MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --
Laporan Utama

Sebanyak 612 Anak Sungai di Palembang Lenyap Ditimbun hingga Picu Banjir Kronis

Sebanyak 612 Anak Sungai di Palembang Lenyap Ditimbun hingga Picu Banjir Kronis
Tragedi penyusutan bentang air sejarah tersebut diungkapkan secara terbuka oleh Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru di hadapan kalangan akademisi, rimbawan, dan mahasiswa di UIN Raden Fatah Palembang, Kamis (21/5/2026). Dok. BHP Pemprov Sumsel.

Penyusutan drastis bentang air alami di ibu kota Sumatera Selatan membongkar kegagalan proteksi tata ruang sub-daerah aliran sungai. Alih fungsi lahan tanpa kendali demi kepentingan komersial kini harus dibayar mahal oleh bencana ekologis tahunan.

PALEMBANG, NUSALY – Krisis banjir yang kerap melumpuhkan urat nadi perekonomian Kota Palembang tidak lagi bisa dipandang sebagai murni faktor anomali cuaca.

Hilangnya ratusan anak sungai dan kanal drainase alami akibat praktik penimbunan lahan secara masif dituding menjadi akar masalah utama di balik rentannya kota metropolitan ini terendam luapan air.

Tragedi penyusutan bentang air sejarah tersebut diungkapkan secara terbuka oleh Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru di hadapan kalangan akademisi, rimbawan, dan mahasiswa di UIN Raden Fatah Palembang, Kamis (21/5/2026).

Dalam forum ilmiah yang bertepatan dengan momentum menyambut Hari Ulang Tahun ke-80 Provinsi Sumsel tersebut, otoritas daerah membongkar data geografi kota yang memperlihatkan laju kerusakan ekologi urban yang mencengangkan.

Berdasarkan catatan register sejarah dan pemetaan bentang alam lama, Kota Palembang awalnya memiliki jalinan interkoneksi 726 alur anak sungai yang tersebar di wilayah seluas 400 hingga 500 kilometer persegi.

Namun, akibat agresifnya okupasi lahan perkotaan oleh aktivitas manusia dalam beberapa dekade terakhir, jumlah jalur pencar air yang berfungsi sebagai benteng pertahanan banjir tersebut kini menyusut drastis dan hanya menyisakan 114 alur sungai yang masih aktif.

Artinya, sebanyak 612 alur anak sungai di Palembang telah hilang dari peta topografi akibat ditimbun dan beralih fungsi menjadi kawasan ruko, pergudangan, hingga pemukiman komersial.

Dampak dari hilangnya jalur pembuangan air alami ini membuat volume air hujan tidak lagi memiliki ruang resapan maupun saluran pengalir menuju badan Sungai Musi.

“Ratusan sungai kita ini tersisa sedikit sekali sekarang. Ke mana perginya ratusan alur yang lain? Memangnya dibawa orang ke luar negeri? Tidak, kita sendirilah yang menutup dan menimbunnya. Lalu saat air naik, semua berteriak banjir,” ujar Herman Deru melontarkan kritik satir atas rendahnya kesadaran kolektif terhadap kelestarian alam kota.

Ancaman warisan ekologi

Pemerintah daerah memperingatkan bahwa jika pola pembangunan kota tetap mengabaikan keberadaan daerah aliran sungai (DAS) mikro, Palembang terancam kehilangan identitasnya sebagai “Kota Air” di masa depan.

Kegagalan melakukan moratorium penimbunan rawa dan anak sungai dikhawatirkan akan mewariskan kerusakan lingkungan yang jauh lebih parah bagi generasi mendatang.

Bahkan secara ekstrem disimulasikan, jika laju pencaplokan anak sungai terus dibiarkan tanpa adanya penegakan hukum tata ruang yang tegas, maka dalam hitungan beberapa generasi ke depan, Palembang diprediksi hanya akan menyisakan dua jalur air utama, yakni Sungai Musi dan Sungai Baung.

Fenomena kepunahan massal anak sungai ini bertepatan pula dengan momentum menjelang hari jadi Kota Palembang ke-1343 pada pertengahan Juni mendatang.

Hari jadi kota tertua di Indonesia ini semestinya menjadi ajang refleksi kritis, bukan sekadar perayaan seremonial, untuk mengukur apakah jumlah 114 sungai yang tersisa saat ini akan terus berkurang atau mampu dipertahankan lewat restorasi koridor air.

Mendorong kajian akademis

Merespons ancaman nyata tersebut, pemerintah provinsi mendesak lembaga pendidikan tinggi untuk tidak tinggal diam di dalam menara gading.

Para peneliti dan mahasiswa ditantang untuk turun ke lapangan guna melakukan audit lingkungan hidup dan menyusun draf dokumen ilmiah yang mampu menekan praktik alih fungsi lahan basah yang masih marak terjadi di pinggiran kota.

Pendekatan budaya dan peningkatan kesadaran lokal (andrawina) atau rasa memiliki terhadap ekosistem air perlu diinjeksikan kembali ke dalam kurikulum sosial kemasyarakatan.

Publik berharap, data kehilangan 612 anak sungai ini menjadi landasan kuat bagi Pemerintah Kota Palembang untuk memperketat penerbitan izin persetujuan bangunan gedung (PBG) dan menindak tegas para pengembang nakal yang nekat mematikan saluran air demi keuntungan bisnis semata. (dhi)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang

Exit mobile version