Bukan lagi sekadar hiasan dalam laporan tahunan, Environmental, Social, and Governance (ESG) telah bergeser menjadi instrumen penentu valuasi. Melalui SEL Southeast Asia, organisasi kini dituntut menutup celah kompetensi SDM demi menghadapi audit global yang kian tanpa kompromi.
JAKARTA, NUSALY — Lanskap bisnis di tahun 2026 tak lagi memberi ruang bagi perusahaan yang hanya pandai bersolek lewat narasi keberlanjutan. Era “kosmetik” korporasi telah berakhir. Saat ini, Environmental, Social, and Governance (ESG) bukan lagi tentang seberapa banyak pohon yang ditanam secara simbolis dalam kegiatan CSR, melainkan tentang seberapa presisi metrik dekarbonisasi dan integritas tata kelola dihitung di atas meja investor. Tekanan ini muncul seiring dengan tuntutan transparansi radikal yang dipicu oleh krisis iklim global dan ketimpangan sosial yang kian tajam.
Pergeseran tektonik ini memicu kepanikan baru di ruang-ruang direksi: sebuah fenomena yang disebut sebagai kesenjangan kompetensi (skill gap). Banyak pemimpin perusahaan memiliki ambisi keberlanjutan yang melangit, namun mendadak gagap saat harus menerjemahkan visi tersebut ke dalam angka-angka teknis yang akurat dan dapat diaudit. Tanpa sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, visi keberlanjutan hanya akan menjadi beban biaya tanpa hasil nyata, atau lebih buruk lagi, tergelincir ke dalam praktik greenwashing yang berisiko tuntutan hukum.
Di sinilah SEL Southeast Asia (SEL) memposisikan diri sebagai mitra strategis dan institusi profesional yang berkomitmen memajukan modal manusia. Sebagai lembaga yang memahami denyut nadi bisnis modern, SEL memberdayakan individu dan organisasi untuk tidak sekadar bertahan, melainkan tumbuh di tengah lanskap yang dinamis melalui kepemimpinan etis dan program pembelajaran yang memiliki dampak nyata bagi masa depan.
Standar Global
Bayangkan sebuah bahasa universal yang mendadak wajib dikuasai oleh semua pemain pasar tanpa terkecuali. Itulah yang terjadi pada tahun 2026 melalui integrasi IFRS Sustainability Disclosure Standards. Standar ini kini menjadi “hakim” baru yang menentukan apakah sebuah perusahaan layak mendapatkan akses ke pendanaan hijau (green financing) atau justru akan dikucilkan dari pergaulan ekonomi dunia karena dianggap berisiko tinggi terhadap lingkungan.
Kepatuhan kini tak lagi bersifat kualitatif atau naratif semata. Pilar “Social” (Sosial) dan “Governance” (Tata Kelola) kini dibedah dengan angka; mulai dari rasio keberagaman di jajaran manajerial, keamanan data konsumen yang ketat, hingga audit etika di sepanjang rantai pasok global. Perusahaan yang abai terhadap detail-detail teknis ini akan mendapati pintu modal tertutup rapat, terutama dari investor institusional yang kini menggunakan skor ESG sebagai parameter utama manajemen risiko mereka.
Kesenjangan antara regulasi yang kian ketat dengan kemampuan internal perusahaan sering kali menjadi titik lemah yang fatal. Untuk itulah, penguatan kapasitas internal melalui program esg training menjadi langkah investasi paling logis. Melalui pelatihan yang terstruktur, organisasi dapat membangun fondasi internal yang kokoh—sebuah “perisai” kompetensi sebelum mereka berhadapan dengan auditor eksternal yang kian skeptis dan teliti dalam melihat laporan keberlanjutan.
Adaptasi Radikal
Strategi keberlanjutan yang dulu hanya “numpang lewat” di departemen komunikasi korporat, kini harus merembes hingga ke sumsum operasional perusahaan. Dari departemen keuangan yang harus menghitung pajak karbon, hingga departemen logistik yang wajib memantau emisi gas rumah kaca dari transportasi pihak ketiga. Tahun 2026 adalah tahun di mana sistem insentif eksekutif mulai dikaitkan secara langsung dengan keberhasilan pencapaian target-target ESG yang terukur.
Digitalisasi data ESG kini juga bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak. Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi blockchain telah menjadi standar baru untuk melacak transparansi rantai pasok dari hulu ke hilir secara real-time. Teknologi ini memastikan bahwa klaim keberlanjutan sebuah produk tidak bisa dimanipulasi. Namun, secanggih apa pun teknologinya, pemegang kendali tetaplah manusia yang memiliki integritas dan pengetahuan yang mumpuni.
Inilah alasan mengapa pemimpin di berbagai level perlu menyadari pentingnya pelatihan ESG untuk keberlanjutan 2026. Tanpa data yang valid dan pengambilan keputusan yang berbasis pada pengetahuan mutakhir, perusahaan hanya akan terjebak dalam risiko iklim yang fatal dan kehilangan daya saing. Pengetahuan tentang dekarbonisasi, sirkularitas ekonomi, hingga perlindungan hak asasi manusia dalam bisnis kini menjadi alat analitik yang wajib dimiliki untuk menangkap peluang di pasar ekonomi hijau yang tengah meledak.
Sertifikasi Profesional
Di sisi lain, pergeseran paradigma ini menciptakan kasta baru dalam bursa tenaga kerja global. Profesi-profesi seperti Sustainability Officer, ESG Analyst, hingga Green Auditor kini menjadi primadona baru dengan kompensasi yang sangat kompetitif, melampaui banyak posisi manajerial tradisional. Namun, pasar kerja tidak lagi menerima mereka yang hanya bermodal klaim sepihak; industri menuntut validasi melalui sertifikasi profesional yang diakui secara internasional.
Sertifikasi dari lembaga bereputasi seperti SEL Southeast Asia bukan sekadar baris tambahan untuk mempercantik profil di media sosial profesional. Ia adalah bukti otentik bahwa seorang praktisi memiliki metodologi yang benar dan teruji dalam menangani kerumitan isu keberlanjutan. Perusahaan yang dikelola oleh tenaga ahli tersertifikasi secara otomatis memiliki nilai valuasi yang lebih tinggi di mata investor, karena dianggap memiliki sistem navigasi risiko yang telah terverifikasi dengan standar etika kepemimpinan yang tinggi.
Pada akhirnya, ESG adalah soal ketahanan bisnis jangka panjang (business resilience). Perusahaan yang memandang regulasi lingkungan dan sosial sebagai beban administratif semata akan segera tersisih oleh kompetitor yang mampu melihatnya sebagai peluang emas untuk berinovasi.
Tahun 2026 akan menjadi tahun seleksi alam: mana organisasi yang benar-benar memiliki DNA berkelanjutan dalam setiap sel operasionalnya, dan mana yang hanya sekadar ikut arus tren sesaat. Keberlanjutan bukan lagi beban, melainkan satu-satunya jalan menuju masa depan bisnis yang hijau, transparan, dan akuntabel. Dan perjalanan panjang menuju ke sana selalu dimulai dari langkah edukasi yang tepat hari ini.
(dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
