MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --
Sumsel Maju Terus untuk Semua

Kain Ecoprint Biji Pinang Musi Rawas Dilirik Jadi Bahan Seragam Dinas karena Unik dan Ramah Lingkungan

Kain Ecoprint Biji Pinang Musi Rawas Dilirik Jadi Bahan Seragam Dinas karena Unik dan Ramah Lingkungan
Ketua TP PKK Sumsel Hj. Febrita Lustia HD mengapresiasi kreativitas Kelompok Wanita Tani Melati yang sukses melakukan hilirisasi produk fesyen dan pangan berbasis kearifan lokal. Dok. BHP Pemprov Sumsel

Ketua TP PKK Sumsel mengapresiasi kreativitas Kelompok Wanita Tani Melati yang sukses melakukan hilirisasi produk fesyen dan pangan berbasis kearifan lokal

MUSI RAWAS, NUSALY – Inovasi fesyen berkelanjutan berbasis kearifan lokal kini tengah tumbuh subur dari kawasan pedesaan di Kabupaten Musi Rawas.

Memanfaatkan kekayaan vegetasi alam di lingkungan sekitar, sekelompok perempuan kreatif berhasil menyulap biji pinang menjadi pewarna alami untuk kain ecoprint bernilai jual tinggi yang kini mulai dilirik sebagai kandidat bahan seragam dinas instansi pemerintahan.

Potensi besar kerajinan ramah lingkungan tersebut mencuat saat Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sumatera Selatan, Hj. Febrita Lustia HD, melakukan kunjungan kerja ke Rumah Pendidikan dan Keterampilan atau Rumah Dilan Melati.

Dalam kunjungan yang berlangsung di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas pada Rabu (3/6/2026) tersebut, rombongan PKK provinsi meninjau langsung proses produksi tekstil alami yang dikelola oleh warga.

Menurut Febrita, keunikan motif dan corak dari zat pewarna alami biji pinang ini memiliki daya saing yang kuat di industri mode modern. Pola eksklusif yang dihasilkan dari cetakan daun dan bunga organik di atas kain katun atau sutra membuat tiap lembar produk ecoprint dari desa ini tidak akan pernah memiliki kembaran di pasar komersial.

”Kami sangat mengapresiasi inovasi dan kreativitas anggota KWT Melati yang jeli melihat potensi lokal. Dengan dukungan dari Pertamina dan sinergi perangkat daerah, kami berharap produk ecoprint ini bisa menembus pasar yang lebih luas,” ujar Febrita Lustia di sela-sela peninjauan produk unggulan daerah.

Potensi pasar

Melihat tingginya nilai estetika dan filosofi kelestarian alam yang diusung, Febrita menilai hilirisasi kerajinan ini sudah layak naik kelas ke skala industri kreatif nasional. Salah satu langkah konkret yang diwacanakan adalah mendorong pemanfaatan produk ecoprint lokal ini sebagai bahan baku pakaian kerja formal bagi aparatur sipil negara di lingkungan pemda.

Langkah penyerapan produk lokal oleh instansi pemerintah diyakini akan menjadi katalis utama dalam mendongkrak omzet perajin desa secara signifikan. Melalui ekosistem pemasaran yang terstruktur, produk kreatif asal pedalaman Musi Rawas tidak hanya menjadi pajangan pameran, melainkan mampu mengalir secara konsisten ke pasar fesyen retail yang lebih luas.

Pemberdayaan industri kreatif berbasis desa ini juga dinilai menjadi solusi jitu dalam mendorong roda perekonomian dari tingkat akar rumput.

Hilirisasi produk yang dikelola secara kolektif oleh kaum perempuan terbukti efektif memberikan sumber pendapatan alternatif bagi rumah tangga di pedesaan, sekaligus mengurangi ketergantungan ekonomi pada satu sektor komoditas perkebunan utama saja.

Kemandirian warga

Aspek paling menonjol dari Kelompok Wanita Tani atau KWT Melati ini terletak pada komitmen mereka menjaga kemandirian rantai pasok bahan baku. Alih-alih membeli bahan pewarna dan daun dari luar daerah, para anggota kelompok secara mandiri membudidayakan aneka tanaman pendukung di pekarangan rumah dan lingkungan sekitar desa mereka.

Halaman pemukiman warga disulap menjadi kebun produktif yang dipenuhi tanaman bunga kertas, jeruk, hingga jambu yang daunnya menjadi bahan baku utama pemberi motif kain.

Selain fokus pada sektor tekstil sirkular, KWT Melati juga sukses mengembangkan sektor ketahanan pangan keluarga lewat diversifikasi produk minuman herbal instan berupa bandrek jahe pinang muda yang dikemas secara higienis.

Sinergi yang kuat antara kreativitas warga desa dengan pendampingan dari badan usaha milik negara seperti Pertamina diharapkan menjadi percontohan bagi desa lain di Sumatera Selatan.

Melalui pemanfaatan regulasi dan navigasi aturan yang tepat, kelompok usaha kecil di tingkat tapak kini terbukti mampu melahirkan inovasi ramah lingkungan yang siap bersaing di pasar modern. (dhi)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang

Exit mobile version