Ruang praktik SMK Bina Bangsa Kayuagung bertransformasi menjadi bengkel filantropi. Di balik meja-meja kerja, para siswa merakit ribuan HoLoW LED untuk menerangi masjid dan mushala, mengubah teori elektronika menjadi pengabdian nyata di bulan suci.
KAYUAGUNG, NUSALY – Bau timah yang terbakar samar-samar tercium di antara deru kipas angin di ruang Teaching Factory (TeFA) SMK Bina Bangsa Kayuagung, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Ujung solder yang panas bertemu dengan papan sirkuit, meninggalkan titik-titik perak yang menghubungkan aliran listrik ke deretan lampu mungil.
Di sana, sejumlah siswa dengan teliti memasang satu per satu komponen HoLoW LED, sebuah jenama lampu hemat energi yang lahir dari ketekunan mereka di ruang kelas.
Ramadhan 1447 Hijriah ini, sekolah tersebut tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu akademik. Melalui program tahunan TeFA, SMK Bina Bangsa memilih cara berbeda untuk memaknai bulan puasa: membagikan terang ke rumah-rumah ibadah.
Sebanyak 50 paket lampu berukuran 15 Watt dan 25 Watt disiapkan untuk disedekahkan ke berbagai masjid dan mushala di wilayah Kayuagung dan sekitarnya.
Pagi itu, Jumat (6/3/2026), aktivitas di laboratorium jurusan Teknik Komputer dan Jaringan tampak lebih sibuk dari biasanya. Para siswa tidak sedang mengejar nilai ujian, melainkan memastikan setiap unit HoLoW LED yang mereka rakit mampu berpijar sempurna sebelum dimasukkan ke dalam kotak kemasan jenama kebanggaan mereka.
Kepala SMK Bina Bangsa Kayuagung Ahmad Bermawi menjelaskan, inisiatif ini merupakan bagian dari program unggulan yang sudah memasuki tahun kedua pelaksanaan sejak 2025. Kali ini, aksi sosial tersebut dibalut dalam tema besar “Berbagi Terang di Bulan Ramadhan bersama lampu HoLoW LED”.
Bagi Ahmad Bermawi, sekolah kejuruan harus mampu menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat melalui produk inovasi yang nyata manfaatnya.
“Kami ingin menyemarakkan bulan suci dengan sesuatu yang bermanfaat jangka panjang. Melalui program TeFA ini, kami sampaikan rasa syukur dan terima kasih dengan memberi terang dan bersinar kepada masjid-masjid agar ibadah jamaah menjadi lebih nyaman,” ujar Ahmad Bermawi.
Hilirisasi Inovasi
Lampu HoLoW LED bukan sekadar produk rakitan biasa yang menempelkan jenama pada barang jadi. Produk ini adalah hasil riset panjang yang telah membawa nama SMK Bina Bangsa Kayuagung menembus jajaran 7 besar inovasi nasional.
Di ruang-ruang praktik inilah, hilirisasi teknologi benar-benar terjadi. Setiap tahunnya, para siswa mampu memproduksi lebih dari 1.000 unit lampu yang telah dipasarkan ke berbagai institusi pendidikan di Sumatera Selatan.
Proses produksinya melibatkan standar industri yang ketat. Para siswa diajarkan untuk memahami karakteristik daya, ketahanan komponen terhadap panas, hingga efisiensi pendaran cahaya. Hilirisasi ini bahkan sempat menarik perhatian dunia akademik hingga terjalin kerja sama strategis untuk meruntuhkan sekat antara teori di sekolah dan kebutuhan riil di masyarakat.
Ahmad Bermawi menekankan, keberhasilan produk ini merupakan bukti bahwa SMK di daerah memiliki potensi besar untuk bersaing di kancah nasional jika dikelola dengan visi industri. “Anak-anak didorong untuk tidak sekadar menjadi konsumen teknologi. Mereka adalah perakit, penguji, sekaligus pengelola usaha melalui Koperasi & Usaha Mikro TeFA yang kami miliki,” tambahnya.
Magnet Pendidikan Bermutu
Bagi masyarakat di Ogan Komering Ilir, eksistensi SMK Bina Bangsa kini menjadi barometer baru dalam dunia pendidikan vokasi. Orang tua siswa mulai melirik sekolah ini bukan hanya karena fasilitasnya, melainkan karena output nyata yang dihasilkan.
Di saat banyak sekolah menengah masih berkutat pada metode belajar konvensional, SMK Bina Bangsa Kayuagung sudah melangkah pada pemberdayaan ekonomi berbasis keahlian.
Konsep Teaching Factory yang diterapkan membuat sekolah terasa seperti miniatur perusahaan. Siswa belajar tentang manajemen produksi, kontrol kualitas, hingga etika kerja profesional. Pengalaman ini menjadi modal berharga bagi lulusannya untuk langsung terserap di dunia kerja atau bahkan membuka lapangan usaha mandiri sebagai teknisi maupun wirausahawan lampu LED.
Program sedekah lampu di bulan Ramadhan ini pun menjadi ajang pembuktian kualitas produk kepada khalayak luas. Saat lampu-lampu karya siswa ini menerangi saf-saf shalat di masjid, secara tidak langsung masyarakat menjadi saksi atas mutu pendidikan yang diterapkan di SMK tersebut.
“Ini adalah cara kami berkomunikasi dengan masyarakat. Bahwa pendidikan vokasi di Kayuagung sudah sejauh ini perkembangannya,” tutur Bermawi.
Membangun Karakter
Lebih dari sekadar membagikan benda fisik, gerakan “Berbagi Terang di Bulan Ramadhan bersama lampu HoLoW LED” ini menyasar penguatan karakter siswa. Ramadhan dipandang sebagai momentum emas untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian sosial di tengah kesibukan mengasah keterampilan teknis. Siswa diajarkan bahwa keahlian teknologi yang mereka miliki harus memiliki dampak sosial.
Penyaluran 50 paket lampu ini pun dirancang agar tepat sasaran, menyisir mushala-mushala di pinggiran kota yang mungkin masih terkendala dengan pencahayaan yang kurang memadai. Keterlibatan aktif staf TeFA memastikan setiap unit yang keluar dari gudang tercatat sebagai bagian dari pembelajaran kewirausahaan yang akuntabel.
Cahaya putih dari HoLoW LED yang kini mulai menghiasi langit-langit masjid di Kayuagung adalah representasi dari masa depan pendidikan vokasi yang cerah. Di bawah kepemimpinan Ahmad Bermawi, SMK Bina Bangsa tidak hanya sedang menerangi bangunan fisik, tetapi juga sedang menyalakan api harapan bagi generasi muda di Ogan Komering Ilir agar berani berinovasi dan bermanfaat bagi umat.
Kelas tak lagi sekadar tempat menghafal rumus, tetapi ruang bagi siswa untuk merangkai terang dan menebar manfaat. Di setiap pijar lampu yang terpasang, ada doa dan kebanggaan anak-anak SMK yang berhasil membuktikan bahwa karya mereka mampu menjadi bagian dari kenyamanan ibadah di bulan suci. (dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
