Pendidikan

Meruntuhkan Sekat Akademik Melalui Hilirisasi Hollow LED SMK Bina Bangsa Kayuagung Bersama UIN Raden Fatah

Meruntuhkan Sekat Akademik Melalui Hilirisasi Hollow LED SMK Bina Bangsa Kayuagung Bersama UIN Raden Fatah
Dekan Dr. H. Muhammad Isnaini, S.Ag, M.Pd Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Raden Fatah Palembang tidak ragu menyebut produk Hollow LED sebagai "embrio inovasi" yang memiliki energi luar biasa. (Dok. Istimewa)

Di balik gemerlap lampu Hollow LED karya siswa SMK Bina Bangsa, tersimpan ambisi besar untuk memutus rantai ketergantungan teknologi. Kehadiran jajaran Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang di Kayuagung menjadi sinyal bahwa riset kampus kini menjemput bola ke ruang-ruang praktik sekolah.

KAYUAGUNG, NUSALY – Selama ini, dunia pendidikan kita seolah dipisahkan oleh tembok tebal. SMK sering kali hanya dipandang sebagai pabrik tenaga kerja, sementara perguruan tinggi asyik dengan menara gading risetnya sendiri. Namun, di sebuah ruang praktik di Kayuagung, tembok itu mulai retak. Produk Hollow LED, lampu rakitan siswa SMK Bina Bangsa yang sempat menyentak panggung nasional, kini bukan lagi sekadar proyek sekolah, melainkan menjadi titik temu bagi kolaborasi intelektual tingkat tinggi.

Langkah nyata ini ditandai dengan kedatangan rombongan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Raden Fatah Palembang yang dipimpin langsung oleh Dekan Dr. H. Muhammad Isnaini, S.Ag, M.Pd. Kehadirannya yang memboyong seluruh jajaran pimpinan fakultas menunjukkan bahwa kunjungan ini bukanlah seremoni administratif yang kering. Ini adalah upaya untuk menjahit kembali mata rantai inovasi yang selama ini terputus antara pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

Dr. Muhammad Isnaini tidak ragu menyebut produk Hollow LED sebagai “embrio inovasi” yang memiliki energi luar biasa. Di mata Isnaini, apa yang dilakukan siswa SMK Bina Bangsa telah melampaui doktrin pendidikan vokasi lama.

“Mereka telah bergeser dari ‘belajar untuk bekerja’ menuju ‘belajar untuk mencipta’. Inilah ruh dari kemandirian teknologi yang kita impikan,” tegasnya saat menyaksikan proses produksi lampu yang telah menembus pasar hingga seribu unit per tahun tersebut.

Infografis Hollow LED SMK Bina Bangsa Kayuagung. Dok. Nusaly.com

Dari Ruang Praktik ke Laboratorium Riset

Meski Hollow LED telah meraih peringkat ke-7 dari ratusan SMK se-Indonesia, perjalanan produk ini tidak boleh berhenti pada piagam penghargaan. Tantangan sesungguhnya adalah standardisasi dan keberlanjutan. Di sinilah sinergi menjadi harga mati. FST UIN Raden Fatah melalui nota kesepahaman (MoA) berkomitmen untuk menarik produk lokal ini masuk ke laboratorium kampus.

Bukan sekadar tanda tangan di atas materai, kerja sama ini menyasar aspek teknis yang mendalam. Dosen dan mahasiswa Biologi serta Sistem Informasi dari UIN akan turun tangan melakukan uji ketahanan, penguatan desain teknologi, hingga pendampingan pemasaran digital. Harapannya, lampu LED yang ramah lingkungan dan bebas merkuri ini tidak hanya menjadi primadona di OKI, tetapi memiliki daya saing global melalui sertifikasi mutu yang diakui.

“MoA ini harus menjadi program nyata, bukan sekadar dokumen di atas meja. Kita bicara soal magang siswa di laboratorium kampus dan riset bersama untuk meningkatkan efisiensi energi. Kami ingin memastikan inovasi ini memiliki nafas panjang di pasar,” ujar Dr. Isnaini dengan nada bicara yang penuh penekanan.

Pelajaran dari Kayuagung

Sinergi ini memberikan sebuah refleksi kuat bagi sistem pendidikan di Sumatera Selatan: bahwa pusat inovasi tidak harus selalu lahir dari gemerlap kota besar. Kayuagung telah membuktikan bahwa kreativitas yang didukung oleh kemitraan yang tepat mampu melahirkan solusi teknologi yang bermanfaat bagi umat manusia.

Hollow LED, dengan varian 9 hingga 45 watt-nya, kini menjadi simbol harapan baru. Lewat pendampingan dari FST UIN Raden Fatah, sekolah ini sedang bertransformasi menjadi industri kecil yang mandiri. Siswa-siswanya tidak lagi hanya membayangkan masa depan, mereka sedang merakitnya sendiri di bawah cahaya lampu yang mereka ciptakan.

Sinergi ini memberikan sebuah refleksi kuat bagi sistem pendidikan di Sumatera Selatan. Dok. Istimewa

Bagi Ahmad Bermawi, M.Pd., Kepala SMK Bina Bangsa Kayuagung, kedatangan rombongan dekanat ini adalah jawaban atas kegelisahan panjang mengenai nasib inovasi siswa setelah lulus sekolah. Ia tak ingin Hollow LED berhenti menjadi sekadar pajangan di lemari prestasi. Bermawi melihat pendampingan dari UIN Raden Fatah sebagai “vitamin” bagi mentalitas siswanya agar berani bermimpi lebih besar dari sekadar menjadi buruh pabrik.

“Jujur saja, selama ini kami berjuang sendiri menjaga kualitas di ruang praktik yang terbatas. Dengan masuknya para pakar dari UIN, anak-anak jadi merasa karyanya dihargai secara intelektual. Ini bukan lagi soal tanda tangan di atas materai, tapi soal harga diri produk lokal yang ingin kami buktikan kualitasnya di pasar nasional melalui bimbingan para dosen ini,” ujar Bermawi dengan nada bicara yang mantap.

Keberanian SMK Bina Bangsa untuk bersinergi dan keterbukaan UIN Raden Fatah untuk “turun gunung” adalah bukti bahwa jembatan kolaborasi jauh lebih berharga daripada tembok persaingan. Ketika laboratorium dan ruang praktik saling terhubung, maka jalan menuju kemandirian teknologi bangsa bukan lagi sebuah kemustahilan, melainkan sebuah kepastian yang dimulai dari cahaya lampu di Kayuagung.

(dhi)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version