Di tangan komunitas disabilitas lintas iman di Pontianak, limbah kopi bukan lagi sekadar sampah yang mencemari parit, melainkan simbol kemandirian dan kepedulian pada bumi. Melalui program GreenAbility, Eco Bhinneka Muhammadiyah merajut inklusivitas dalam gerakan konservasi, membuktikan bahwa menjaga alam adalah hak sekaligus kewajiban setiap raga tanpa terkecuali.
PONTIANAK, NUSALY – Kota Pontianak selalu identik dengan aroma kopi yang mengepul dari ribuan kedai di setiap sudut jalannya. Namun, di balik budaya “ngopi” yang kuat, tersimpan persoalan lingkungan yang pelik: tumpukan ampas kopi yang sering kali berakhir di saluran air, menyumbat parit, dan memicu genangan saat hujan tiba. Di titik inilah, sebuah gerakan inklusif bernama Together for People and Planet (ToPP) GreenAbility hadir membawa perspektif baru.
Program yang digagas oleh Eco Bhinneka Muhammadiyah ini memilih jalan yang tidak biasa. Mereka tidak hanya bicara soal penanaman pohon, tetapi merangkul penyandang disabilitas dari berbagai latar belakang agama untuk menjadi aktor utama konservasi. Pontianak menjadi salah satu dari empat titik krusial pelaksanaan program ini, selain Jakarta, Bojonegoro, dan Manokwari.
Fasilitator nasional GreenAbility, Intan Mustikasari, menegaskan bahwa krisis iklim tidak mengenal sekat fisik maupun keyakinan. “GreenAbility adalah upaya menguatkan teman-teman disabilitas lintas iman agar mereka bisa berperan aktif dalam konservasi lingkungan sekaligus memperjuangkan kesetaraan akses di masyarakat,” ujarnya dalam sebuah dialog di Pontianak, Sabtu (7/3/2026).
Ekonomi Sirkular
Fokus GreenAbility di Pontianak sangat membumi: mengolah limbah kopi menjadi produk bernilai ekonomi. Pendekatan ini merupakan penerapan nyata dari ekonomi sirkular, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari siklus baru.
Penyandang disabilitas yang telah memiliki usaha kafe didorong untuk naik kelas. Ampas kopi yang selama ini dibuang, kini diproses menjadi sabun organik ramah lingkungan. Fasilitator nasional lainnya, Windarti, menjelaskan bahwa langkah ini membunuh dua burung dengan satu batu: mengurangi beban limbah kota sekaligus menciptakan sumber pendapatan mandiri bagi komunitas difabel.
“Usahanya sudah ada, seperti kafe yang dikelola teman-teman disabilitas. Kami ingin memperkuatnya dengan perspektif lingkungan,” kata Windarti. Melalui sabun organik berbahan dasar ampas kopi, komunitas ini tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual nilai kepedulian terhadap ekosistem air di Pontianak yang kian rentan.
Jembatan Iman
Keunikan lain dari GreenAbility adalah penggunaan isu lingkungan sebagai “titik temu” lintas iman. Di tengah dinamika sosial yang terkadang tersekat oleh identitas agama, isu krisis iklim menjadi bahasa pemersatu yang cair. Di dalam forum-forum GreenAbility, identitas sebagai penjaga bumi (khalifah fil ardh) melampaui perbedaan teologis.
Menurut Windarti, pendekatan lintas iman adalah kekuatan utama. Di ruang kolaborasi ini, orang tidak lagi melihat latar belakang agama, melainkan kesamaan nasib sebagai penghuni planet yang sedang sakit. Komunitas disabilitas lintas iman di Pontianak kini berdiri di baris terdepan edukasi publik, menyuarakan pentingnya menjaga kebersihan parit dan sumber air dari sumbatan limbah domestik.
Gerakan ini juga menjadi otokritik bagi gerakan lingkungan arus utama yang selama ini sering kali abai terhadap aksesibilitas kelompok difabel. GreenAbility memastikan bahwa narasi konservasi air dan pengelolaan sampah disampaikan dengan format yang inklusif, sehingga tidak ada satu pun warga yang tertinggal dalam menerima informasi krusial mengenai keselamatan lingkungan.
Inklusi Sosial
Di balik aksi lingkungan, GreenAbility membawa misi besar mengenai hak-hak sipil. Di Pontianak, jumlah penyandang disabilitas diperkirakan mencapai 800 hingga 1.000 orang. Namun, angka ini masih menyimpan lubang besar; banyak dari mereka belum terdata secara resmi ( undocumented), yang berakibat pada minimnya akses terhadap layanan publik dan perlindungan sosial.
Intan Mustikasari menekankan bahwa kepercayaan diri adalah kunci. Program ini dirancang selama tiga tahun ke depan untuk memastikan kaum disabilitas tidak lagi merasa sebagai objek bantuan atau beban sosial. Mereka dibekali kapasitas untuk berani hadir di ruang publik, menyampaikan gagasan, hingga terlibat dalam pengambilan kebijakan di tingkat lokal.
Target jangka panjang dari kolaborasi Eco Bhinneka Muhammadiyah dan WWF Indonesia ini adalah menghapus stigma. Penyandang disabilitas bukan lagi sekadar “penerima bantuan”, melainkan mitra strategis dalam membangun masa depan yang berkelanjutan. Keadilan iklim hanya bisa tercapai jika akses terhadap lingkungan yang bersih dan kesempatan untuk berkontribusi dibuka seluas-luasnya bagi semua lapisan masyarakat.
Masa Depan
Keberlanjutan bumi pada akhirnya bukan hanya soal kecanggihan teknologi pengolahan limbah, melainkan soal seberapa luas hati kita untuk melibatkan semua orang. GreenAbility di Pontianak telah memulai langkah kecil namun fundamental: mengubah ampas kopi menjadi sabun, dan mengubah stigma menjadi aksi nyata.
Perjalanan tiga tahun ke depan akan menjadi pembuktian bagi komunitas disabilitas lintas iman di Bumi Khatulistiwa. Di tengah deru mesin kota dan aroma kopi yang memenuhi udara, suara-suara mereka kini mulai terdengar lebih nyaring—bukan meminta belas kasihan, melainkan menawarkan solusi bagi bumi yang kian menua. Inilah esensi dari pembangunan berkelanjutan yang sesungguhnya: memastikan bahwa dalam menjaga bumi, tidak ada satu pun raga yang ditinggalkan di belakang. (*)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
