MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --
Sumsel Maju Terus untuk Semua

Tabligh Akbar FESyar 2026 Meneguhkan Nilai Keadilan dalam Aktivitas Ekonomi Digital

Tabligh Akbar FESyar 2026 Meneguhkan Nilai Keadilan dalam Aktivitas Ekonomi Digital
Pemprov Sumsel dan BI bersinergi dalam Tabligh Akbar FESyar 2026 untuk meneguhkan ekonomi syariah sebagai fondasi keadilan dan inklusi digital. Dok. BHP Pemprov Sumsel

Momentum ini diarahkan untuk membangun ekosistem keuangan syariah yang tidak sekadar mengejar profitabilitas melainkan mengutamakan kemaslahatan umat

PALEMBANG, NUSALY – Pengembangan ekonomi syariah di era modern tidak boleh sekadar bertumpu pada aspek digitalisasi transaksi atau pelabelan formal semata. Keberadaannya harus berakar kuat pada nilai-nilai keadilan sosial, pemerataan, serta keberkahan yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat luas. Perpaduan antara nafas religiusitas dan aktivitas ekonomi riil inilah yang melandasi jalannya Tabligh Akbar Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatera 2026.

Kegiatan rohani berskala regional tersebut berlangsung khidmat di Palembang Sport and Convention Center (PSCC), Palembang, Jumat (5/6/2026). Forum ini mempertemukan para pemangku kebijakan, pelaku usaha, serta elemen masyarakat untuk menyamakan visi dalam mempercepat penetrasi keuangan syariah di Sumatera.

Wakil Gubernur Sumatera Selatan H Cik Ujang menilai, penunjukan Sumatera Selatan sebagai tuan rumah FESyar tahun ini merupakan sebuah kehormatan sekaligus momentum strategis. Ruang kolaborasi ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat fondasi ekosistem ekonomi syariah yang inklusif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.

Menjaga kemaslahatan di tengah arus digitalisasi

Di tengah laju transformasi teknologi yang mendisrupsi berbagai sektor kehidupan, dunia keuangan pun dituntut untuk bergerak adaptif. Namun, bagi institusi publik dan pelaku usaha berbasis syariah, aspek digitalisasi tidak boleh menanggalkan prinsip moral universal. Prinsip keislaman harus menjadi kompas utama agar aktivitas ekonomi tidak terjebak pada spekulasi yang merugikan.

Ekonomi syariah bukan hanya soal transaksi halal, tetapi juga mengedepankan keadilan, keberkahan, dan kesejahteraan umat. Di era digital ini, nilai keislaman harus menjadi fondasi aktivitas ekonomi masyarakat untuk menciptakan iklim usaha yang sehat dan berkeadilan.

Melalui sinergi yang terbangun dalam FESyar 2026, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memproyeksikan lahirnya peta jalan baru yang mampu menjawab berbagai tantangan riil di lapangan. Akselerasi diarahkan pada penciptaan inovasi terpadu guna mendorong kemajuan industri produk halal serta penguatan kapasitas pelaku UMKM syariah agar naik kelas.

Wakil Gubernur Sumatera Selatan H Cik Ujang menilai, penunjukan Sumatera Selatan sebagai tuan rumah FESyar tahun ini merupakan sebuah kehormatan sekaligus momentum strategis. Dok. BHP Pemprov Sumsel

Menghidupkan kemandirian ekonomi pesantren

Pilar lain yang tidak kalah krusial dalam struktur ekonomi syariah adalah penguatan basis ekonomi lembaga pendidikan keagamaan. Pondok pesantren tidak lagi sekadar menjadi pusat penempaan moral dan spiritual, melainkan didorong untuk mandiri secara finansial melalui unit-unit usaha yang dikelola secara profesional.

Langkah ini berjalan beriringan dengan upaya mengoptimalkan pengelolaan sektor pembiayaan sosial Islam, seperti Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (Ziswaf). Jika instrumen pembiayaan sosial ini dikelola dengan transparansi yang tinggi dan tata kelola yang akuntabel, perputaran modalnya akan menjadi bantalan ekonomi yang efektif bagi masyarakat di tingkat tapak yang belum tersentuh oleh perbankan konvensional.

Oleh karena itu, generasi muda diajak untuk jeli menangkap peluang inovasi di sektor ini. Para pelaku usaha pun diimbau terus menaikkan standar mutu mutu produk halal mereka agar mampu memenangi persaingan pasar yang kian kompetitif.

Sinergi lintas sektor demi keberlanjutan

Pada kesempatan yang sama, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Bambang Pramono menegaskan bahwa FESyar 2026 merupakan wujud nyata komitmen bank sentral dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi syariah secara nasional. Bank Indonesia memandang bahwa Sumatera memiliki modal sosial dan demografis yang sangat kuat untuk menggerakkan sektor ini.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini difokuskan pada dua agenda utama, yakni penguatan struktur ekosistem riil dan peningkatan indeks literasi masyarakat yang saat ini masih perlu terus ditingkatkan. Melalui sinergi lintas kelembagaan dan semangat mencari keberkahan bersama, Bank Indonesia optimistis mampu mewujudkan model ekonomi syariah yang menumbuhkan perekonomian wilayah secara berkelanjutan.

Pertemuan antara otoritas moneter, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam Tabligh Akbar ini mengirimkan sinyal positif bagi masa depan tata kelola keuangan daerah. Ketika prinsip keadilan dalam ekonomi syariah berhasil diterjemahkan ke dalam kebijakan yang inklusif dan teknologi yang membumi, kesejahteraan yang merata bukan lagi sekadar menjadi target di atas kertas kerja, melainkan sebuah realitas yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. (dhi)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang

Exit mobile version