Satgas Karhutla Sumsel mengandalkan operasi udara untuk menjangkau lokasi kebakaran yang sulit ditembus dari darat. Sebanyak enam helikopter water bombing dari APP Group menjadi bagian dari dukungan operasi tersebut.
PALEMBANG, NUSALY.COM – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan terus dilakukan melalui operasi darat dan udara. Dukungan dari udara dibutuhkan terutama untuk menjangkau lokasi kebakaran yang jauh dari akses darat maupun sumber air.
Komandan Lanud Sri Mulyono Herlambang Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya mengatakan operasi penanggulangan karhutla telah berlangsung sejak Sumsel menetapkan status siaga darurat. Operasi udara berada dalam koordinasi Satgas Operasi yang dipimpin Danrem 044/Garuda Dempo Brigjen TNI Khabib Mahfud.
Sekitar 12.285 personel gabungan dikerahkan dalam Satgas Karhutla Sumsel. Dari unsur udara, Lanud Sri Mulyono Herlambang mengoperasikan sekitar delapan helikopter untuk patroli dan water bombing. Selain itu, APP Group mendukung operasi dengan enam helikopter water bombing.
“Alhamdulillah, keberadaan water bombing di Sumsel cukup, terutama untuk menyirami lahan yang terbakar di lokasi yang jauh di dalam dan tidak bisa ditembus oleh satgas darat. Apalagi jika lokasi kebakaran jauh dari sumber air, penanganannya tentu lebih sulit melalui jalur darat,” ujar Asep, Jumat (25/9/2026).
Menjangkau Lokasi yang Sulit dari Darat
Menurut Asep, enam helikopter water bombing yang didukung APP Group turut membantu memperkuat operasi udara. Penggunaannya dilakukan berdasarkan koordinasi dengan Satgas sehingga pergerakan armada dapat dipantau.
“Setiap akan memberangkatkan helikopter water bombing, pihak APP Group selalu berkoordinasi dan melaporkan kepada kami sehingga pergerakannya bisa dimonitor. Bantuan ini sangat membantu karena menambah armada satgas di udara,” katanya.
Operasi water bombing tidak hanya diarahkan ke titik api. Air juga digunakan untuk membasahi area di sekitar lokasi kebakaran sebagai upaya menghambat penjalaran api.
Menurut Asep, langkah tersebut dibutuhkan untuk membantu melindungi permukiman masyarakat, perkebunan warga, kawasan Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan, serta area lain yang berpotensi terdampak kebakaran.
Untuk mendukung operasi udara, Satgas memetakan sumber air yang dapat digunakan helikopter, mulai dari sungai, danau, kanal hingga embung.
Pemetaan dilakukan antara lain saat patroli udara bersama Gubernur Sumsel Herman Deru dan Bupati Ogan Komering Ilir. Dalam pemantauan tersebut, tim menemukan kanal di salah satu areal konsesi APP Group yang berpotensi digunakan sebagai sumber air untuk water bombing.
“Kita melihat ada parit di antara lahan tanaman yang bisa menjadi sumber air untuk heli water bombing. Kita meminta agar akses pengambilan airnya diperluas untuk memudahkan penggunaan Bambi Bucket, dan respons APP Group sangat baik. Dengan demikian, kita bisa menambah sumber air untuk mendukung pemadaman karhutla,” ujar Asep.
Dukungan Darat hingga Modifikasi Cuaca
Dukungan terhadap penanganan karhutla tidak hanya berasal dari operasi udara. APP Group juga disebut memberikan sarana untuk operasi darat, antara lain pompa air, sambunesia, serta perlengkapan pemadaman lainnya.
Asep mengatakan dukungan tersebut juga mencakup pengendalian karhutla hingga radius 5 kilometer dari batas konsesi sesuai ketentuan yang berlaku.
Di sisi lain, Satgas Karhutla Sumsel juga mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu pengendalian kondisi kebakaran.
Hingga September 2026, OMC telah dilakukan dalam beberapa tahap dengan menyesuaikan kondisi dan ketersediaan awan. Menurut Asep, operasi tersebut dilakukan sejak periode awal musim kemarau dan kembali diintensifkan ketika kondisi awan memungkinkan.
Dalam beberapa hari terakhir, OMC turut mendukung turunnya hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah wilayah.
Selain operasi darat, water bombing, patroli udara, dan OMC, Satgas juga mengerahkan tim penyuluh ke sejumlah kabupaten untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan kebakaran serta larangan membuka lahan dengan cara membakar.
Penanganan karhutla di Sumsel dengan demikian tidak hanya bergantung pada pemadaman ketika api muncul, tetapi juga pada kemampuan menjangkau lokasi yang sulit, ketersediaan sumber air, pencegahan penjalaran api, dan upaya mengurangi risiko kebakaran sejak dari masyarakat. (dhi)
