PALEMBANG, NUSALY – Diplomasi kebudayaan daerah kini menemukan momentum barunya melalui sentuhan kepemimpinan muda di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Di tangan Ike Meilina Muchendi, Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Dekranasda OKI, selembar kain tradisional bukan lagi sekadar warisan masa lalu yang statis. Melalui serangkaian langkah strategis, Songket Bidak Cukit kini diletakkan sebagai pilar penting dalam narasi pembangunan daerah yang berbasis pada kearifan lokal.
Puncaknya terlihat saat Ike Meilina Muchendi yang juga merupakan anggota DPRD Sumatera Selatan mendampingi Bupati OKI, Muchendi, menyerahkan Songket Bidak Cukit kepada Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Agus Harimurti Yudhoyono, di Palembang, Selasa (10/2/2026). Penyerahan ini bukan sekadar seremoni cenderamata, melainkan sebuah manifestasi dari politik kebudayaan yang bertujuan untuk menempatkan identitas Suku Komering di epicentrum perhatian nasional.
Redefinisi Eksklusivitas Marga
Secara historis, Bidak Cukit membawa wibawa yang besar di tanah Komering. Dahulu, motif ini merupakan simbol status yang sangat eksklusif, hanya dikenakan oleh keluarga kepala marga sebagai penanda garis keturunan kepemimpinan. Namun, di bawah visi Ike Meilina, eksklusivitas tersebut direformulasi menjadi kebanggaan komunal yang inklusif tanpa kehilangan marwahnya.
Ike menyadari bahwa pelestarian tanpa nilai ekonomi akan membuat tradisi perlahan pudar. Oleh karena itu, terjadi redefinisi terhadap nilai eksklusivitas tersebut. Alih-alih membiarkannya terkunci dalam ingatan masa lalu, Bidak Cukit direklamasi menjadi identitas yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Keberhasilan sebuah produk budaya kini tidak lagi hanya diukur dari kemampuannya bertahan sebagai artefak, melainkan dari sejauh mana ia mampu beradaptasi dalam ekosistem pasar modern tanpa menanggalkan nilai luhur yang dikandungnya.
Sejak Juli 2025, Dekranasda OKI telah melakukan intervensi strategis dengan menstandarisasi kualitas pengrajin melalui pelatihan intensif di Pendopoan Kabupaten OKI. Fokusnya adalah mengubah karakteristik kain menjadi lebih ringan dan fleksibel agar dapat diaplikasikan menjadi pakaian siap pakai (ready-to-wear) yang lebih fungsional dibandingkan songket konvensional, menjadikannya pilihan utama bagi para pencinta mode nasional.
Kepastian Hukum sebagai Mesin Ekonomi
Salah satu capaian paling krusial dalam manajemen aset budaya di Bumi Bende Seguguk adalah kesadaran akan pentingnya perlindungan hukum. Menyadari risiko klaim sepihak atas motif daerah, Ike Meilina bersinergi dengan Kanwil Kemenkumham Sumatera Selatan untuk mendaftarkan Hak Cipta atas motif Songket Bidak Cukit pada September 2025.
Langkah ini adalah kunci bagi kedaulatan budaya sekaligus mesin penggerak nilai tambah ekonomi. Dengan status sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK), Bidak Cukit memiliki perisai hukum yang mencegah eksploitasi tanpa izin, sekaligus memberikan jaminan bagi para kolektor dan pasar mengenai otentisitas karya mereka. Perlindungan kekayaan intelektual ini memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh para pelaku industri kreatif di desa-desa, seperti di Kecamatan SP Padang.
“Perlindungan hukum adalah bentuk penghormatan tertinggi kita kepada para leluhur sekaligus jaminan kesejahteraan bagi para pengrajin di masa depan,” tegas Ike Meilina dalam sebuah koordinasi bersama jajaran Pemkab OKI.
Sinergi Kebudayaan dalam Pembangunan
Visi besar pasangan pemimpin muda ini pun mendapat tempat terhormat dalam perayaan identitas daerah. Adopsi motif Bidak Cukit sebagai elemen utama logo HUT ke-80 Kabupaten OKI pada 26 September 2025 merupakan pernyataan politik kebudayaan yang kuat: bahwa pembangunan di bawah kepemimpinan Bupati Muchendi tidaklah tercerabut dari akarnya.
Bagi jajaran DPRD Sumatera Selatan dan Pemkab OKI, inisiatif ini menunjukkan bahwa pengelolaan sektor ekonomi kreatif mulai dari pelatihan, promosi, hingga proteksi hukum dapat menjadi solusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat. Diplomasi mode yang dilakukan melalui tokoh nasional merupakan upaya penjenamaan (branding) tingkat tinggi untuk memastikan Bidak Cukit dikenal sebagai standar baru tekstil tradisional Indonesia yang elegan dan relevan dengan gaya hidup modern.
Kini, Bidak Cukit bukan lagi sekadar kain kuno di lemari bangsawan; ia adalah simbol kebangkitan ekonomi kreatif Ogan Komering Ilir yang siap bersinar di orbit nasional, membawa pesan bahwa tradisi adalah modal paling berharga dalam pembangunan masa depan.
(dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
