Kilas Daerah

Langkah Amsakar Achmad Mengonversi Anggaran Pendidikan Menjadi Kualitas Hidup Warga Batam

Langkah Amsakar Achmad Mengonversi Anggaran Pendidikan Menjadi Kualitas Hidup Warga Batam
Wali Kota Batam Amsakar Achmad menerima apresiasi dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kepulauan Riau. (Dok. Diskominfo Batam/Ahmad Nusur)

Di tengah deru industri, Wali Kota Batam Amsakar Achmad memilih jalan investasi manusia dengan mengalokasikan Rp 1,1 triliun APBD untuk sektor pendidikan. Melalui dukungan Program Makan Bergizi Gratis, Batam kini mematok standar baru Indeks Pembangunan Manusia di Kepulauan Riau.

BATAM, NUSALY — Membangun kota industri seperti Batam itu sebenarnya gampang-gampang susah; cukup lebarkan jalan dan permudah izin pabrik, maka uang akan datang sendiri. Namun, Wali Kota Batam Amsakar Achmad tampaknya sedang memainkan permainan yang berbeda. Di saat kota-kota lain sibuk memamerkan aspal, Amsakar justru sibuk urusan dapur dan ruang kelas. Pada Sabtu (14/2/2026) malam, langkah “nyeleneh” ini berbuah pengakuan saat ia menerima apresiasi dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kepulauan Riau.

Penghargaan kategori Dukungan Pemerintah Daerah pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ia terima di Planet Holiday Hotel itu bukan cuma soal plakat. Ini soal keberanian politik. Di hadapan para kepala dinas dan pegiat pendidikan, Amsakar bicara blak-blakan. Baginya, daya saing Batam di masa depan tidak akan ditentukan oleh berapa banyak kontainer yang lewat di pelabuhan, tapi oleh apa yang ada di kepala anak-anak Batam saat ini.

Ia melihat pendidikan bukan sebagai beban pengeluaran, melainkan instrumen radikal untuk memotong rantai kemiskinan yang seringkali jadi kutukan turun-temurun. “Pendidikan adalah jalan paling efektif untuk mengubah hidup, dari yang semula tidak mampu menjadi mampu,” tegas Amsakar. Ia menarik contoh ekstrem: Jepang yang hancur pascaperang bisa bangkit lewat guru, dan Singapura yang tak punya apa-apa bisa jadi raksasa lewat manusia. Itulah kiblat yang ingin ia bawa ke Batam.

Paradoks Populasi

Keberpihakan Amsakar pada pendidikan ini terlihat telanjang di dalam dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Batam punya duit Rp 4,3 triliun, dan gila-gilaan, Amsakar mematok Rp 1,1 triliun—lebih dari 25 persen—hanya untuk urusan pendidikan di periode 2025–2026. Ini jauh melampaui aturan minimal konstitusi. Batam sedang melakukan “perjudian” paling cerdas: menanam modal pada otak anak bangsa.

Duit triliunan itu tidak lari ke gedung-gedung mewah pemerintahan, melainkan langsung ke tubuh siswa. Sebanyak 105.670 stel seragam gratis dibagikan ke siswa SD dan SMP, baik negeri maupun swasta. Ini kebijakan yang langsung “menembak” masalah dapur orang tua murid setiap tahun ajaran baru. Belum lagi urusan beasiswa untuk 2.025 mahasiswa, di mana anak-anak hinterland yang biasanya hanya bisa melihat kemajuan Batam dari kejauhan, kini diberi karpet merah untuk kuliah.

Yang paling ambisius tentu saja Sekolah Terintegrasi Merah Putih atau “Sekolah Garuda” seluas 18 hektare. Konsepnya boarding school, tempat mencetak elit-elit baru Batam dari kalangan manapun. Menariknya, Amsakar berhasil “menodong” pengusaha untuk ikut patungan hingga Rp 150 miliar. Ini bukan sekadar CSR, ini adalah model kerja sama yang membuktikan bahwa sektor privat mulai sadar kalau mereka butuh tenaga kerja lokal yang kompeten, bukan cuma buruh kasar.

Ketahanan Gizi

Lalu ada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Di Batam, Amsakar mengeksekusinya tidak sekadar bagi-bagi nasi kotak. Ia paham betul realitas di lapangan: otak tidak akan jalan kalau perut keroncongan. MBG di Batam didesain jadi mesin ekonomi baru.

Dapur-dapur mandiri dibangun di tingkat lokal, sayurnya dari petani lokal, dagingnya dari peternak lokal. “Kami mengawal agar pelaksanaannya berdampak langsung pada kesehatan siswa sekaligus menggerakkan ekonomi lokal,” ujar Amsakar. Ini adalah cara cerdik untuk memastikan uang negara berputar di kantong rakyat Batam sendiri, bukan lari ke distributor besar dari luar daerah.

Secara sosiologis, jaminan gizi di sekolah ini adalah benteng utama melawan stunting di kota yang tingkat heterogenitasnya tinggi. Batam ingin memastikan bonus demografi tidak jadi beban di masa depan gara-gara anak-anaknya kurang gizi dan telat mikir. Dengan perut kenyang dan asupan protein yang cukup, konsentrasi belajar otomatis naik. Batam sedang membangun pondasi kesehatan nasional dari meja-meja kantin sekolah.

Akselerasi IPM

Hasil dari “keborosan” anggaran untuk manusia ini sebenarnya sudah bisa dilihat di data statistik. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Batam sekarang tembus 83,8. Itu angka tertinggi di Kepulauan Riau dan masuk jajaran elit di Sumatera. IPM bukan angka kosong; itu adalah gabungan dari keberhasilan urusan kesehatan, pendidikan, dan berapa banyak uang yang bisa dibelanjakan warga.

Amsakar tentu senang dengan angka 83,8 itu, tapi ia tidak mau jajarannya mabuk prestasi. Ia justru minta evaluasi terus dijalankan, terutama untuk akses pendidikan di pulau-pulau terluar yang selama ini sulit dijangkau. Bagi Amsakar, Batam tidak boleh hanya maju di Batam Centre atau Nagoya saja; anak-anak di pulau terpencil pun harus punya kesempatan yang sama untuk jadi apa saja.

Sinergi dari seragam gratis, beasiswa, sekolah unggulan, sampai gizi harian ini menciptakan sebuah ekosistem yang inklusif. Amsakar Achmad sedang membuktikan bahwa di tengah kepungan industri global, Batam tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai kota yang memanusiakan manusia. Tantangan terbesarnya sekarang adalah menjaga konsistensi. Jika ini terus berjalan, jangan heran kalau sepuluh atau dua puluh tahun lagi, anak-anak Batam adalah mereka yang memegang kendali industri di kawasan Asia Tenggara.

(ger)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version