Laporan Utama

Menjaga Ritme Kamtibmas Sumsel dari Andi Rian kepada Sandi Nugroho

Pergantian pucuk pimpinan di Kepolisian Daerah Sumatera Selatan bukan sekadar seremoni pertukaran pataka. Di tengah dinamika sosiopolitik yang kian kompleks, estafet kepemimpinan dari Irjen Pol Andi Rian R Djajadi kepada Irjen Pol Sandi Nugroho membawa misi krusial dalam menjaga ritme stabilitas yang telah terbangun tanpa kehilangan momentum inovasi.

Menjaga Ritme Kamtibmas Sumsel dari Andi Rian kepada Sandi Nugroho
Penyerahan Pataka "Athira Dhira Wirabakti" oleh Irjen Pol Andi Rian R Djajadi menjadi simbol de facto berpindahnya tanggung jawab menjaga ritme keamanan jutaan warga ke pundak Irjen Pol Dr. Sandi Nugroho. (Dok. Istimewa)

PALEMBANG, NUSALY — Riuh rendah lagu nostalgia yang dibawakan Reza Artamevia di Ballroom The Sultan Convention Center, Minggu (8/2/2026) malam, sejenak mencairkan kekakuan protokoler kepolisian. Namun, di balik kehangatan malam perpisahan tersebut, tersirat sebuah pesan penting mengenai kesinambungan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di salah satu provinsi paling strategis di Sumatera.

Irjen Pol Andi Rian R Djajadi meninggalkan kursi Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel) dengan catatan yang cukup tebal. Selama 1 tahun 4 bulan memimpin, perwira tinggi yang kini dipromosikan sebagai Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Wakalemdiklat) Polri ini, dinilai berhasil menavigasi pengamanan wilayah pasca-Pilkada tanpa gejolak berarti. Namun, bagi Andi Rian, pencapaian tersebut bukanlah milik personal, melainkan buah dari kepercayaan kolektif.

“Saya bangga pernah bersama kalian. Saya selanjutnya mendapat tugas sebagai Wakalemdiklat Polri. Keberhasilan yang kita raih adalah hasil kerja sama seluruh jajaran Polri, masyarakat, dan Forkopimda yang dipimpin Gubernur Herman Deru. Saya mohon doa restu,” ucap Andi Rian dengan suara tenang namun sarat emosi di hadapan ratusan tamu undangan. Pernyataan ini menegaskan bahwa stabilitas di Bumi Sriwijaya hanya bisa tegak jika ada orkestrasi yang harmonis antara aparat dan rakyat.

Modalitas Kamtibmas

Kini, tongkat komando resmi beralih kepada Irjen Pol Dr. Sandi Nugroho. Sebagai perwira yang sebelumnya mengomandani Divisi Humas Mabes Polri, Sandi membawa modalitas komunikasi yang berbeda, lebih terbuka, persuasif, namun tetap presisi dalam bertindak. Penyerahan Pataka “Athira Dhira Wirabakti” menjadi simbol de facto berpindahnya tanggung jawab menjaga ritme keamanan jutaan warga ke pundaknya.

Sandi menyadari bahwa ia mewarisi fondasi yang sudah solid, namun ia tidak ingin sekadar menjadi “penjaga gawang”. Dalam sambutannya, ia memberikan sinyal kuat akan adanya penguatan sinergi tanpa mengabaikan ketegasan hukum. “Apa yang telah dibangun akan kami jaga dan lanjutkan. Keamanan dan ketenteraman adalah tugas kita bersama. Mari kita terus berkolaborasi dan bersinergi demi Sumsel yang damai dan sejahtera,” tegas Sandi.

Kapolda baru ini bahkan menggunakan pendekatan kultural melalui pantun untuk menunjukkan niat tulusnya menyatu dengan kearifan lokal. “Kain emas ditenun dengan benang emas, beragam warna kain jumputan. Kami datang dengan niat yang ikhlas, mengabdi diri untuk Sumatera Selatan,” tuturnya, yang langsung disambut tepuk tangan riuh. Penggunaan pantun ini bukan sekadar pemanis acara, melainkan bentuk diplomasi halus untuk meredam potensi resistensi terhadap figur baru di lingkungan kepolisian daerah.

Sinergi Kebijakan

Dalam perspektif kebijakan publik, transisi kepemimpinan di tingkat polda sangat krusial bagi kepastian investasi dan ketenangan sosial. Gubernur Sumsel Herman Deru, dalam testimoninya, memberikan apresiasi yang melampaui sekadar urusan birokrasi. Ia menyebut Andi Rian sebagai sosok yang mampu menjaga ritme pembangunan, termasuk dalam isu-isu strategis di luar keamanan tradisional seperti produktivitas pangan.

“Pergi ke pasar naik delman, singgah sebentar membeli pepaya. Terima kasih Pak Andi Rian, mengabdi tulus di Bumi Sriwijaya,” ujar Herman Deru memulai sambutannya. Gubernur menegaskan bahwa di mata pemerintah daerah, Andi Rian telah melampaui peran sebagai mitra kerja.

“Beliau bukan hanya mitra kerja semata, tetapi telah menjadi sahabat dan keluarga. Sumsel terdiri dari beragam suku dan bahasa. Warganya lembut dan baik, meski tampak keras di luar,” tambahnya, memberikan “peta navigasi” sosial bagi Sandi Nugroho agar tidak salah langkah dalam mengambil kebijakan di masa depan.

Bagi Sandi Nugroho, tugas pertama yang menanti adalah memastikan mesin birokrasi di Polda Sumsel tetap berjalan optimal. Laporan satuan yang telah dipaparkan sebelumnya mencakup kerawanan kamtibmas, mulai dari isu narkotika hingga konflik lahan yang masih menjadi api dalam sekam di beberapa kabupaten. Dukungan dari jajaran Pejabat Utama serta para Kapolres menjadi jangkar agar proses adaptasi ini tidak memakan waktu lama, mengingat dinamika tahun 2026 yang menuntut gerak cepat kepolisian dalam merespons potensi gangguan.

Estafet ini bukan sekadar pergantian wajah, melainkan sebuah kontrak sosial baru antara Polri dan masyarakat Sumatera Selatan untuk mempertahankan indeks keamanan yang positif. (Dok. Sumeks.co)

Inovasi dan Harapan

Malam kenal pamit yang larut tersebut pada akhirnya menjadi cermin dari harapan besar publik. Dari Andi Rian, publik belajar tentang pentingnya stabilitas yang inklusif; dari Sandi Nugroho, publik menaruh harapan pada kepemimpinan yang lebih mengedepankan dialog tanpa kehilangan wibawa penegakan hukum. Estafet ini bukan sekadar pergantian wajah, melainkan sebuah kontrak sosial baru antara Polri dan masyarakat Sumatera Selatan untuk mempertahankan indeks keamanan yang positif.

Kredibilitas institusi di bawah nakhoda baru ini akan diuji oleh kemampuannya menangani persoalan di tingkat tapak. Sebagaimana bait pantun penutup Sandi, “Bila ada salah tutur kata dan sikap kami, mohon dimaafkan seratus persen,” ada sebuah pengakuan kerendahan hati yang diharapkan menjadi corak baru kepolisian yang lebih memanusiakan warga.

Harapan akan Sumsel yang damai kini sepenuhnya berada di pundak Irjen Sandi Nugroho. Kualitas keamanan masa depan wilayah ini akan sangat bergantung pada seberapa kuat ia mampu menenun sinergi di tengah arus perubahan zaman yang kian cepat dan kompleks. Di bawah bayang-bayang Jembatan Ampera, sebuah babak baru pengabdian bagi Bumi Sriwijaya resmi dimulai dengan komitmen untuk tetap menjaga ritme yang sudah terjaga dengan baik.

(emen)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version