Kilas Daerah

Surutnya Sungai Ogan Picu Fenomena Warga Mendulang Emas

Surutnya Sungai Ogan Picu Fenomena Warga Mendulang Emas
Surutnya Sungai Ogan di OKU memicu warga mendulang emas secara tradisional. BPBD imbau warga waspadai luapan air hulu dan tak rusak lingkungan. Dok. Istimewa

Surutnya Sungai Ogan memicu fenomena baru warga mendulang emas secara tradisional di kawasan sungai yang mengering, di tengah imbauan BPBD agar warga menjaga lingkungan dan mewaspadai luapan air dari hulu.

BATURAJA, NUSALY – Surutnya aliran Sungai Ogan pada musim kemarau memunculkan pemandangan yang tak lazim di Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.

Di sejumlah titik alur sungai yang mengering, sebagian warga mulai mendulang emas secara tradisional untuk mencari tambahan penghasilan.

Di tengah fenomena baru itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKU mengingatkan agar masyarakat tetap mewaspadai potensi kenaikan debit sungai dari kawasan hulu serta menjaga kelestarian lingkungan.

Fenomena baru di sepanjang DAS

Aktivitas pendulangan emas mulai marak seiring menyusutnya aliran sungai. Warga memanfaatkan area pinggiran dan alur dangkal Sungai Ogan dengan bermodalkan alat dulang tradisional.

Manager Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD OKU Gunalfi membenarkan munculnya aktivitas tersebut. Berdasarkan catatan BPBD, fenomena warga mendulang emas di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Ogan baru pertama kali terpantau marak pada musim kemarau tahun ini.

“Sepertinya baru tahun ini terjadi fenomena itu. Kita juga tidak tahu apakah memang warga mendapatkan emas atau tidak saat mendulang. Tapi informasinya sudah kami dengar, dan sifatnya bukan pengerukan, melainkan mencari dengan alat dulang tradisional,” ujar Gunalfi, Jumat (24/7/2026).

BPBD ingatkan risiko kenaikan debit

Kendati wilayah OKU sudah memasuki musim kemarau, BPBD mengimbau masyarakat yang beraktivitas di sepanjang alur dan pinggiran Sungai Ogan untuk tetap waspada. Hal ini disebabkan potensi hujan masih dapat terjadi di kawasan hulu dan meningkatkan debit air secara tiba-tiba.

“Saat hujan, sebaiknya masyarakat pendulang emas menepi ke pinggiran. Hujan yang tidak merata ini dapat meningkatkan debit sungai, dan kita tidak tahu kalau di wilayah hulu terjadi hujan sehingga air sewaktu-waktu bisa naik,” kata Gunalfi.

BPBD juga mengingatkan agar aktivitas pencarian emas tersebut tidak merusak lingkungan sekitar. Sebab, Sungai Ogan masih menjadi sumber air yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat sekaligus penopang utama pasokan air baku bagi PDAM.

Berdasarkan data pemantau tinggi muka air (water gauge) BPBD OKU, kondisi aliran sungai saat ini masih berada dalam batas normal dan aman. Di Desa Ulak Lebar, Kecamatan Ulu Ogan, tinggi muka air tercatat 64,69 centimeter. Sementara di Desa Gunung Liwat, Kecamatan Pengandonan, terpantau kenaikan tipis 6,65 cm, dan di Desa Sukaraja, Kecamatan Lengkiti naik 11,36 cm.

Gunalfi menambahkan, berdasarkan pemantauan BPBD melalui alat ukur ketinggian air, kondisi Sungai Ogan maupun Sungai Lengkayap hingga kini masih berada pada kategori normal dan aman meski wilayah OKU telah memasuki musim kemarau. ***

Exit mobile version