Gol tunggal Vinicius Junior membawa Real Madrid unggul atas Benfica pada leg pertama play-off Liga Champions. Laga di Estadio da Luz ini menyisakan sorotan tajam setelah wasit mengaktifkan protokol rasisme menyusul dugaan pelecehan terhadap penyerang asal Brasil tersebut.
LISBON, NUSALY – Real Madrid mengamankan modal krusial dalam ambisi melaju ke babak 16 besar Liga Champions 2025/2026. Bertandang ke markas Benfica di Estadio da Luz, Rabu (18/2/2026) dini hari WIB, tim asuhan Alvaro Arbeloa menang tipis 1-0. Namun, kemenangan ini dibayangi oleh insiden rasisme yang memicu aktivasi protokol resmi FIFA di tengah lapangan.
Pertandingan yang berjalan dengan tensi tinggi sejak awal ini mencapai titik didih pada menit ke-50. Vinicius Junior memecah kebuntuan lewat aksi individu berkelas yang diakhiri dengan gol dari sudut sempit. Berdasarkan data statistik yang dihimpun Bola.net, dominasi Madrid tercermin dari angka expected goals (xG) sebesar 0,9, jauh melampaui tuan rumah yang hanya mencatat 0,16.
Ketegangan meningkat sesaat setelah gol tercipta. Perayaan gol Vinicius di dekat bendera sudut memicu reaksi keras dari tribun penonton, termasuk pelemparan benda-benda ke arah pemain. Situasi kian memburuk setelah terjadi interaksi panas antara Vinicius dan pemain Benfica, Gianluca Prestianni.
Aktivasi Protokol Rasisme
Momen bersejarah terjadi ketika wasit Francois Letexier membuat gestur tangan bersilang di hadapan para pemain. Isyarat tersebut merupakan protokol resmi FIFA yang diperkenalkan pada Mei 2024 untuk menandai laporan pelecehan rasis. Laga sempat dihentikan selama 10 menit mulai menit ke-60, saat Vinicius melaporkan dugaan ujaran rasis dan sempat berjalan keluar lapangan diikuti rekan-rekannya.
Insiden ini menambah panjang daftar perlakuan diskriminatif yang dialami Vinicius dalam kariernya di Eropa. Bek Real Madrid, Trent Alexander-Arnold, secara terbuka mengecam kejadian tersebut dalam wawancara usai laga, menyebutnya sebagai aib bagi sepak bola dan menuntut keadilan bagi rekan setimnya.
Meski atmosfer Stadion Da Luz mencekam, Real Madrid mampu menjaga keunggulan. Tuan rumah justru kehilangan kendali di menit-menit akhir setelah pelatih mereka, Jose Mourinho, menerima kartu merah pada menit ke-85 akibat protes berlebihan terhadap ofisial pertandingan.
Soliditas Lini Belakang
Kemenangan Los Blancos juga ditopang oleh performa impresif di sektor pertahanan. Kiper Thibaut Courtois mencatatkan rating 7.7 berkat penyelamatan krusialnya, sementara duet bek tengah Antonio Rudiger dan Dean Huijsen tampil disiplin menjaga area penalti. Huijsen, yang semula diprediksi akan menjadi titik lemah, justru tampil tenang dengan distribusi bola yang rapi.
Di lini tengah, Aurelien Tchouameni tampil sebagai penyeimbang yang dominan dalam duel udara, membuatnya terpilih sebagai Man of the Match versi UEFA. Kehadiran Tchouameni dan Federico Valverde efektif memutus alur serangan balik Benfica yang mencoba mengeksploitasi kecepatan pemain sayap mereka.
Dengan hasil ini, Madrid hanya membutuhkan hasil imbang pada leg kedua di Santiago Bernabeu untuk memastikan tiket ke fase gugur. Tantangan bagi UEFA kini beralih pada tindak lanjut laporan rasisme yang tercatat secara resmi dalam laporan wasit Letexier, sebagai ujian atas komitmen pemberantasan diskriminasi di kompetisi kasta tertinggi Eropa tersebut.
(dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
