Sumsel Maju Terus untuk Semua

Herman Deru Minta Pergub untuk Jaga Warisan Budaya Sumsel

Herman Deru Minta Pergub untuk Jaga Warisan Budaya Sumsel
Gubernur Sumsel Herman Deru instruksikan pembuatan Pergub untuk festival adat agar pelestarian budaya tidak bergantung pada selera rezim pemerintahan. Dok. BHP Pemprov Sumsel/nusaly.com

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyiapkan regulasi tetap agar festival adat tidak bergantung pada pergantian rezim pemerintahan.

PALEMBANG, NUSALY – Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menginstruksikan jajarannya untuk segera merumuskan Peraturan Gubernur atau Surat Keputusan Gubernur guna menjamin keberlanjutan Festival Seni Adat dan Tradisi. Regulasi itu disiapkan agar festival kebudayaan tersebut menjadi agenda tahunan yang tetap, terlepas dari pergantian pemerintahan.

Festival Seni Adat dan Tradisi ini sempat tidak digelar sejak tahun 2023. Saat membuka kembali acara tersebut di kompleks Anjungan Sumatera Selatan, Jakabaring, Palembang, Rabu (24/6/2026), Herman Deru menegaskan pelestarian kebudayaan memerlukan kepastian hukum agar tidak tergerus oleh kemajuan teknologi.

“Inilah penahan agar budaya adat kita tidak tergerus oleh kemajuan teknologi dan informasi. Kita harus memberikan pijakan yang kuat bagi anak cucu agar tidak lepas dari akar budaya Sumatera Selatan. Regulasi kuat adalah kuncinya,” ujar Herman Deru.

Optimalisasi anjungan budaya

Selain meminta regulasi permanen, Herman Deru juga meminta seluruh bupati dan wali kota di Sumatera Selatan untuk mengoptimalkan fungsi kompleks Anjungan Kabupaten/Kota di Jakabaring. Kompleks yang memiliki arsitektur rumah adat dari 17 daerah tersebut diminta dimanfaatkan sebagai kantor penghubung resmi sekaligus pusat kegiatan berkala agar aset daerah tidak terbengkalai.

Ketua Dekranasda Sumatera Selatan Feby Herman Deru menambahkan, komitmen bupati dan wali kota dibutuhkan untuk mengalokasikan anggaran perawatan rumah adat sesuai pakem aslinya.

Saat ini, Dekranasda bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel sedang merencanakan pemanfaatan bangunan utama kompleks tersebut menjadi Museum Wastra Sumatera Selatan untuk memamerkan kain-kain kuno langka.

Festival yang berlangsung selama dua hari hingga Kamis (25/6/2026) ini menghadirkan pameran arsitektur, seni pertunjukan, lokakarya budaya, serta melibatkan 20 pelaku UMKM dan industri kreatif wastra lokal sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif daerah. (dhi)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang

Exit mobile version