Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan bahwa kapasitas pemimpin sejati lahir dari kematangan jam terbang dan penguasaan rincian persoalan di lapangan
PALEMBANG, NUSALY – Komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dalam mencetak aparatur sipil negara yang berintegritas dan visioner terus diperkuat. Langkah ini diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam merumuskan strategi pengembangan kompetensi kepemimpinan di tingkat nasional.
Visi pembangunan sumber daya manusia tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru. Ia memberikan arahan strategis dalam forum Penjelasan Penilaian Sikap Perilaku dan Strategi Pengembangan Diri bagi para mentor Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan LXVII.
Kegiatan yang berlangsung secara virtual tersebut diikuti dari Sumsel Command Center, Palembang. Melalui momentum ini, Pemprov Sumsel menegaskan peran penting mentor dalam membentuk karakter pemimpin yang adaptif terhadap dinamika zaman.
Kuasai lapangan
Dalam arahannya, Herman Deru menekankan bahwa sebuah kepemimpinan yang efektif tidak dapat tumbuh secara instan hanya berdasarkan bakat atau potensi akademis semata. Bakat kepemimpinan harus diasah melalui benturan pengalaman dan interaksi langsung dengan realitas sosial.
Seorang pemimpin masa depan membutuhkan akumulasi jam terbang yang matang agar mampu mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan terukur. Karakter kuat seorang nakhoda organisasi diuji dari cara mereka mengelola situasi krisis tanpa meremehkan aspek sekecil apa pun.
“Kepemimpinan itu membutuhkan pengalaman. Seorang pemimpin harus menguasai lapangan dan tidak boleh menganggap sepele apa pun,” ujar Herman Deru.
Hargai hirarki
Selain penguasaan lapangan, tata kelola birokrasi yang solid juga menuntut kepatuhan terhadap jalannya roda organisasi. Herman Deru mengingatkan pentingnya menjaga fungsi hirarki struktural sebagai saluran komunikasi dan koordinasi yang sehat.
Pemimpin yang bijak adalah mereka yang senantiasa membuka diri terhadap berbagai masukan dan kritik konstruktif. Terutama masukan yang datang dari jajaran staf di tingkat bawah yang membidangi tugas-tugas teknis dan operasional secara harian.
“Kepemimpinan itu ada hirarkinya, sehingga kita membutuhkan banyak masukan dari berbagai pihak, terutama dari para pemimpin di bawah yang membidangi tugas tertentu,” katanya menjelaskan.
Pemahaman yang komprehensif terhadap berbagai sektor horizontal menjadi modal dasar yang wajib dimiliki. Meskipun tidak dituntut menjadi ahli dalam setiap bidang, seorang pemimpin harus mampu melihat gambaran besar dari setiap persoalan sebagai fondasi utama dalam merumuskan kebijakan publik.
Bibit dan bobot
Kualitas akhir dari sebuah kepemimpinan nasional pada dasarnya merupakan hasil perpaduan yang selaras antara potensi bawaan, kapasitas intelektual, dan kekayaan pengalaman empiris. Kombinasi elemen-elemen inilah yang menentukan efektivitas arah kebijakan yang dilahirkan.
Filosofi penguatan kapasitas ini menjadi pesan penutup yang kuat bagi para peserta dan mentor pelatihan kepemimpinan. Pemprov Sumsel berharap nilai-nilai kematangan ini dapat diadopsi secara luas demi terciptanya reformasi birokrasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Menjadi pemimpin itu bukan hanya bibit, tapi juga harus memiliki bobot,” kata Herman Deru menegaskan.
Dalam agenda strategis tersebut, Gubernur turut didampingi oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan Edward Candra serta Kepala Dinas Kominfo Provinsi Sumatera Selatan Rika Efianti. Kehadiran para pejabat teras ini mempertegas keseriusan pemda dalam mengawal agenda pengembangan kompetensi kepemimpinan nasional. (ril/dhi)
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang
