Ekosistem media digital di Sumatera Selatan sedang menghadapi ujian berat di tengah banjir disinformasi. Lewat momentum buka puasa bersama, pengurus AMSI Sumsel mencoba merapatkan barisan, menekankan bahwa verifikasi Dewan Pers bukan sekadar urusan administratif, melainkan benteng terakhir menjaga marwah jurnalisme daerah.
PALEMBANG, NUSALY – Di sebuah sudut kafe di Jalan Angkatan 45, Palembang, Sabtu (14/3/2026) sore, obrolan para pengelola media siber tidak melulu soal menu berbuka. Di balik suasana hangat Ngupiday Café, ada kegelisahan kolektif yang mengemuka. Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sumatera Selatan sedang memasang kuda-kuda menghadapi disrupsi teknologi yang kian liar.
Pertemuan ini menjadi krusial. Bukan karena hidangannya, melainkan karena agenda konsolidasi yang dibawa. Ketua AMSI Sumsel, Ardhy Fitriansyah, bersama Sekretaris Edwar Heryadi dan jajaran pengurus lainnya, duduk melingkar mendiskusikan nasib perusahaan pers digital di Bumi Sriwijaya. Mereka sadar betul. Tanpa standar yang ketat, media siber hanya akan menjadi pabrik konten yang kehilangan kepercayaan publik.
AMSI Sumsel tidak ingin main-main. Di tengah menjamurnya portal berita yang hanya bermodal salin-tempel, organisasi ini memilih jalan sunyi yang sulit: selektivitas. Sejauh ini, hanya 15 perusahaan pers di Sumsel yang mampu menembus filter ketat organisasi ini. Angka ini adalah pernyataan sikap. Bahwa kualitas jauh lebih berharga daripada sekadar kuantitas anggota yang gemuk namun keropos secara integritas.
Filter Ketat
Mekanisme rekrutmen di AMSI Sumsel memang tidak pernah longgar. Dalam diskusi yang juga disiarkan melalui podcast Lentera Demokrasi itu, Ardhy menegaskan bahwa setiap anggota wajib patuh pada standar Dewan Pers. Verifikasi administrasi dan faktual bukan lagi pilihan. Itu adalah harga mati bagi siapa pun yang ingin bernaung di bawah bendera organisasi ini.
“Keanggotaan AMSI ini bukan sekadar urusan setor nama dalam organisasi. Ini soal komitmen. Kami ingin media di Sumsel punya kredibilitas yang bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Ardhy dengan nada bicara yang tegas. Penekanan ini penting. Kredibilitas adalah komoditas termahal dalam bisnis kepercayaan ini.
Filter ini sengaja dipasang tinggi. Tujuannya satu: melindungi publik. Di era di mana algoritma sering kali lebih memihak pada sensasi daripada akurasi, AMSI Sumsel mencoba berdiri sebagai kurator. Media yang bergabung harus membuktikan bahwa mereka memiliki struktur keredaksian yang jelas. Mereka harus berpedoman pada kaidah jurnalistik yang sehat. Tanpa itu, media siber hanya akan menjadi bagian dari kebisingan digital yang tidak mencerdaskan.
Nafas Bisnis
Tantangan berikutnya yang dibedah dalam pertemuan itu adalah soal keberlanjutan bisnis media (media sustainability). Para pengurus AMSI Sumsel tidak menutup mata. Dominasi platform global telah mengubah peta distribusi iklan secara radikal. Media lokal dipaksa bertarung di medan laga yang tidak seimbang.
Maka, transformasi bukan lagi sekadar jargon. Di hadapan pengurus seperti Ratu Yuliana dan Sidratul Muntaha, diskusi mengalir tajam mengenai bagaimana perusahaan pers daerah harus mencari model pendapatan baru. Mengandalkan klik semata adalah bunuh diri perlahan. Inovasi konten dan kedekatan dengan audiens lokal menjadi kunci untuk bertahan hidup.
Transformasi digital ini harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas jurnalisme. Perusahaan media harus mampu membuktikan kepada pasar bahwa konten yang diproduksi secara profesional memiliki nilai lebih. Nilai yang tidak dimiliki oleh informasi serampangan di media sosial. Hanya dengan cara itulah, pengiklan dan pembaca akan tetap menaruh hormat pada institusi pers.
Soliditas Internal
Di balik perdebatan serius mengenai masa depan industri, aspek kemanusiaan tetap menjadi pengikat utama. Penyerahan bingkisan kebersamaan sore itu menjadi simbol penting. Bahwa persaingan antar-media tidak boleh merusak hubungan kekeluargaan di bawah naungan AMSI Sumsel. Soliditas internal adalah modal utama untuk melakukan advokasi jika suatu saat anggota menghadapi persoalan regulasi atau tekanan dari pihak luar.
AMSI Sumsel ingin membangun ekosistem yang saling menguatkan. Bukan saling menjatuhkan. Melalui forum-forum informal seperti ini, koordinasi antar-pengurus diharapkan menjadi lebih cair. Ego sektoral harus dikesampingkan demi visi besar: menciptakan iklim media siber yang sehat di Sumatera Selatan.
Pertemuan pun berakhir seiring kumandang azan Maghrib. Namun, tugas besar AMSI Sumsel baru saja dimulai. Dengan komitmen yang diperbarui di meja buka bersama, organisasi ini optimis bisa terus mengawal peran media siber sebagai pilar demokrasi di daerah. Integritas dan profesionalisme tetap menjadi standar yang tidak bisa ditawar oleh siapa pun. (*/dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
