MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --
Sumsel Maju Terus untuk Semua

Cegah Penjajahan Ekonomi Baru, Gubernur Sumsel Tantang HIPMI Pimpin Hilirisasi

Cegah Penjajahan Ekonomi Baru, Gubernur Sumsel Tantang HIPMI Pimpin Hilirisasi
Gubernur Herman Deru tantang pengusaha muda HIPMI Sumsel pimpin hilirisasi sawit dan kopi demi bendung invasi ekonomi asing. Dok. BHP Pemprov Sumsel

Generasi muda dituntut menjadi benteng pertahanan dalam menjaga kedaulatan sumber daya alam daerah di tengah keterbukaan pasar global. Pengolahan produk mentah menjadi barang jadi bernilai tambah tinggi menjadi kunci utama agar bangsa ini tidak sekadar menjadi penonton.

PALEMBANG, NUSALY – Sejarah kelam masa lalu di mana kekayaan alam bumi nusantara dikeruk habis-habisan oleh bangsa asing tanpa menyisakan kesejahteraan bagi masyarakat lokal harus menjadi pelajaran berharga.

Guna mencegah terulangnya pola ketergantungan ekonomi tersebut, para pengusaha muda di Sumatera Selatan didorong untuk berani mengambil alih kendali pengelolaan hasil bumi melalui percepatan program hilirisasi industri.

Pesan kebangsaan dan kemandirian ekonomi tersebut ditegaskan oleh Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru saat menghadiri Forum Bisnis Daerah (Forbisda) 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Sumatera Selatan di Palembang, Rabu (29/4/2026).

Di hadapan ratusan pelaku usaha, kepala daerah mengingatkan bahwa kualitas sumber daya manusia lokal saat ini sudah sangat mumpuni untuk bersaing dengan negara mana pun di dunia.

“Mereka ambil dan bawa, sementara kita hanya menjadi pekerja dan penonton. Hari ini kita menolak untuk diinvasi negara lain. SDM kita tidak kalah dengan negara mana pun di dunia,” ujar Herman Deru dengan nada membakar semangat persidangan.

Herman Deru memaparkan bahwa hilirisasi komoditas bukan lagi sebuah pilihan pelengkap, melainkan strategi mutlak untuk menyelamatkan kedaulatan ekonomi. Sumatera Selatan telah memulai langkah berani tersebut melalui draf proyek strategis nasional berupa konversi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) guna mengurangi ketergantungan pada impor energi.

Kini, estafet inovasi tersebut dititipkan kepada jajaran pengusaha muda sebagai pengawal rantai pasok agar bahan mentah daerah tidak langsung dilempar keluar negeri tanpa pengolahan. Membangun sebuah produk lokal yang diakui global diakui membutuhkan napas panjang, komitmen modal, serta konsistensi dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap mutu barang itu sendiri.

Tantangan bonus demografi dan ekonomi desa

Selain fokus pada industri makro, gubernur juga menantang pemuda di wilayahnya untuk menjadi pejuang ekonomi yang jeli memanfaatkan ekosistem digital tanpa batas. Peta perputaran modal tidak boleh lagi hanya menumpuk di pusat perkotaan, melainkan harus ditarik masuk hingga ke pelosok desa melalui penciptaan lapangan kerja baru berbasis potensi agrobisnis kerakyatan.

Keberanian mengambil risiko dalam berwirausaha sangat krusial bagi ketahanan nasional, terutama dalam menyongsong puncak bonus demografi menuju Indonesia Emas pada tahun 2045 mendatang. Jika kelompok usia produktif saat ini tidak diarahkan menjadi pencipta lapangan kerja, momentum emas tersebut justru berisiko berubah menjadi beban sosial akibat tingginya angka pengangguran terdidik.

“Kalianlah yang menjadi penggerak dan motivator. Mudah-mudahan kalian bisa terus bergeliat dan menciptakan lapangan kerja,” kata gubernur menambahkan.

Meluncurkan komoditas kopi sriwijaya

Merespons tantangan tersebut, Ketua Umum BPD HIPMI Sumsel Puri Andamas memastikan bahwa pelaksanaan Forbisda 2026 ini dirancang sebagai wadah taktis untuk memetakan dan mengeksekusi potensi besar komoditas unggulan daerah.

Langkah ini merupakan kelanjutan dari program sebelumnya di mana anak muda Sumsel telah berhasil mengapalkan produk kopi beserta turunannya ke pasar internasional.

Fokus penguatan ekonomi lokal kali ini diarahkan pada dua komoditas utama Sumatera Selatan, yaitu kelapa sawit dan kopi. Kopi tanggamus dan kopi dataran tinggi Sumsel yang selama ini kerap dijual dalam bentuk biji mentah curah akan dinaikkan kelasnya melalui sentuhan kreativitas hilirisasi anak muda.

Sebagai bentuk nyata dari komitmen pengolahan di dalam daerah, HIPMI Sumsel menggelar ajang kompetisi meracik kopi (brewing competition) serta mempersiapkan draf peluncuran merek dagang bersama bernama Kopi Sriwijaya.

Kehadiran produk olahan terpadu ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang berkali-kali lipat bagi para petani lokal sekaligus mempertegas posisi Sumatera Selatan sebagai salah satu lumbung pangan dan energi yang mandiri secara ekonomi di tanah air. (dhi)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang

Exit mobile version