Empat anggota Komisi 1 DPRD OKU turun langsung memecah kebuntuan birokrasi penanganan banjir di Baturaja Timur. Intervensi anggaran dan penerjunan alat berat Dinas PUPR kini ditagih demi membebaskan permukiman warga dari genangan kronis.
BATURAJA, NUSALY – Fungsi pengawasan legislatif di tingkat daerah kini menjadi tumpuan utama warga dalam menyiasati persoalan banjir luapan di kawasan urban. Komisi 1 DPRD Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, mengambil langkah taktis dengan meninjau langsung titik kritis yang merendam permukiman.
Langkah ini diambil setelah keluhan kronis masyarakat di Kelurahan Sekarjaya, Kecamatan Baturaja Timur, tidak kunjung mendapatkan solusi konkret dari pemerintah daerah. Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi di wilayah tersebut selalu menyisakan genangan air hingga mencapai ketinggian setengah meter.
Empat anggota Komisi 1 DPRD OKU yang memimpin peninjauan lapangan tersebut adalah M Saleh Tito, Awal Fajri, Dadi Okta Saputra, dan Naproni. Kehadiran mereka di lokasi tapak ditujukan untuk menekan dinas teknis agar segera melakukan eksekusi fisik di lapangan.
Temukan sumbatan
Peninjauan bersama aparatur kecamatan, kelurahan, dan perwakilan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) OKU itu menguak fakta lapangan yang mencengangkan. Hambatan utama aliran air ternyata bersumber dari sebuah lahan kosong penuh semak belukar di perbatasan wilayah RT 1, RT 3, dan RT 25.
Para wakil rakyat menemukan bahwa rimbunan semak belukar di permukaan lahan tersebut menyembunyikan volume sampah domestik dalam jumlah masif. Endapan sampah padat yang bertahun-tahun terabaikan itu menyumbat total fungsi drainase alam yang membentang di belakang SMAN 4 OKU.
Akibat kegagalan fungsi drainase alam ini, debit air hujan tidak dapat dialirkan menuju ke kawasan hilir Ogan Mati. Dampak luapan air akhirnya meluas dan melumpuhkan aktivitas warga di empat wilayah RT sekitar, termasuk kawasan RT 2 yang berada di dataran rendah.
“Di bawah semak itu banyak sampah. Jadi ini yang kita usulkan dinormalisasi,” ujar anggota Komisi 1 DPRD OKU, M Saleh Tito, di sela-sela peninjauan lapangan di Baturaja Timur.
DPRD OKU menegaskan bahwa metode pembersihan konvensional melalui kerja bakti swadaya masyarakat sudah tidak mungkin lagi diterapkan di lokasi ini. Lapisan sampah yang terlalu tebal dan menyatu dengan struktur tanah memerlukan pendekatan struktural menggunakan alat berat ekskavator.
Potong kompas
Guna memotong jalur birokrasi eksekutif yang kerap lamban, Komisi 1 DPRD OKU langsung merumuskan mekanisme percepatan penanganan administratif dari tingkat bawah. Pemerintah Kelurahan Sekarjaya diinstruksikan untuk segera menyusun dokumen usulan formal penormalan saluran air.
Surat usulan tersebut diminta untuk dikirimkan secara berjenjang melalui pemerintah kecamatan, dengan tembusan langsung ke meja pimpinan DPRD OKU. Dokumen tembusan inilah yang akan dijadikan jangkar politik oleh pihak legislatif untuk mendesak Dinas PUPR OKU segera menggeser unit alat berat mereka.
“Kalau sampahnya sedikit bisa digotongroyongkan, tapi ini sangat banyak. Jadi harus pakai alat berat. Kami minta pemerintah kelurahan Sekarjaya mengajukan usulan, tembusan ke dewan,” ucap Tito menegaskan instruksi kerja kepada jajaran kelurahan.
Kehadiran para anggota dewan di lokasi tapak langsung memicu reaksi emosional dari komunitas lokal yang merangsek masuk ke area peninjauan. Warga memanfaatkan momentum tersebut untuk mengadukan kerugian material dan rusaknya perabotan rumah tangga akibat banjir berulang yang selalu menghantui mereka.
Tagih eksekusi
Sikap responsif Komisi 1 DPRD OKU ini membawa angin segar sekaligus harapan baru bagi masyarakat Kelurahan Sekarjaya yang selama ini merasa suaranya terabaikan. Dukungan politik dari lembaga legislatif dinilai menjadi kunci utama untuk memaksa dinas teknis bergerak lebih agresif.
Secara sosiologis, penumpukan sampah di lahan kosong pembatas wilayah mencerminkan lemahnya pengawasan tata ruang dan pengelolaan limbah domestik di kawasan permukiman baru. Jika tidak ada tindakan tegas dari otoritas berwenang, saluran-saluran alam di Baturaja akan terus beralih fungsi menjadi sarang sampah mikro.
DPRD OKU kini memegang komitmen untuk mengawal proses administratif ini hingga alat berat benar-benar tiba dan bekerja di lokasi tapak. Janji pengawasan legislatif ini ditunggu pembuktiannya oleh publik, sebelum hujan berikutnya kembali merendam ruang hidup warga Sekarjaya. (Jum Radit)
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang
