MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --
Sumsel Maju Terus untuk Semua

Cik Ujang dan Cerita di Balik Etos Kerja Warga Jawa di Sumatera Selatan

Cik Ujang dan Cerita di Balik Etos Kerja Warga Jawa di Sumatera Selatan
Wakil Gubernur Sumatera Selatan, H. Cik Ujang, menghadiri acara Buka Puasa Bersama Keluarga Besar DPW Paguyuban Keluarga Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma) Sumatera Selatan yang digelar di Hotel Arista Palembang, Sabtu (7/3/2026). Dok. BHP Pemprov Sumsel

Di balik meja buka puasa bersama keluarga besar Pujakesuma, terselip pengakuan atas peran warga keturunan Jawa yang telah lama menyatu dengan napas pembangunan Bumi Sriwijaya. Wakil Gubernur Cik Ujang menyebut karakter ulet dan kerja keras mereka sebagai mesin penggerak yang menjaga stabilitas daerah tetap kokoh hingga saat ini.

PALEMBANG, NUSALY – Di Sumatera Selatan, sekat antarsuku sering kali luruh di meja makan atau di lahan pertanian. Keberagaman bukan lagi sekadar slogan, melainkan cara hidup yang sudah mengakar selama berpuluh tahun. Salah satu kelompok yang paling menonjol dalam urusan ketekunan bekerja adalah warga keturunan Jawa yang berhimpun dalam Paguyuban Keluarga Jawa Kelahiran Sumatera atau Pujakesuma.

Wakil Gubernur Sumatera Selatan Cik Ujang, Sabtu (7/3/2026), datang ke Hotel Arista Palembang bukan untuk sekadar urusan protokoler bulan Ramadan. Ia duduk melingkar bersama ratusan anggota Pujakesuma untuk bicara tentang masa depan daerah yang mereka huni bersama. Bagi Cik Ujang, warga Jawa di Sumsel bukan lagi pendatang; mereka adalah tuan rumah yang ikut berkeringat membangun ekonomi mulai dari sawah hingga pasar.

Cik Ujang melihat ada karakter khas yang sulit dicari tandingannya: keuletan. Ia mengakui bahwa kemajuan Sumsel saat ini banyak terbantu oleh ketekunan warga Pujakesuma yang tidak banyak mengeluh saat menjalankan amanah. “Orang Jawa itu punya kerja keras dan ketelitian yang luar biasa. Karakter ini yang membuat pembangunan daerah kita terus berjalan lancar,” ujar Cik Ujang dengan nada santai namun tegas.

Rumah Besar yang Dijaga Bersama

Ramadan tahun ini menjadi waktu yang tepat bagi Cik Ujang untuk bicara soal “Rumah Besar”. Baginya, Sumatera Selatan adalah bangunan luas yang dihuni berbagai suku dengan harmonis. Ia mengingatkan bahwa persatuan bukan barang murah. Ia harus dijaga melalui pertemuan-pertemuan rutin dan kerja sama nyata di lapangan, bukan cuma lewat spanduk.

Pesan Cik Ujang kepada anggota Pujakesuma sangat praktis: teruslah jadi pendingin di tengah masyarakat. Di tengah arus informasi yang sering memancing emosi, komunitas seperti Pujakesuma diharapkan tetap menjaga nilai budaya luhur tanpa kehilangan peran dalam pembangunan. Semangat gotong royong yang menjadi identitas mereka harus terus ditularkan ke komunitas lain agar kebersamaan di tingkat bawah tetap terjaga.

Ketua Umum DPP Pujakesuma Eko Sopianto menanggapi hal itu dengan bangga. Organisasi yang dipimpinnya kini sudah merambah ke 23 provinsi. Angka ini menunjukkan betapa besarnya potensi warga keturunan Jawa di perantauan. Namun, Eko tetap memegang teguh prinsip lama: “Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung.” Artinya, di mana pun mereka berada, menghormati suku asli dan bekerja sama adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar.

Target Wilayah dan Janji Pengabdian

Di Sumatera Selatan, Pujakesuma sedang tancap gas. Ketua DPW Pujakesuma Sumsel H. Devi Suhartoni melaporkan bahwa saat ini sudah terbentuk 23 DPD. Namun, ia tidak mau berhenti di situ. Target berikutnya adalah menjangkau 33 wilayah atau cabang agar koordinasi warga keturunan Jawa dalam mendukung program pemerintah daerah bisa lebih maksimal.

Devi memastikan bahwa warga Pujakesuma tidak akan lari dari tanggung jawab membangun daerah. “Terima kasih Bapak Wagub sudah hadir. Kami warga keturunan Jawa di sini akan tetap bersatu dan memberikan yang terbaik untuk kemajuan Sumatera Selatan,” tuturnya menutup pertemuan. Komitmen ini menjadi poin penting bagi pemerintah provinsi dalam menjaga stabilitas sosial di Bumi Sriwijaya.

Buka puasa sore itu berakhir dengan sebuah keyakinan: pembangunan bukan soal satu golongan, tapi soal bagaimana setiap orang, dari mana pun asalnya, mau berkontribusi untuk tanah yang mereka pijak. Di bawah kepemimpinan yang mau turun langsung merangkul semua pihak, Sumatera Selatan membuktikan diri sebagai daerah yang ramah bagi siapa saja yang mau bekerja keras. (desta)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

error: Content is protected !!
Exit mobile version