Kehadiran Danau Biru di Desa Tanjung Pering, Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, seolah menjadi jawaban atas dahaga warga akan destinasi wisata yang estetik sekaligus terjangkau.
“Cantik sekali, ya. Padahal ini tadinya cuma lahan bekas galian,” gumam Uliyah (25), warga Tebing Gerinting, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Matanya menyapu permukaan air yang memantulkan warna biru langit dengan sempurna, nyaris tanpa riak, kontras dengan gundukan pasir putih yang memagari sekelilingnya.
Matahari tepat di atas kepala saat Uliyah bersama keluarganya menggelar bekal makan siang di bawah naungan pondok bambu beratap rumbia, Sabtu (20/12/2025).
Bagi mereka, perjalanan ke Desa Tanjung Pering, Indralaya Utara, ini bukan sekadar wisata; ini adalah upaya menjemput kesegaran di tengah rutinitas yang menyesakkan.
”Jatuh cinta pada pandangan pertama. Cocok banget buat healing dari rutinitas kota,” tambahnya sembari menikmati semilir angin yang masuk dari celah tiang-tiang bambu yang masih beraroma kayu basah.
Fenomena Danau Biru Indralaya memang unik. Ia tidak lahir dari proses vulkanik ribuan tahun silam, melainkan jejak aktivitas manusia—bekas galian tambang pasir yang kemudian terisi air hujan.
Proses mineralisasi alami mengubah airnya menjadi gradasi biru toska yang estetik. Di sana, awan-awan putih serupa kapas di langit seolah pindah ke permukaan danau, menciptakan refleksi simetris yang memanjakan mata, memberikan kesan bahwa langit dan bumi sedang bersentuhan dalam hening.
Kepopulerannya melesat seiring kemudahan akses. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit dari pintu keluar Tol Palembang-Indralaya (Palindra), para pelancong sudah bisa menukar bising klakson dengan pemandangan kapal-kapal kayu bermotif naga yang bersandar tenang di dermaga kayu yang kokoh.
Jaraknya yang relatif dekat dari Palembang—sekitar satu jam perjalanan—menjadikannya pilihan tepat untuk short escape atau pelarian singkat di akhir pekan tanpa perlu biaya transportasi yang mahal.
Menaklukkan Keramaian
Kendati baru melakukan soft opening, magnet Danau Biru sudah terasa kuat. Pada musim liburan, bibir danau bisa berubah menjadi hamparan manusia yang berburu konten Instagrammable. Namun, bagi mereka yang mendambakan suasana privat bagai milik sendiri, strategi “Golden Hours” adalah kuncinya.
”Kalau mau dapat momen tenang dan cahaya matahari yang lembut, datanglah pukul 06.30 sampai 08.00 WIB,” tutur Nurcholis, mahasiswa Universitas Sriwijaya yang kini menjadi pengunjung reguler.
Menurutnya, pada jam tersebut, udara masih sejuk dan cahaya matahari pagi (soft light) akan membuat warna biru air danau terlihat lebih natural serta indah di kamera, jauh sebelum wisatawan lokal mulai memadati lokasi pada puncaknya pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.
Bagi yang rela berjalan lebih jauh menyusuri pinggiran danau, masih tersisa sudut-sudut hidden gem yang jauh dari keriuhan suara mesin wahana air.
Mayoritas pengunjung cenderung menumpuk di area swafoto yang paling dekat dengan area parkir atau pintu masuk utama.
Padahal, dengan berjalan sedikit memutari gundukan pasir putih, wisatawan bisa menemukan ketenangan yang lebih absolut untuk sekadar duduk dan menikmati angin sepoi-sepoi, menyegarkan pikiran di area yang luas.
Persiapan mandiri juga menjadi pembeda kenyamanan. Membawa bekal sendiri dari rumah sangat disarankan untuk menghemat waktu daripada harus mengantre di warung saat puncak kunjungan.
Selain itu, menyiapkan uang tunai pas untuk parkir dan tiket masuk sebesar Rp 10.000 tetap menjadi langkah bijak, mengingat transaksi digital terkadang terkendala sinyal yang belum stabil di titik-titik tertentu.
Oase di Lahan Bekas
Daya tarik Danau Biru kini bukan lagi sekadar pemandangan diam yang dipotret dari kejauhan. Pengelola yang terdiri dari warga lokal telah menyulap kawasan ini menjadi wahana rekreasi berkelanjutan di atas lahan bekas tambang pasir.
Di dermaga, deretan perahu kayu berwarna biru mencolok siap mengantar pengunjung membelah tenangnya air. Terdapat pula wahana banana boat, donut boat, hingga kapal bermotif naga yang bisa menampung hingga 10 orang, serta pondok berjalan yang mengapung unik di atas danau.
Dewi, wisatawan asal Jakarta, mengaku terkesan dengan efisiensi pengelolaannya yang modern di tengah alam.
”Aksesnya mudah, hanya 15 menit dari tol. Wahana kapal naganya seru, dan sistem pembayaran cashless untuk kapal membuat prosesnya lancar tanpa ribet,” ujarnya.
Baginya, Danau Biru bukan sekadar destinasi, melainkan bukti bahwa potensi wisata daerah bisa dikelola dengan standar kenyamanan yang baik, ditunjang pemandangan alam yang epik.
Di balik kegembiraan wahana air yang hilir mudik, terselip harapan tentang masa depan kawasan ini sebagai ikon wisata baru Sumatera Selatan.
Transformasi lahan bekas tambang ini menjadi aset produktif bagi warga Desa Tanjung Pering adalah contoh nyata rehabilitasi lingkungan yang berkelanjutan.
Kehadiran banyak tenant makanan dengan pilihan menu beragam dan harga terjangkau turut menghidupkan ekonomi lokal di sekitar danau.
Pentingnya menjaga keindahan dan kelestarian alam menjadi catatan bagi Nurcholis dan pengunjung lainnya agar destinasi ini tetap dapat dinikmati generasi mendatang.
Dengan sekali mendayung, pengunjung juga bisa menyambangi destinasi ikonik lainnya di Ogan Ilir, seperti Jembatan Pesona Tanjung Senai atau berburu kuliner Pindang Pegagan yang otentik.
Pada akhirnya, Danau Biru Indralaya memberikan pesan bahwa keindahan sering kali lahir dari tempat-tempat yang tak terduga—bahkan dari bekas luka galian yang ditinggalkan manusia.
Siapa pun yang pernah duduk diam di bawah atap rumbia sambil memandang refleksi awan di sini, mungkin akan setuju bahwa sulit untuk tidak berpaling dari oase biru yang menenangkan di tanah Ogan Ilir ini.
(dhi)
NUSALY Channel
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
