Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin kini berupaya keras membentengi ekonomi akar rumput. Strateginya bukan lewat jargon rumit, melainkan aksi nyata: mendesak warga kembali meramaikan pasar rakyat dan memborong produk UMKM lokal.
SEKAYU, NUSALY – Di tengah gempuran ritel modern dan belanja daring, wajah ekonomi asli Musi Banyuasin (Muba) sebenarnya masih tertumpu pada meja-meja kayu di pasar tradisional. Bagi Bupati Muba H. M. Toha Tohet, S.H., pasar rakyat bukan sekadar tempat tukar guling uang dan barang, melainkan benteng terakhir pertahanan ekonomi kerakyatan.
Jumat (13/3/2026), Toha melontarkan ajakan yang lebih terasa seperti instruksi moral bagi jajarannya. Ia meminta para pejabat hingga masyarakat umum untuk tidak lagi memunggungi pasar tradisional. Memprioritaskan belanja di sana dianggap sebagai langkah paling konkret untuk memastikan uang tetap berputar di kantong warga sendiri, bukan menguap ke luar daerah.
”Gerakan belanja di pasar tradisional memiliki peran penting dalam mendukung perputaran ekonomi rakyat. Ini bukan cuma soal transaksi, tapi soal ruang interaksi sosial yang menjadi fondasi ekonomi kita selama ini,” tegas Toha saat meninjau denyut pasar di Sekayu.
Efek Domino ke Akar Rumput
Pilihan masyarakat untuk menenteng keranjang belanja ke pasar rakyat punya dampak instan yang tidak main-main. Toha menjelaskan, setiap rupiah yang dikeluarkan warga di sana menjadi napas bagi pedagang sayur, penjual daging, hingga pelaku UMKM lokal yang selama ini menjadi tulang punggung sektor informal daerah.
Aktivitas ekonomi yang konsisten di tingkat lokal inilah yang bakal menjaga stabilitas daya beli masyarakat Muba. Pemkab Muba pun kini pasang badan lewat kampanye masif gerakan belanja di pasar rakyat. Tujuannya satu: membangun kesadaran kolektif agar pasar tradisional kembali menjadi pilihan utama di meja makan setiap rumah tangga, bukan lagi sekadar pilihan cadangan.
”Kami mengajak seluruh warga dukung penuh pelaku UMKM. Semakin ramai pasar tradisional, semakin kuat pula otot ekonomi rakyat kita,” ujar pria yang kerap terlihat berdialog langsung dengan para pedagang kaki lima ini.
Multiplier Effect dan Kemandirian
Toha menyoroti apa yang ia sebut sebagai multiplier effect atau efek berganda dari sektor UMKM. Selain mendongkrak pendapatan langsung pedagang, geliat di pasar tradisional terbukti ampuh membuka celah lapangan kerja baru bagi warga sekitar. Inilah esensi dari kemandirian ekonomi yang bertumpu pada kebersamaan masyarakat.
Visi besar Pemkab Muba adalah membangun daerah yang mandiri, di mana perekonomiannya tidak rapuh oleh dinamika global karena didukung oleh partisipasi lokal yang kuat. Jika warga kompak menyerap produk tetangganya sendiri, roda ekonomi Muba diyakini akan bergerak jauh lebih kencang dari sebelumnya.
Meningkatnya partisipasi masyarakat menjadi target jangka pendek pemerintah untuk mendongkrak kesejahteraan keluarga secara luas. Toha optimistis, jika pasar rakyat kembali hidup, maka struktur ekonomi daerah akan kian solid dan tidak gampang goyah.
”Jika pasar tradisional hidup dan UMKM berkembang, maka ekonomi daerah otomatis ikut kuat. Inilah semangat kita untuk mewujudkan Musi Banyuasin yang maju lebih cepat dan masyarakatnya jauh lebih sejahtera,” pungkas Toha. (*/dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
