Laporan Utama

Eksodus Elit di Tengah Fatamorgana Politik: Membaca Arah Migrasi Kader ke PSI

Fenomena perpindahan sejumlah kader partai politik ke PSI dinilai bukan sebagai kebangkitan organik, melainkan refleksi dari kebuntuan ruang aktualisasi di partai asal. Pengamat politik Bagindo Togar Butar Butar menakar sejauh mana migrasi elit ini mampu bertahan tanpa sokongan basis akar rumput yang riil.

Eksodus Elit di Tengah Fatamorgana Politik: Membaca Arah Migrasi Kader ke PSI
Foto Ilustrasi dibuat menggunakan AI. (Dok. Nusaly.com)

PALEMBANG, NUSALY — Di beranda sebuah rumah di sudut Kota Palembang yang tenang, Rabu (28/1/2026), Bagindo Togar Butar Butar menyesap teh hangatnya sembari membolak-balik lembaran data statistik politik. Matanya yang tajam tertuju pada satu fenomena yang belakangan ini riuh di media sosial: deretan politisi mapan yang mendadak mengganti jaket partai lamanya dengan warna merah khas Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Bagi pengamat politik kawakan Sumatera Selatan ini, fenomena tersebut tidak ubahnya sebuah gerak refleks dari para pengelana politik yang kehilangan tempat berteduh, sebuah “suaka” di tengah menyempitnya ruang napas kekuasaan.

“Kita harus jujur melihat ini bukan sebagai hijrah ideologis yang suci. Ini adalah migrasi teknis dari mereka yang terjepit oleh sistem oligarki di rumah lama,” ujar Bagindo. Kalimatnya mengalir tenang, namun mengandung daya ledak intelektual yang menggugat nalar publik tentang otentisitas partai politik di Indonesia.

Getir di Ruang Tunggu

Perpindahan kader partai ke PSI tidak muncul dari ruang hampa. Di level mikro, kita melihat potret individu-individu yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung di partai asal mereka, namun terbentur oleh “langit-langit kaca” struktur organisasi yang kian kaku.

Dalam kacamata sosiologi politik, ini adalah manifestasi dari kegagalan konsolidasi internal. Ketika mekanisme sirkulasi elit di partai mapan tersumbat oleh kepentingan dinasti atau faksionalisme sempit, kader-kader potensial di lapis kedua dan ketiga mengalami apa yang disebut sebagai political suffocation atau sesak napas politik.

Bagindo menekankan bahwa secara karakter, para migran politik ini tidak membawa pemikiran baru yang revolusioner. Mereka tetaplah produk dari kultur politik lama yang kini mencoba peruntungan di wadah yang lebih cair.

PSI, dalam hal ini, bertindak sebagai political safety valve—katup pengaman yang menampung limpahan kekecewaan. Namun, suaka ini bersifat rapuh. Jika pondasinya hanya dibangun di atas tumpukan rasa kecewa, maka bangunan tersebut tidak akan memiliki akar yang mampu menahan badai elektoral.

“Mereka berpindah karena akses kekuasaan di tempat asal sudah tertutup. PSI menawarkan ‘kursi kosong’ yang menggoda, tapi kursi itu belum tentu memiliki kaki yang menapak ke bumi,” tambah Bagindo.

Erosi Modal Simbolik di Era Post-Jokowi

Sejarah politik Indonesia mencatat bahwa partai baru sering kali tumbuh besar melalui fenomena Coattail Effect atau efek ekor jas dari figur sentral nasional. PSI, selama hampir satu dekade, telah menambatkan jangkar politiknya pada sosok Presiden Joko Widodo. Namun, saat kalender menunjukkan tahun 2026, realitas politik telah bergeser secara fundamental. Seiring berakhirnya masa jabatan Jokowi, PSI kini berdiri di sebuah padang tandus yang disebut sebagai Symbolic Capital Erosion.

Bagindo menilai, pengaruh simbolik yang selama ini menjadi “bahan bakar” utama PSI kini mengalami degradasi alami. Tanpa sosok sentral yang berada di puncak kekuasaan, PSI dipaksa untuk membuktikan eksistensi organiknya. Klaim bahwa masuknya kader-kader baru akan memicu lonjakan elektoral dinilai sebagai pernyataan yang prematur dan belum teruji secara empiris.

“Dalam politik, simbol itu memiliki masa kedaluwarsa. Ketika magnet utamanya tidak lagi berada di episentrum kekuasaan, partai harus kembali pada kekuatan platform dan program. Pertanyaannya, apakah PSI sudah memiliki itu, atau masih sekadar menjadi bayang-bayang dari masa lalu?” tutur Bagindo retoris.

Logistik versus Loyalitas: Ujian di Akar Rumput

Kita tidak bisa memungkiri bahwa PSI memiliki dukungan finansial yang relatif stabil. Jejaring elit politik dan ekonomi di belakangnya memastikan bahwa kampanye udara dan logistik partai tetap terjaga. Namun, dalam tradisi Amanat Hati Nurani Rakyat, kita diingatkan bahwa uang hanyalah pelumas, bukan mesin utama demokrasi. Mesin utamanya adalah loyalitas pemilih di tingkat akar rumput—di pematang sawah, di lorong-lorong pasar, dan di kedalaman desa-desa.

Tantangan struktural PSI sangat nyata. Bahkan partai-partai mapan yang memiliki ranting hingga ke tingkat dusun pun masih kesulitan menjaga konsolidasi di era krisis kepercayaan ini. Bagindo mencermati bahwa keberadaan kader baru di tingkat elit sering kali tidak diikuti oleh gerbong pendukungnya di bawah. Pemilih Indonesia saat ini telah mengalami apa yang disebut sebagai partisan dealignment, di mana ikatan emosional antara rakyat dan tokoh politik kian melonggar.

Tanpa dukungan massa riil yang mampu digerakkan secara organik, modal finansial yang masif hanya akan menjadi biaya iklan yang sunyi.

“Uang bisa membeli papan reklame, tapi tidak bisa membeli keyakinan rakyat yang sudah sering kali dikecewakan oleh janji-janji migrasi politik,” tegas Bagindo.

Menuju Restorasi Institusi Partai

Melihat fenomena ini, arah politik ke depan seharusnya tidak lagi terjebak dalam gimik perpindahan elit. Bagindo Togar menawarkan sebuah perspektif restorasi: partai politik harus kembali pada khittah-nya sebagai sarana pendidikan politik rakyat, bukan sekadar mesin pencari jabatan.

Langkah konkret yang harus diambil oleh partai-partai baru, termasuk PSI, adalah dengan melakukan de-elitasi politik. Artinya, mereka harus berani melakukan investasi jangka panjang pada penguatan kaderisasi di level terbawah. Program yang ditawarkan harus menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat—seperti akses kesehatan yang berkeadilan di pelosok daerah, hingga perlindungan ekonomi bagi pelaku usaha mikro—daripada sekadar menjual citra “partai anak muda” yang terkadang terasa sangat urban-sentris.

“Arah politik masa depan akan kembali bertumpu pada kedekatan langsung dengan rakyat. Siapa yang paling sering berkeringat bersama warga di lapangan, dialah yang akan bertahan. Elit yang hanya berpindah partai tanpa mengubah cara kerja, hanya akan menjadi debu dalam catatan sejarah Pemilu kita,” pungkas Bagindo.

Perjalanan PSI untuk menjadi partai organik yang kuat masih sangat panjang. Perpindahan kader saat ini barulah babak awal dari drama sirkulasi elit. Publik kini menanti, apakah mawar merah ini akan benar-benar mekar di tanah rakyat, atau layu di ruang tunggu kekuasaan sebelum sempat berakar.

Hal ini menegaskan bahwa integritas sebuah partai diuji bukan saat ia menerima banyak pendatang, melainkan saat ia mampu membuktikan bahwa pendatang tersebut membawa perubahan bagi konstituennya. Di Sumatera Selatan, di mana karakter pemilih sangat dinamis, fenomena PSI akan menjadi laboratorium politik yang menarik untuk terus diamati dalam tahun-tahun mendatang.

(dhi)

NUSALY Channel

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version