Musim kemarau biasanya identik dengan ancaman gagal panen. Namun, di Ogan Komering Ulu, banyak petani justru memilih tidak memaksakan menanam padi sambil mengandalkan pendapatan dari kebun sawit, karet, dan kopi yang sedang menikmati kenaikan harga.
BATURAJA, NUSALY – Para petani tanaman pangan di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) memilih untuk menahan diri dan menunda pengolahan lahan sawah pada awal musim kemarau tahun ini.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, sebagian besar lahan persawahan, terutama di wilayah hulu seperti Kecamatan Ulu Ogan, sengaja dibiarkan belum tergarap karena para petani masih menunggu kepastian intensitas curah hujan guna menghindari risiko gagal tanam.
Berdasarkan pengalaman selama ini, petani di wilayah tersebut memilih tidak mengolah sawah ketika memperkirakan curah hujan belum mencukupi. Mereka baru memulai penanaman setelah menilai risiko gagal tanam menurun.
Bagi petani di OKU, menunda tanam bukan berarti menghentikan aktivitas ekonomi. Sebagian besar rumah tangga tani di wilayah ini tidak hanya bergantung pada sawah, tetapi juga mengelola kebun karet, sawit, atau kopi. Pola usaha yang beragam itu menjadi bantalan ketika musim tanam harus ditunda akibat perubahan cuaca.
Kondisi tersebut juga membuat Dinas Pertanian tidak memandang penurunan aktivitas persawahan sebagai pertanda memburuknya ekonomi petani.
“Kami tidak terlalu khawatir walaupun petani kita tidak mengolah sawah karena faktor cuaca, tetapi mereka punya alternatif lain yang menjadi mata pencarian dan penghasilan mereka,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten OKU, Ir. Joni Saihu, SP., M.Si., saat ditemui di Baturaja, Kamis (9/7/2026).
Menurut Joni, sebagian besar rumah tangga petani di OKU masih memiliki sumber pendapatan lain dari sektor perkebunan.
Joni mengatakan, harga kelapa sawit di tingkat petani yang diterima oleh Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di kawasan Satuan Pemukiman (SP) 4 saat ini telah menyentuh Rp3.400 per kilogram. Lonjakan harga ini, ditambah dengan tren positif harga komoditas karet dan kopi, membuat petani tetap memiliki sumber pendapatan yang stabil saat aktivitas persawahan melambat.
Jagung Mengisi Masa Tunggu
Sebagai langkah pelengkap untuk menjaga produktivitas pangan di lahan kering, sebagian masyarakat di Kecamatan Lengkiti, Sosoh Buay Rayap, dan Baturaja Timur memilih mengintensifkan penanaman jagung. Salah satu sentra penanamannya memanfaatkan area sekunder di kawasan Objek Militer Baturaja (Omiba).
Dinas Pertanian OKU menyalurkan bantuan benih jagung ke tiga kecamatan sentra tersebut. Namun, sejalan dengan pola kalkulasi cuaca mereka, sebagian petani di lapangan juga dilaporkan masih menahan proses penyemaian benih tersebut sampai kelembapan tanah dinilai ideal.
Untuk mendukung kebutuhan pemupukan di sektor lahan kering ini, alokasi pupuk bersubsidi dipastikan tetap tersedia dan berjalan lancar di tingkat pengecer resmi. Rendahnya serapan pupuk di beberapa kecamatan murni terjadi karena petani setempat memang belum memasuki musim tanam, sehingga mereka belum menebus hak pupuknya.
Guna memastikan rantai pasok ini bersih dari spekulasi di lapangan, pengawasan harian tetap dikawal oleh Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) OKU.
Keterbatasan Anggaran dan Solusi Pusat
Meski masyarakat memiliki bantalan ekonomi mandiri dari sektor perkebunan, pemerintah daerah tetap menyiapkan instrumen mitigasi jangka panjang jika kemarau berkembang menjadi ekstrem. Dinas Pertanian menyiagakan pompa air di titik-titik rawan serta menyiapkan skema pengajuan bantuan benih cadangan ke tingkat provinsi dan pusat seandainya terjadi kasus gagal panen yang tidak terduga.
Di sisi lain, keterbatasan ruang fiskal pada APBD OKU membuat program modernisasi alat dan mesin pertanian berat tidak bisa didanai secara mandiri oleh daerah. Oleh karena itu, seluruh fasilitas alat berat saat ini disalurkan melalui sistem pangkalan Brigade Pangan bantuan pemerintah pusat, seperti yang beroperasi di Desa Mandala Kecamatan Peninjauan dan Unit 11 Batumarta.
Melalui koordinasi Brigade Pangan ini, kelompok tani—termasuk petani milenial—tetap dapat mengakses pinjaman mesin modern untuk mendukung ketahanan pangan lokal tanpa harus membebani anggaran daerah. (radit)
Editor: Redaksi NUSALY
