MAKASSAR, NUSALY — Lanskap media digital dunia sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, teknologi kecerdasan buatan (AI) menawarkan efisiensi riset yang luar biasa; di sisi lain, ia berpotensi memutus rantai interaksi antara pembaca dan penerbit berita. Merespons disrupsi ini, Suara.com bersama Local Media Community (LMC) dan Google News Initiative (GNI) menggelar workshop ”AI Tools Training for Journalists” di Makassar, Sulawesi Selatan, 2–3 Februari 2026.
Pelatihan intensif ini diikuti oleh 30 jurnalis dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan, mulai dari Makassar, Bulukumba, hingga Luwu. Fokus utamanya bukan sekadar teknis penggunaan alat, melainkan bagaimana jurnalisme tetap mempertahankan kedaulatan informasi di tengah tren AI Overview yang kian dominan.
Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah perubahan perilaku audiens. Fitur ringkasan otomatis bertenaga AI memungkinkan pembaca mendapatkan intisari berita tanpa pernah menginjakkan kaki digital mereka di situs web media terkait.
”Bagi audiens, ini memudahkan. Cukup kunjungi AI Overview. Namun bagi media berita, ini menjadi tantangan agar audiens tetap masuk dan klik website,” ujar Suwarjono. Kondisi ini memaksa awak media untuk melakukan reorientasi dalam menyampaikan berita dan membangun interaksi, terutama dengan generasi muda yang lebih karib dengan platform visual dan ringkas.
Transformasi Alat Riset dan Verifikasi
Dalam menghadapi tantangan tersebut, workshop di Makassar memperkenalkan berbagai perangkat AI generatif yang dirancang untuk memperkuat, bukan menggantikan, kerja intelektual jurnalis. Dua pelatih alumni Training of Trainers GNI, Elga Maulina Putri dan Muhammad Yunus, membedah penggunaan Google Trends untuk memetakan arah isu secara presisi, hingga pemanfaatan Gemini untuk pengayaan grafis.
Salah satu alat yang mencuri perhatian adalah NotebookLM dan Pinpoint. Perangkat ini memungkinkan jurnalis melakukan riset mendalam terhadap ribuan dokumen atau transkrip wawancara dalam waktu singkat. Bagi laporan investigasi, kemampuan ini menjadi kunci untuk menemukan pola tersembunyi yang sulit dipetakan secara manual.
Kamaruddin Azis, jurnalis senior di Makassar, mengakui bahwa teknologi ini membuka perspektif baru bagi jurnalis lintas generasi. ”NotebookLM membantu membuat infografis, video, hingga suara secara mendetail. Umur bukan batasan untuk belajar AI,” tuturnya. Ia bahkan berencana menularkan keahlian ini kepada pewarta warga (citizen journalist) agar penggunaan AI tetap berada di koridor kaidah jurnalistik yang bertanggung jawab.
Distribusi dan Ancaman Ketidaksiapan
Namun, penguasaan alat riset hanyalah separuh dari perjuangan. Tantangan lainnya terletak pada distribusi konten. Suwarjono menegaskan bahwa konten berkualitas sekalipun tidak akan memberikan dampak sosial jika tidak mampu menembus algoritme yang mempertemukan berita dengan pembacanya.
Hal ini menjadi alasan mengapa media kini didorong untuk lebih serius menggarap platform seperti Instagram dan TikTok dengan bantuan AI sebagai asisten kreatif. AI dipandang bukan sebagai ancaman yang akan membunuh profesi jurnalis, melainkan cermin dari kesiapan industri itu sendiri.
”Kehadiran AI tidak membunuh jurnalisme. Justru ketidaksiapan teman-teman jurnalislah yang bisa membunuh jurnalisme,” tegas Suwarjono. Ia mengingatkan bahwa ancaman paling nyata bagi masa depan informasi bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan keengganan jurnalis untuk belajar dan beradaptasi.
Dengan pendekatan yang tepat, AI justru bisa menjadi mitra bagi presisi laporan. Ia mempermudah proses administratif yang membosankan sehingga jurnalis memiliki lebih banyak waktu untuk turun ke lapangan, mencari fakta kemanusiaan, dan menyusun narasi yang tetap berdenyut—sesuatu yang sejauh ini belum mampu ditiru secara sempurna oleh kecerdasan buatan manapun.
(dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
