai keadilan. Dengan bukti autopsi yang begitu benderang dan daftar barang hilang yang sudah di tangan, tidak ada alasan bagi aparat untuk tidak segera menyeret sang jagal ke hadapan hukum. Keadilan harus tegak, bahkan jika ia harus digali dari balik luka gorok yang memilukan. Maria telah gugur dalam kesendirian tugasnya; kini tugas negara melalui ketegasan hukum untuk memberikan “kalimat terakhir” yang jernih atas tragedi ini. (dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
