Suara Komunitas

PGK OKI Soroti Sikap Apatis dan Pudarnya Etika Pengabdian Mahasiswa KKN

Keresahan masyarakat di pelosok Kabupaten Ogan Komering Ilir terkait minimnya kontribusi sosial mahasiswa Kuliah Kerja Nyata memicu reaksi keras dari PGK OKI. Sebagai simpul gerakan pemuda, PGK OKI mendesak adanya evaluasi total terhadap pola interaksi mahasiswa agar program pengabdian tidak terjebak dalam sekat digital yang menjauhkan kaum intelektual dari rakyat.

PGK OKI Soroti Sikap Apatis dan Pudarnya Etika Pengabdian Mahasiswa KKN
PGK OKI Soroti Sikap Apatis dan Pudarnya Etika Pengabdian Mahasiswa KKN. (Dok. Istimewa)

KAYUAGUNG, NUSALY — Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di tengah masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, kini memicu gugatan publik. Alih-alih menjadi katalisator pembangunan desa, sebagian mahasiswa dinilai terjebak dalam sikap pasif dan membatasi diri di dalam posko. Fenomena ini memantik perhatian serius dari Dewan Pimpinan Daerah Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (DPD PGK) Kabupaten OKI sebagai organisasi yang menaungi aktivisme pemuda dan mahasiswa.

Kritik masyarakat yang mengalir dari berbagai desa dan kelurahan di OKI menyasar pada rendahnya intensitas interaksi sosial mahasiswa. Warga menyayangkan sikap para intelektual muda yang kerap terlihat lebih fokus pada gawai dibandingkan membaur dalam kegiatan kemasyarakatan. Padahal, KKN merupakan instrumen krusial dalam menguji sejauh mana ilmu di bangku kuliah dapat diabdikan secara nyata bagi kemaslahatan akar rumput.

Alarm Pengabdian dari PGK OKI

Merespons gelombang kegelisahan warga tersebut, Ketua DPD PGK OKI, Rivaldy Setiawan, SH, menegaskan bahwa suara masyarakat adalah cermin introspeksi yang paling jujur. Menurut PGK OKI, kritik tersebut harus dibaca sebagai harapan masyarakat yang masih tinggi terhadap peran mahasiswa sebagai agen perubahan.

“Suara masyarakat ini harus dihormati dan dilindungi. Kritik yang disampaikan adalah bentuk kepedulian, bukan serangan. Ini adalah alarm bagi mahasiswa KKN agar kembali memahami esensi pengabdian yang sesungguhnya,” tegas Rivaldy saat memberikan keterangan di Kayuagung, Senin (26/1/2026).

PGK OKI menekankan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral sebagai agent of change, agent of control, dan agent of social empowerment. Rivaldy menyoroti bahwa jika kehadiran mahasiswa tidak memberikan manfaat nyata dan gagal melebur dengan tradisi setempat, maka filosofi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diusung dalam program KKN tersebut telah kehilangan ruhnya.

Integritas Kolektif Mahasiswa

Bagi PGK OKI, persoalan etika di lapangan adalah hal fundamental. Sikap apatis mahasiswa di lokasi pengabdian tidak hanya mencederai nama baik institusi pendidikan, tetapi juga mengikis kepercayaan masyarakat terhadap gerakan mahasiswa secara umum. Selain masalah perilaku, PGK OKI juga mencatat adanya ketidakkonsistenan jumlah kehadiran mahasiswa di beberapa titik lokasi KKN yang dilaporkan warga.

“Masyarakat bukan objek KKN, melainkan subjek yang harus dihormati. Jika hanya diam di posko dan sibuk dengan telepon genggam, itu jelas bukan pengabdian. Kritik masyarakat harus dijadikan bahan introspeksi, bukan justru dihindari,” tambah Rivaldy.

PGK OKI mendorong seluruh peserta KKN di wilayah OKI untuk segera melakukan evaluasi mandiri. PGK OKI juga meminta pihak universitas dan dosen pembimbing lapangan untuk memperketat pengawasan agar tidak terjadi pembiaran terhadap mahasiswa yang tidak menjalankan tugas pengabdian secara sungguh-sungguh.

Mengembalikan Marwah Intelektual

Langkah PGK OKI menyuarakan keresahan warga ini menjadi pengingat penting bagi ekosistem pendidikan tinggi di Sumatera Selatan. Di tengah disrupsi teknologi, kemampuan mahasiswa untuk tetap membumi dan mendengarkan suara rakyat adalah kompetensi yang tidak bisa digantikan oleh algoritma manapun.

Keberhasilan KKN, menurut pandangan PGK OKI, tidak selayaknya hanya diukur dari laporan administratif yang tersusun rapi, namun dari seberapa besar dampak sosial dan kedekatan emosional yang tertinggal di tengah masyarakat setelah masa pengabdian usai. Kritik dari warga OKI ini menjadi momentum bagi para mahasiswa untuk kembali menoleh ke belakang, menanggalkan ego akademik, dan mulai menjabat erat tangan rakyat yang mereka layani.

(dhi)

NUSALY Channel

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version