DPRD OI

Hadir di Tengah Warga, Anggota DPRD Ogan Ilir Royatuddin Dukung Perayaan 1 Muharram

Hadir di Tengah Warga, Anggota DPRD Ogan Ilir Royatuddin Dukung Perayaan 1 Muharram
Anggota DPRD Ogan Ilir Royatuddin hadiri perayaan 1 Muharram di Indralaya untuk serap aspirasi urban-suburban dan dukung akulturasi seni tradisional jaranan. Dok. M. Amdal/Nusaly.com

Kehadiran legislator muda Royatuddin di tengah pergeseran demografi pemilih urban-suburban menjadi potret baru dinamika representasi politik dan upaya merawat kohesi sosial melalui ruang kultural.

INDRALAYA, NUSALY – Lanskap politik dan sosial di wilayah penyangga seperti Kabupaten Ogan Ilir tengah mengalami transformasi sekuler yang signifikan dalam lima tahun terakhir.

Pertumbuhan kawasan pemukiman baru di koridor Indralaya, yang dipicu oleh ekspansi sektor pendidikan tinggi dan infrastruktur jalan tol, secara bertahap mengubah karakteristik pemilih menjadi lebih heterogen dan kritis.

Di tengah dinamika tersebut, kemampuan seorang wakil rakyat dalam menjembatani ruang birokrasi dan relasi kultural di tingkat komunitas menjadi ujian krusial bagi efektivitas representasi parlemen daerah.

Fenomena ini mengemuka saat Anggota DPRD Kabupaten Ogan Ilir, Royatuddin, membaur bersama masyarakat dalam peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram di Komplek Bumi Indralaya Permai, Kelurahan Timbangan, Kabupaten Ogan Ilir.

Kehadiran politisi muda dari Partai Gerindra ini mencerminkan pergeseran pola pendekatan politik sekuler di Sumatera Selatan, di mana figur-figur muda mulai mengambil alih panggung kepemimpinan formal dengan mengandalkan komunikasi langsung yang cair dan minim sekat protokoler.

Sebagai legislator termuda di Ogan Ilir untuk periode 2024–2029, Royatuddin yang terpilih dari Daerah Pemilihan I menghadapi tantangan nyata untuk mengonsolidasikan basis dukungan di wilayah yang kini padat oleh kelas pekerja baru dan urbanisasi domestik.

Melalui perayaan komunal yang dimulai dengan pengajian ritual, pembacaan Surah Yasin, tahlil, serta doa bersama, ruang pemukiman tersebut dialihfungsikan menjadi arena pencatatan masalah publik secara organik.

Kanalisasi Aspirasi

Kabupaten Ogan Ilir, yang secara administratif mekar sejak dua dekade lalu, secara historis memiliki ketergantungan yang kuat pada figur kepemimpinan yang mengakar pada struktur birokrasi lokal.

Royatuddin, yang merupakan putra dari mantan Sekretaris Daerah Ogan Ilir H. Muhsin Abdullah, berdiri di antara dua kutub tersebut: warisan pemahaman tata kelola pemerintahan yang solid dari sang ayah, dan tuntutan adaptasi zaman dari generasi pemilih muda yang dominan di Dapil I.

Tantangan terbesar di wilayah sub-urban seperti Kelurahan Timbangan bukanlah masalah agraria tradisional, melainkan pemenuhan hak-hak dasar perkotaan yang kerap tertinggal oleh laju pertumbuhan penduduk.

Masalah klasik seperti penyusutan kualitas jalan pemukiman, keterbatasan fasilitas ruang publik ramah anak, hingga sinkronisasi tata kelola sanitasi di komplek perumahan swadaya menjadi keluhan utama yang disampaikan warga secara langsung dalam diskusi informal pasca-doa bersama.

Kanalisasi aspirasi model ini dinilai jauh lebih taktis di tengah kejenuhan publik terhadap mekanisme Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) berjenjang yang kerap dianggap formalitas belaka.

Dengan mencatat langsung beban riil dokumen anggaran di tingkat komunitas, seorang legislator memiliki daya tawar yang lebih empiris saat memperjuangkan alokasi dana pokok-pokok pikiran (pokir) dewan pada rapat komisi bersama mitra eksekutif.

Akulturasi Politik

Dimensi sosiologis lain yang memperkaya perayaan ini adalah pementasan kesenian Kuda Lumping Jaranan Sri Budi Krido Santoso yang digelar segera setelah ritual keagamaan selesai.

Kehadiran seni rakyat Jawa di tengah komunitas Ogan Ilir bukan sekadar urusan hiburan, melainkan sebuah indikator nyata dari hidupnya kantong-kantong kebudayaan migran yang membentuk mosaik sosial Indralaya hari ini.

Dukungan finansial dan kehadiran fisik Royatuddin dalam pementasan jaranan tersebut menegaskan pengakuan politik terhadap pluralisme kultural di wilayah pemilihnya.

Di era di mana identitas sosial sering kali terfragmentasi oleh kontestasi digital, ruang-ruang fisik yang mempertemukan ritus keagamaan dan ekspresi seni tradisional terbukti efektif menjadi peredam ketegangan sosial sekaligus perekat solidaritas warga.

“Pergantian tahun ini harus diletakkan sebagai momentum evaluasi bersama untuk memperbaiki kualitas kehidupan sosial. Pembangunan materiil di daerah tidak akan berjalan stabil tanpa adanya fondasi hubungan antar-manusia yang rukun dan saling mendukung,” ujar Royatuddin.

Melalui pendekatan yang mengombinasikan kepekaan birokrasi, kelenturan kultural, dan komitmen pengawasan di lapangan, anggota dewan muda ini sedang meletakkan standar baru bagaimana fungsi representasi dijalankan.

Bagi Ogan Ilir yang sedang bertumbuh pesat, kehadiran kepemimpinan yang adaptif dan mau mendengarkan langsung di tingkat tapak menjadi prasyarat utama untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah tidak meninggalkan kesejahteraan warga di ruang-ruang pemukiman terkecil. (amdal)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang

Exit mobile version