PALEMBANG, NUSALY — Dalam siklus penanggalan Hijriah, bulan Syaban menempati posisi unik sebagai waktu “pemanasan” sebelum umat Islam menunaikan ibadah puasa wajib sebulan penuh. Salah satu amalan yang menjadi sorotan adalah puasa Ayyamul Bidh—puasa pada hari-hari putih saat bulan purnama penuh—yang jatuh pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan. Pada tahun ini, momentum tersebut bertepatan dengan awal Februari 2026, menciptakan ruang bagi umat untuk melakukan refleksi di ambang pintu Ramadan.
Secara historis, Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada bulan kedelapan ini. Merujuk pada riwayat Aisyah RA, Syaban adalah bulan yang paling sering digunakan oleh Nabi untuk berpuasa sunnah, bahkan sering kali disambung langsung dengan ibadah di bulan Ramadan. Hal ini menunjukkan bahwa Syaban bukan sekadar masa tunggu, melainkan periode krusial untuk mempertebal kedisiplinan diri dan menjaga konsistensi ibadah.
Melaksanakan puasa Ayyamul Bidh pada 1, 2, dan 3 Februari 2026 menjadi kesempatan strategis untuk melatih metabolisme tubuh dan ketenangan jiwa. Di tengah dinamika kehidupan perkotaan yang serba cepat, jeda tiga hari ini menawarkan kesempatan untuk menarik diri sejenak dari rutinitas konsumsi dan fokus pada pembersihan sosioreligius.
Tradisi Hari-hari Putih
Istilah Ayyamul Bidh atau “hari-hari putih” merujuk pada kondisi alamiah saat cahaya bulan mencapai puncaknya, menerangi malam dengan benderang. Dalam perspektif keagamaan, kejernihan malam-malam tersebut dianalogikan dengan harapan akan kejernihan hati bagi mereka yang menjalankannya. Puasa ini merupakan sunnah muakad, sebuah anjuran yang sangat ditekankan namun tidak bersifat wajib.
Jadwal pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh pada bulan Syaban 1447 H jatuh pada:
- Minggu, 1 Februari 2026 (13 Syaban)
- Senin, 2 Februari 2026 (14 Syaban)
- Selasa, 3 Februari 2026 (15 Syaban)
Pelaksanaan niat puasa ini memiliki kelonggaran yang mencerminkan sifat inklusif ibadah sunnah. Meskipun idealnya diucapkan pada malam hari hingga sebelum fajar, seseorang yang belum mengonsumsi apa pun setelah fajar dan mendadak berniat menunaikan puasa ini pada pagi hari tetap dianggap sah secara syariat. Hal ini memberikan ruang bagi setiap individu untuk menyesuaikan kondisi fisik dan niatnya di tengah kesibukan harian.
Titik Temu dengan Nisfu Syaban
Keunikan puasa Ayyamul Bidh di bulan Syaban kali ini adalah persinggungannya dengan malam Nisfu Syaban yang jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026. Dalam tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, Nisfu Syaban sering dianggap sebagai malam pelaporan amal tahunan kepada Sang Pencipta. Pertemuan dua momentum ini sering kali memicu diskusi mengenai prioritas ibadah di hari tersebut.
Para ulama dan lembaga pendidikan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta para akademisi di lingkungan universitas Islam menekankan bahwa mengedepankan puasa Ayyamul Bidh adalah langkah yang bijak. Hal ini didasarkan pada landasan hukum (dalil) yang lebih kuat dan disepakati kesunnahannya secara luas. Berpuasa di hari ke-15 Syaban dalam kerangka Ayyamul Bidh memastikan seseorang tetap berada dalam koridor sunnah yang jelas, sembari tetap menghidupkan malamnya dengan zikir dan doa.
Mempraktikkan puasa pada hari Nisfu Syaban melalui skema Ayyamul Bidh juga menghindarkan umat dari perdebatan teknis mengenai validitas hadis-hadis khusus terkait puasa Nisfu Syaban yang sering dipersoalkan kesahihannya. Dengan demikian, fokus utama tetap terjaga: meningkatkan kualitas ketakwaan tanpa harus terjebak dalam polemik perbedaan pendapat yang kontraproduktif.
Kesiapan Menuju Ramadan
Nilai intrinsik dari puasa Syaban, termasuk Ayyamul Bidh, terletak pada fungsinya sebagai jembatan ketahanan. Puasa selama tiga hari berturut-turut membantu tubuh beradaptasi dengan pola makan yang baru, sehingga saat Ramadan tiba, transisi fisik tidak lagi menjadi beban yang berat. Ini adalah bentuk kearifan dalam beribadah; tidak memaksakan diri secara mendadak, melainkan membangun kekuatan secara bertahap.
Lebih dari sekadar fisik, Syaban adalah waktu untuk menata kembali prioritas batin. Puasa sunnah menjadi sarana untuk melatih kesabaran, empati terhadap sesama, dan pengendalian diri atas dorongan-dorongan impulsif. Di dunia yang semakin bising oleh distorsi informasi dan materialisme, praktik sunnah seperti ini menjadi alat untuk menemukan kembali titik keseimbangan hidup.
Menjalankan puasa Ayyamul Bidh di bulan Syaban adalah undangan bagi setiap pribadi untuk mempersiapkan bekal terbaik. Saat fajar menyingsing di awal Februari nanti, tiga hari tersebut akan menjadi saksi dari keseriusan seseorang dalam menyambut bulan yang lebih besar. Keberkahan yang dicari bukan sekadar penghapusan dosa, melainkan transformasi diri menjadi manusia yang lebih tangguh dan penuh kasih sebelum akhirnya tiba di gerbang Ramadan.
(dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
