MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --
Kilas Daerah

Ayam Merah Jadi Alternatif Pilihan Warga Jelang Lebaran di Pasar Ngulak

Ayam Merah Jadi Alternatif Pilihan Warga Jelang Lebaran di Pasar Ngulak
Penjualan ayam merah di Pasar Kalangan Ngulak melonjak jelang Lebaran 2026. Dok. Ist

Lonjakan harga pangan menjelang Idulfitri 1447 Hijriah memicu pergeseran tren konsumsi protein hewani di tingkat masyarakat bawah. Ayam merah atau ayam eks petelur kini menjadi primadona di pasar tradisional karena harganya yang lebih terjangkau namun memiliki karakteristik tekstur yang menyerupai ayam kampung.

NGULAK, NUSALY – Geliat ekonomi masyarakat di pasar tradisional mulai meningkat tajam seiring semakin dekatnya perayaan Idulfitri. Di Pasar Kalangan Ngulak, Kabupaten Musi Banyuasin, fenomena menarik terlihat dari tingginya minat pembeli terhadap ayam merah sebagai bahan utama menu Lebaran, Jumat (20/3/2026).

Harga yang ditawarkan para pedagang menjadi daya tarik utama di tengah tren kenaikan harga bahan pokok. Ayam merah dalam kondisi hidup dibanderol Rp 60.000 per ekor, sementara untuk ayam yang telah dibersihkan dijual seharga Rp 65.000 per ekor. Harga ini dinilai jauh lebih ekonomis dibandingkan dengan harga ayam kampung yang biasanya melonjak tinggi menjelang hari raya.

Junaidi, salah seorang pedagang di Pasar Ngulak, mengungkapkan bahwa volume penjualannya naik berkali-kali lipat dibandingkan hari biasa. “Jika pada hari biasa hanya satu atau dua ekor yang terjual, saat ini permintaan bisa mencapai puluhan ekor per hari karena warga mulai menyetok untuk persiapan Lebaran,” ujarnya.

Pilihan Rasional di Tengah Inflasi

Pilihan masyarakat jatuh pada ayam merah bukan tanpa alasan. Secara tekstur dan cita rasa, ayam eks petelur ini dinilai memiliki kemiripan dengan ayam kampung, terutama saat diolah menjadi masakan khas Sumatera Selatan seperti pindang. Hal ini menjadikannya solusi bagi rumah tangga yang ingin menjaga tradisi kuliner Lebaran tanpa harus terbebani biaya tinggi.

Rina, salah seorang pembeli, menyebutkan bahwa faktor penghematan menjadi pertimbangan utama di tengah fluktuasi harga pangan. “Rasanya tetap enak dan cocok dimasak pindang untuk hari raya. Ini cara kami agar tetap bisa menyajikan menu istimewa dengan anggaran yang lebih hemat,” tuturnya.

Senada dengan itu, Andi, pembeli lainnya, memandang ayam merah sebagai substitusi yang ideal. Kualitas daging yang padat dan tahan lama saat dimasak dalam waktu lama menjadi nilai tambah tersendiri bagi masyarakat yang tengah beradaptasi dengan dinamika harga pasar.

Tingginya permintaan ini memaksa para pedagang menambah stok kiriman dari distributor agar tidak kehilangan momentum keuntungan. Fenomena di Pasar Ngulak ini mencerminkan strategi adaptasi konsumen dalam menghadapi tekanan ekonomi musiman, di mana ayam merah kini bertransformasi dari sekadar alternatif menjadi pilihan utama demi pemenuhan kebutuhan tradisi kuliner keluarga. (hra)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version