PALEMBANG, NUSALY – Ruang redaksi di Indonesia kini sedang berhadapan dengan “hantu” baru bernama kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia tidak lagi sekadar menjadi obrolan di seminar teknologi, melainkan sudah mengetuk pintu tiap-tiap media daring. Kegelisahan inilah yang terekam dalam workshop “AI Tools for Journalists” di Batiqa Hotel, Palembang, Kamis-Jumat (5-6/2/2026).
Pelatihan seri kelima yang digawangi Suara.com dan Local Media Community (LMC) dengan sokongan Google News Initiative (GNI) ini mengumpulkan lebih dari 30 jurnalis. Menariknya, antusiasme tidak hanya datang dari tepian Sungai Musi; peserta mengalir dari Ogan Komering Ilir (OKI), PALI, hingga mereka yang menyeberang pulau dari Bangka Belitung, Jambi, dan Lampung. Kehadiran mereka seolah menegaskan bahwa media lokal tidak ingin sekadar menjadi penonton dalam disrupsi teknologi ini.
Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, membuka mata para peserta dengan fakta pahit: kehadiran fitur AI overview di platform pencarian telah memotong jalur pembaca ke situs berita. Ringkasan informasi kini tersaji seketika, tanpa perlu satu klik pun ke tautan asal. Inilah “tsunami” digital yang memaksa jurnalis untuk tidak lagi sekadar menjadi pengabar cepat, melainkan pemberi makna.
“Konten berkualitas tidak akan berdampak jika tidak bertemu pembacanya lewat algoritma yang tepat. Bahayanya bukan pada AI-nya, tapi jika jurnalis menolak belajar teknologi sama sekali,” ungkap Suwarjono.
Ancaman Eksistensi
Di sela-sela pelatihan, sebuah tanya besar menggantung di kepala setiap peserta: apakah peran jurnalis akan segera berakhir? Namun, Suwarjono justru melihat sebaliknya. Baginya, jurnalisme baru akan “mati” ketika para praktisinya menyerah pada ketidaksiapan. AI seharusnya diletakkan sebagai asisten cerdas yang memangkas tugas-tugas administratif yang membosankan, sehingga jurnalis punya lebih banyak waktu untuk turun ke lapangan mencari kebenaran yang tak bisa diendus mesin.
Perangkat seperti Google Trends, Gemini, hingga Pinpoint dipreteli dalam workshop berdurasi 14 jam ini. Pinpoint, misalnya, menjadi oase bagi jurnalis investigasi karena kemampuannya membedah ribuan dokumen dalam hitungan detik. Sementara NotebookLM diposisikan sebagai kawan diskusi untuk menyusun draf konten yang lebih segar, mulai dari naskah hingga bentuk multimedia seperti infografis dan podcast.
Kendati demikian, mesin tetaplah mesin. Hendra dari Bangka Pos dengan tegas menyebut bahwa ia tidak akan menggadaikan “nurani” tulisannya pada AI. “Ada feel atau rasa dalam setiap kata yang tidak akan ditemukan jika drafnya hanya dibantu mesin. AI itu bantuan, bukan pengganti peran kita sebagai jurnalis seutuhnya,” ujarnya. Di sini, sentuhan manusia menjadi benteng terakhir yang membedakan jurnalisme profesional dengan fabrikasi konten otomatis.
Validasi Data
Namun, kemudahan AI juga membawa “pedang bermata dua” berupa ancaman disinformasi. Oleh karena itu, kurikulum pelatihan di Palembang ini memberikan porsi besar pada validasi. Jurnalis diajarkan mengulik perangkat verifikasi gambar, video, hingga audio untuk melawan terjangan deepfake. Di tengah banjir informasi, kredibilitas jurnalis lokal justru diuji lewat kemampuannya membedakan mana realitas dan mana rekayasa algoritma.
Trainer workshop, Yudie Thirzano, mengingatkan bahwa penguasaan alat ini bukan soal hafalan, melainkan jam terbang. “Harus sering dikulik. Entah untuk riset atau sekadar berlatih membuat instruksi (prompt) yang efektif,” kata Pemimpin Redaksi Tribun Sumsel itu. Senada dengan itu, Arsito Hidayatullah dari Suara.com melihat bahwa gairah peserta tidak berhenti di ruang hotel. Interaksi di grup percakapan pasca-pelatihan menunjukkan adanya gerakan belajar mandiri yang berkelanjutan di tingkat redaksi lokal.
Masa Depan
Masa depan jurnalisme di era mesin ini akan ditentukan oleh keberanian redaksi dalam menyeimbangkan efisiensi teknologi dan integritas editorial. Penggunaan AI untuk riset data besar (data journalism) justru berpeluang melahirkan karya-karya investigasi yang lebih tajam. Bagi media di daerah dengan sumber daya terbatas, AI bisa menjadi pengganda kekuatan untuk memproduksi konten bermutu secara konsisten.
Tantangan etis terkait hak cipta dan transparansi tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi industri media. Namun, satu hal yang pasti: jurnalisme berkualitas tidak akan hilang, ia hanya akan berevolusi. Mereka yang mampu menjinakkan AI akan tetap tegak sebagai penjaga kebenaran. Pekan depan, tur edukasi ini akan berakhir di Pontianak, Kalimantan Barat, membawa misi yang sama: memastikan ruang redaksi di daerah tetap bernapas di tengah kepungan algoritma.
(dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
