Kesehatan

Menitipkan Masa Depan Otak Anak Empat Lawang pada Langkah ABCDE

Menitipkan Masa Depan Otak Anak Empat Lawang pada Langkah ABCDE
Puskesmas Padang Tepong Empat Lawang meluncurkan inovasi Ayuk Ting Ting berbasis langkah ABCDE untuk menekan angka stunting di pelosok desa. Dok. Heryawan/Nusaly.com

Puskesmas Padang Tepong di Ulu Musi meluncurkan inovasi berbasis pemberdayaan masyarakat untuk menekan angka tengkes dengan memanfaatkan popularitas istilah lokal guna menggerakkan disiplin gizi.

EMPAT LAWANG, NUSALY – Perjuangan memotong rantai tengkes atau stunting di kawasan pelosok Sumatera Selatan menuntut kreativitas tanpa batas dari para tenaga kesehatan di garda terdepan.

Di Kecamatan Ulu Musi, Kabupaten Empat Lawang, sebuah pendekatan komunikasi publik yang unik dan populer sengaja diadopsi demi meruntuhkan dinding apatisme warga terhadap pemenuhan gizi anak.

Memanfaatkan istilah yang akrab di telinga masyarakat luas, program intervensi klinis kini dikemas agar lebih membumi dan mudah dipraktikkan di dalam rumah tangga.

Langkah taktis tersebut diwujudkan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Padang Tepong melalui peluncuran program unggulan berkala.

Inovasi yang kini rutin bergerak di setiap posyandu tersebut menyasar langsung akar persoalan utama stunting, yakni rendahnya kedisiplinan pemantauan kesehatan pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Dinas kesehatan tingkat kecamatan ini menyadari bahwa penanganan stunting bukan sekadar membagikan paket makanan tambahan secara instan.

Lebih dari itu, intervensi terbaik adalah membangun kesadaran mandiri pada tingkat keluarga yang sering kali terkendala oleh keterbatasan akses informasi akurat.

Mengemas Edukasi Klinis Lewat Istilah Populer

Inovasi yang digulirkan oleh para tenaga kesehatan di wilayah perbatasan ini dinamakan gerakan Ayuk Ting Ting, yang merupakan akronim dari Ayo Cegah Stunting.

Program kolaboratif berbasis pergerakan kader dan bidan desa ini difokuskan pada tiga pilar utama, yaitu edukasi masif, pemantauan status gizi secara berkala, serta deteksi dini risiko tengkes pada bayi.

Kepala UPTD Puskesmas Padang Tepong Herlina menjelaskan bahwa target utama dari investasi kesehatan jangka panjang ini adalah kelompok ibu hamil dan anak balita.

Strategi pergerakannya sengaja dibuat aktif dengan menjemput bola ke desa-desa guna memastikan tidak ada ibu hamil yang luput dari pengawasan medis.

“Kami menggerakkan tim yang solid di lapangan, mulai dari petugas bidan desa, ahli gizi, hingga kader kesehatan posyandu dengan dukungan penuh dari perangkat desa setempat. Tujuannya adalah mengajak ibu hamil dan ibu balita untuk disiplin datang ke posyandu setiap bulan,” kata Herlina saat mengonfirmasi pergerakan timnya di Empat Lawang.

Dalam praktiknya, kampanye edukasi ini disederhanakan menjadi rumus praktis yang disebut Langkah ABCDE. Metode ini disusun secara runut untuk mempermudah para ibu memahami tahapan intervensi gizi sejak masa konsepsi hingga anak berusia dua tahun.

Ayuk Ting Ting ayok Cegah Stunting dengan ABCDE. Dok Puskesmas Padang Tepong Empat Lawang

Lima Formula Penyelamat Generasi Emas

Rumus ABCDE yang menjadi roh dari inovasi lokal ini memuat panduan ketat bagi pemeliharaan kesehatan ibu dan anak. Langkah pertama diawali dengan huruf A, yaitu aktif minum tablet tambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil untuk memotong risiko anemia yang menjadi pemicu utama kelahiran bayi tengkes.

Langkah kedua atau B, mewajibkan ibu hamil teratur memeriksakan kandungan minimal enam kali selama masa kehamilan. Pemeriksaan ini juga mensyaratkan sedikitnya dua kali uji penapisan ultrasonografi atau USG oleh dokter guna memantau pertumbuhan janin secara akurat.

Selanjutnya, huruf C menekankan pentingnya mencukupi konsumsi protein hewani setiap hari seperti telur, ikan, dan daging, baik untuk konsumsi ibu hamil maupun sebagai makanan pendamping ASI bagi bayi di atas usia enam bulan.

Sementara huruf D, mewajibkan orang tua datang ke posyandu setiap bulan untuk memantau pertumbuhan fisik dan mendeteksi keterlambatan perkembangan anak sejak dini.

Formula ini ditutup dengan langkah E, yakni pemberian air susu ibu atau ASI eksklusif selama enam bulan penuh tanpa makanan pendamping apa pun, yang kemudian dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun.

Otoritas kesehatan setempat mengingatkan masyarakat bahwa dampak buruk stunting tidak hanya merugikan pertumbuhan fisik anak secara visual.

Kerugian terbesar yang tidak bisa dipulihkan adalah terhambatnya perkembangan kognitif dan jaringan otak anak, yang dalam jangka panjang akan menurunkan kualitas sumber daya manusia daerah.

Melalui disiplin mandiri di tingkat keluarga, gerakan dari pinggiran Empat Lawang ini diharapkan mampu melahirkan generasi baru yang lebih sehat dan cerdas. (wan)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang

Exit mobile version