PT Pusri Palembang memulai pembangunan fisik Rumah Pilah Sampah sekaligus menggerakkan aksi bersih serentak pada HPSN 2026. Upaya ini menjadi bagian dari transformasi perilaku karyawan untuk menekan jejak ekologis industri di Sumatera Selatan.
PALEMBANG, NUSALY — Membangun pabrik pupuk raksasa mungkin urusan teknis yang sudah dikuasai di luar kepala, tetapi mengelola timbunan sampah yang dihasilkan manusia di dalamnya adalah tantangan yang jauh lebih pelik. Menyadari realitas pahit bahwa Indonesia sedang tercekik “darurat sampah”, PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang akhirnya memilih untuk tidak sekadar berteori. Pada Senin (16/2/2026), perusahaan pelat merah ini resmi meletakkan batu pertama pembangunan Rumah Pilah Sampah di area jalur distribusi komplek mereka, sebuah langkah yang lebih mirip dengan “pernyataan perang” terhadap limbah tak terurus.
Proyek ini sengaja digulirkan tepat pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026. Pusri tidak ingin perayaan tahun ini hanya terjebak dalam seremoni potong tumpeng atau pidato manis di atas podium. Sebaliknya, Direktur Utama Pusri Maryono bersama jajaran manajemen justru memilih turun ke tanah, memimpin aksi korve bersih sampah secara serentak. Dari area dermaga yang menjadi urat nadi distribusi hingga ke sudut-sudut perumahan warga, ribuan insan Pusri dipaksa untuk melihat langsung betapa mengerikannya timbunan sampah jika dibiarkan tanpa kendali.
Maryono tak ragu menggunakan kata-kata keras dalam sambutannya. Baginya, sampah bukan lagi isu lingkungan yang bisa dibahas dengan santai di ruang berpendingin udara. ““Persoalan sampah bukan lagi isu kecil. Indonesia sedang dalam kondisi darurat sampah. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Kita harus mengurangi, bahkan menghentikan penggunaan plastik sekali pakai dan mulai membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan,” tegas Maryono. Pernyataan ini menjadi semacam tamparan bagi budaya konsumsi instan yang masih menjangkiti banyak kalangan industri.
Memutus Rantai Residu
Pembangunan Rumah Pilah Sampah ini sebenarnya adalah upaya Pusri untuk menciptakan sistem filter yang lebih “berotak”. Selama ini, banyak industri terjebak pada pola lama: kumpulkan, angkut, lalu buang. Padahal, di dalam tumpukan plastik dan kertas itu ada nilai ekonomi yang seringkali terbuang percuma. Fasilitas baru ini didesain untuk memilah mana yang bisa kembali menjadi uang melalui proses sirkularitas, dan mana residu yang memang harus dimusnahkan dengan cara yang bertanggung jawab.
Maryono menekankan satu hal yang krusial: kebersihan lingkungan bukan tugas unit kerja tertentu atau bagian kebersihan semata. Itu adalah tugas kolektif. Tanpa kolaborasi seluruh elemen perusahaan, Rumah Pilah Sampah ini hanya akan jadi monumen beton yang kosong. Pusri ingin memastikan bahwa setiap gram sampah yang dihasilkan dari aktivitas pabrik hingga kantor bisa terlacak dan terkelola dengan standar yang ketat.
Hasilnya terlihat instan. Dalam aksi bersih-bersih serentak hari ini saja, total sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai angka fantastis: 2,2 ton. Bayangkan jika jumlah ini dibiarkan hanyut ke Sungai Musi atau menumpuk di lahan kosong. Capaian 2,2 ton ini adalah bukti telanjang bahwa potensi kerusakan lingkungan dari sebuah kawasan industri sangatlah besar jika tidak ada intervensi yang berani. Pusri sedang mencoba membuktikan bahwa mereka bisa tetap memproduksi pupuk tanpa harus “menyuapi” bumi dengan sampah.
Obsesi Budaya Hijau
Yang jauh lebih menarik dari sekadar pembangunan gedung adalah ambisi Pusri untuk menyuntikkan Green Employee Behaviour ke dalam nadi para pegawainya. Ini adalah transformasi perilaku yang menuntut karyawan untuk lebih cerewet soal jenis sampah yang mereka buang. Mulai dari memilah sampah di meja kerja hingga mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai, setiap insan Pusri kini “ditodong” untuk menjadi penjaga lingkungan di garis depan.
Mengubah kebiasaan ribuan orang tentu lebih sulit daripada membangun infrastruktur fisik. Ia butuh keteladanan yang brutal dari atasan. Kehadiran Maryono dan jajaran direksi di tengah aksi bersih-bersih hari ini adalah sinyal bahwa kepedulian lingkungan bukan lagi opsi, melainkan kewajiban profesional. Budaya hijau ini diharapkan tidak hanya menjadi tren sesaat di bulan Februari, tapi menjadi standar operasional baru dalam perilaku kerja sehari-hari.
Dilihat dari kacamata korporasi, langkah ini sangat strategis untuk memperkuat posisi Pusri dalam penilaian PROPER dan standar ESG (Environmental, Social, and Governance). Di era di mana publik dan investor kian cerdas, sebuah perusahaan tidak lagi dinilai hanya dari seberapa besar laba yang mereka hasilkan, tapi seberapa “bersih” proses produksi dan budaya kerjanya. Pusri sedang melakukan investasi reputasi yang sangat mahal melalui tumpukan sampah yang mereka pilah.
Menjaga Nadi Musi
Sebagai anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), Pusri memiliki beban moral untuk menjadi standar bagi industri lain di wilayah Sumatera Selatan. Aksi bersih-bersih di dermaga, misalnya, berdampak langsung pada kelestarian Sungai Musi. Kita tahu, Musi bukan sekadar sungai; ia adalah identitas dan sumber kehidupan warga Palembang. Dengan menahan aliran sampah dari area industri agar tidak masuk ke perairan, Pusri sebenarnya sedang melakukan pengabdian sosial yang sangat nyata bagi masyarakat luas.
Komitmen ini tidak boleh berhenti di gerbang pabrik. Maryono berharap Rumah Pilah Sampah ini nantinya bisa menjadi inspirasi bagi pemukiman warga di sekitar komplek perusahaan untuk menerapkan pola pengelolaan serupa. Pusri ingin tumbuh bersama lingkungan yang sehat, bukan menjadi menara gading yang megah di tengah tumpukan sampah masyarakat.
Menutup kegiatan hari ini, manajemen Pusri kembali mengingatkan bahwa perang melawan sampah adalah maraton, bukan lari cepat. Langkah hari ini hanyalah babak pembuka. Darurat sampah tidak akan selesai hanya dengan satu kali aksi korve, tapi pembangunan Rumah Pilah Sampah dan perubahan perilaku karyawan ini memberikan harapan bahwa kolaborasi industri yang jujur bisa menjadi jawaban. Indonesia Asri bukan lagi sekadar slogan di atas kertas, tapi sebuah target yang sedang diperjuangkan melalui setiap kantong sampah yang dipilah oleh tangan-tangan insan Pusri mulai hari ini.
(emen)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
