Data & Visual

Pengangguran Muda Kian Menguat: Ekonomi Hijau dan Hilirisasi Jadi Arah Baru Pemanfaatan Bonus Demografi

Indonesia menghadapi tantangan memanfaatkan bonus demografi di tengah tingkat pengangguran muda yang mencapai 14 persen. Sektor ekonomi hijau, digital, dan hilirisasi diproyeksikan membuka jutaan lapangan kerja baru, menuntut perumusan kebijakan yang lebih inklusif.

Pengangguran Muda Kian Menguat: Ekonomi Hijau dan Hilirisasi Jadi Arah Baru Pemanfaatan Bonus Demografi
Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, menutup dengan harapan agar isu ekonomi dibahasakan dengan cara yang dekat dengan anak muda, yang merupakan agen transformasi alami. (Dok. Istimewa)

JAKARTA, NUSALY — Indonesia berada di persimpangan jalan dalam upaya memanfaatkan bonus demografi di tengah isu ketimpangan pendapatan, deindustrialisasi dini, dan tingginya pekerjaan di sektor informal. Meskipun sekitar 70 persen penduduk berada pada usia produktif, dan mayoritas Gen Z dan Milenial telah menyelesaikan pendidikan menengah, tingkat pengangguran muda di Indonesia masih berada di angka 14 persen.

Angka tersebut tercatat dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lain seperti Thailand dan Vietnam, yang berada di kisaran 6–7 persen. Kondisi ini menuntut peninjauan ulang arah kebijakan ekonomi nasional.

“Ada peluang besar di sektor ekonomi hijau, digital, dan hilirisasi yang mampu membuka lapangan kerja baru secara masif dan struktural,” kata Strategic Research Manager CORE Indonesia, Yusuf R. Manilet, saat memaparkan proyeksi ekonomi 2026 dalam Youth Economics Summit (YES) 2025 di Jakarta, akhir pekan lalu.

Peluang ‘Green Jobs’ dan Transformasi Digital

Yusuf menyebutkan, sektor ekonomi hijau diperkirakan berpotensi menyumbang Rp500 triliun hingga Rp600 triliun pada 2030. Sektor ini juga diproyeksikan mampu membuka sekitar 1,7 juta green jobs, mencakup berbagai posisi yang berkaitan dengan transisi energi dan keberlanjutan.

Ekonomi digital juga dinilai menjadi instrumen penting untuk menekan pengangguran. Dengan penetrasi internet yang mencapai 80 persen, ekonomi digital telah memunculkan jenis pekerjaan baru yang spesifik, mulai dari host live-streaming, layanan daring, hingga posisi pendukung di industri startup.

Sementara itu, sektor hilirisasi yang berfokus pada 28 komoditas prioritas dengan cadangan signifikan di Indonesia, diproyeksikan mampu mencapai pendapatan industri sebesar 917 miliar dollar AS pada tahun 2045. Ketiga sektor ini dianggap sebagai pilar masa depan yang harus diintegrasikan ke dalam kurikulum dan skema insentif ketenagakerjaan.

Peran Kritis Generasi Muda dan Risiko ‘Crowding Out’

Direktur CORE Indonesia Mohammad Faisal menekankan pentingnya pelibatan generasi muda dalam perumusan kebijakan ekonomi. Gen Z (27 persen) dan Milenial (25 persen) jika digabungkan mencapai hampir 60 persen dari total populasi Indonesia.

“Setiap kebijakan ekonomi paling banyak berdampak ke anak muda. Karena itu, mereka harus dilibatkan sejak awal, agar isu ekonomi tidak menjadi isu elitis,” ujar Faisal.

Di sisi lain, diskusi juga menyoroti risiko belanja pemerintah yang terlalu dominan, berpotensi menciptakan crowding out atau penyingkiran usaha swasta. Dipo Satria Ramli mencontohkan rencana pendanaan besar oleh pemerintah untuk proyek peternakan, yang dapat menggusur usaha peternakan swasta yang kalah modal.

Menurut Dipo, pemerintah seharusnya fokus pada penciptaan iklim investasi yang baik, hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh swasta. Azhar Syahida menambahkan, pentingnya pertumbuhan inklusif yang tidak hanya bertumpu pada industri besar, sementara Jeany Hartriani menegaskan bahwa transisi energi dan ekonomi sirkular akan menjadi lanskap utama pasar kerja masa depan.

Fokus Pemerintah pada SDM dan Pemerataan

Menanggapi tantangan tersebut, Asisten Khusus Presiden RI Dirgayuza Setiawan menjelaskan sejumlah program prioritas yang berfokus pada pengurangan kemiskinan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut menjadi fondasi penting untuk perbaikan gizi, yang pada gilirannya akan mengurangi kemiskinan jangka panjang dan meningkatkan kualitas pendidikan. “Kita harus menghadirkan kesetaraan, bukan sekadar kesamaan,” ujarnya.

Selain MBG dan program Sekolah Rakyat, pemerintah juga mengandalkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk menjamin penyaluran bantuan sosial tepat sasaran.

“Tahun 2026, kita akan menyalurkan lebih dari 1,377 juta bantuan. DTSEN memastikan bantuan diberikan kepada yang berhak,” katanya, seraya menambahkan bahwa fokus pemerintah tetap pada pembukaan lapangan kerja baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

YES 2025, yang diselenggarakan oleh Suara.com dan CORE Indonesia dengan tema “The New Economy Generation: Sustain, Scale, Succeed,” menjadi platform penting untuk memperkuat partisipasi generasi muda dalam merumuskan arah ekonomi berkelanjutan. Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, menutup dengan harapan agar isu ekonomi dibahasakan dengan cara yang dekat dengan anak muda, yang merupakan agen transformasi alami. ***

NUSALY Channel

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version