Pemenuhan janji pembangunan infrastruktur di ruas Simpang Sari–Ulak Paceh oleh H.M. Toha Tohet menjadi pembuktian integritas kepemimpinan di Musi Banyuasin. Di tengah efisiensi anggaran, skala prioritas diarahkan langsung oleh sang Bupati untuk memutus isolasi ekonomi warga desa.
SEKAYU, NUSALY – Bagi warga di pelosok Kecamatan Lawang Wetan, Musi Banyuasin, janji politik sering kali terdengar seperti angin lalu. Namun, pekan ini, persepsi itu luruh bersamaan dengan tibanya alat-alat berat di ruas jalan strategis Simpang Sari menuju Ulak Paceh.
Bupati Musi Banyuasin H.M. Toha Tohet tidak sekadar memberikan harapan, ia menepati janji yang pernah diucapkannya: melakukan eksekusi nyata atas infrastruktur yang selama ini menjadi keluhan utama masyarakat di Bumi Serasan Sekate.
Langkah cepat Bupati Toha Tohet dalam menginstruksikan Dinas PUPR untuk memulai penanganan tanggap darurat ini menandai era baru kepemimpinan di Muba.
Ini bukan lagi soal rencana di atas kertas atau seremoni peletakan batu pertama yang berlarut-larut. Ini adalah tentang “eksekusi tanpa tapi”—sebuah manifestasi dari komitmen pimpinan daerah yang memposisikan penderitaan rakyat akibat jalan rusak sebagai urgensi tertinggi pemerintah.
Integritas dalam Aksi
Janji seorang pemimpin adalah hutang, dan bagi Toha Tohet, hutang tersebut harus dibayar lunas dengan kehadiran negara di tengah kesulitan warga. Ruas jalan Simpang Sari–Ulak Paceh bukanlah jalur biasa. Jalur ini adalah urat nadi ekonomi yang menghubungkan konektivitas luas hingga ke perbatasan Jambi.
Dengan menepati janjinya di titik strategis ini, Bupati sedang mengirimkan pesan kuat kepada publik: bahwa setiap aspirasi yang masuk ke mejanya akan dicarikan jalan keluar, seberat apa pun tantangan anggarannya.
“Kami bergerak atas dasar kebutuhan mendesak rakyat. Infrastruktur adalah kunci, dan perbaikan jalan ini adalah langkah awal dari komitmen besar kami,” tegas Toha Tohet.
Ungkapan ini merefleksikan gaya kepemimpinannya yang praktis dan berorientasi pada hasil (result-oriented). Bagi masyarakat Lawang Wetan, melihat aspal mulai diperbaiki bukan sekadar soal kenyamanan berkendara, melainkan kembalinya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah yang terbukti amanah.
Prioritas di Tengah Efisiensi
Menunaikan janji pembangunan di tengah fase efisiensi anggaran nasional dan daerah bukanlah perkara mudah. Di sini, integritas Bupati Toha Tohet diuji melalui keberanian mengambil kebijakan skala prioritas.
Di saat banyak program lain harus “mengerem”, pembangunan jalan strategis Lawang Wetan tetap mendapatkan “lampu hijau”.
Hal ini membuktikan bahwa bagi sang Bupati, efisiensi anggaran bukanlah alasan untuk menghentikan pelayanan dasar, melainkan alat untuk menyaring mana kebutuhan yang paling berdampak langsung bagi perut rakyat.
Penanganan darurat ini diharapkan mampu mengurai sumbatan distribusi hasil bumi yang selama ini mencekik margin keuntungan petani sawit dan karet di wilayah tersebut.
Dengan jalur yang mulus hingga menembus C2 Srigunung di Kecamatan Bayung Lencir, biaya logistik dipastikan turun, dan harga jual produk pertanian warga akan lebih kompetitif. Inilah dampak nyata dari sebuah janji yang dieksekusi dengan tepat sasaran.
Transparansi dan Pengawasan
Menepati janji juga berarti berani membuka diri terhadap pengawasan. Bupati Toha Tohet secara eksplisit meminta sinergi dengan insan pers dan masyarakat sebagai kontrol sosial. Ia tidak ingin pembangunan ini hanya menjadi “proyek sekejap”, melainkan kualitas yang bertahan lama. Transparansi ini menjadi jaminan bahwa janji yang ditepati bukan hanya soal kecepatan, tapi juga soal akuntabilitas.
Setiap progres di lapangan kini dapat terpantau secara terbuka hingga ke pelosok desa. Komitmen untuk memperkuat sinergi dengan pers menunjukkan bahwa Bupati ingin memastikan bahwa setiap rupiah dari anggaran daerah benar-benar berubah menjadi aspal yang kokoh, bukan sekadar tambal sulam yang hancur saat musim hujan berikutnya tiba.
Kepercayaan publik yang dibangun melalui pembuktian janji ini menjadi modal sosial yang tak ternilai bagi stabilitas pemerintahan di Musi Banyuasin.
Simbol Kehadiran Negara
Perbaikan jalan di Lawang Wetan hanyalah awal dari rangkaian “eksekusi” janji-janji pembangunan lainnya. Bagi Toha Tohet, memimpin Muba adalah soal memberikan kepastian di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dengan konektivitas yang terjaga, ia sedang menyiapkan Musi Banyuasin sebagai wilayah yang mandiri secara ekonomi dan tangguh secara sosial.
Warga yang kini melintasi Simpang Sari tidak lagi hanya melihat debu dan lubang, melainkan melihat bukti nyata dari sebuah kepemimpinan yang berintegritas. Janji yang ditepati oleh Bupati Toha Tohet hari ini menjadi pondasi bagi harapan-harapan baru masyarakat Muba di masa depan.
Bahwa di tangan pemimpin yang tepat, pembangunan bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh setiap warga desa. (*)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
