SEKAYU, NUSALY — Yogyakarta, yang sering dijuluki sebagai rahim intelektual Indonesia, telah lama menjadi rumah kedua bagi para pelajar dan mahasiswa asal Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Namun, kehidupan di perantauan bukan tanpa tantangan. Infrastruktur tempat tinggal yang layak dan aksesibilitas kepulangan ke kampung halaman menjadi variabel krusial yang menentukan ketenangan studi para “duta daerah” ini.
Menyadari hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin menerima audiensi Pengurus Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa (IKPM) Muba Yogyakarta di Ruang Rapat Randik Sekretariat Daerah Muba, Rabu (28/1/2026). Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi birokrasi, melainkan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan narasi realitas yang mereka hadapi di “Kota Pelajar”.
Mewakili Bupati Muba H. M. Toha Tohet, Asisten I Setda Muba H. Ardiansyah menegaskan bahwa mahasiswa di luar daerah bukan sekadar warga yang merantau, melainkan aset strategis daerah. “Mahasiswa adalah aset SDM unggul yang diharapkan berperan besar dalam pembangunan daerah ke depan,” ujar Ardiansyah.
Infrastruktur Asrama: Simbol Kehadiran Negara
Salah satu isu mendasar yang mencuat dalam pertemuan tersebut adalah kondisi Asrama Randuk (putri) dan Asrama Ranggonang (putra) di Yogyakarta. Menariknya, Muba merupakan satu dari sedikit daerah di Sumatera Selatan yang memiliki fasilitas asrama khusus mahasiswa di Yogyakarta—sebuah kebijakan progresif yang menjadikannya sebagai percontohan bagi kabupaten/kota lain.
Ketua IKPM Muba Yogyakarta periode 2025–2027, Mutia Mei Sari, menekankan bahwa revitalisasi fasilitas asrama sangat mendesak dilakukan demi menjaga kenyamanan dan martabat mahasiswa Muba. “Kami berharap ada perbaikan dan peningkatan fasilitas agar asrama tetap layak. Ini bukan sekadar tempat tinggal, tapi simbol kehadiran Pemkab Muba di Yogyakarta,” kata Mutia.
Secara makro, perawatan asrama mahasiswa di luar daerah merupakan bentuk investasi jangka panjang dalam menjaga stabilitas pendidikan warga daerah. Menanggapi hal itu, Ardiansyah menyatakan bahwa Pemkab Muba akan segera melakukan inventarisasi kondisi fisik bangunan. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan melalui kemampuan keuangan daerah benar-benar menjawab kebutuhan riil mahasiswa.
Mudik Gratis dan Sentimen Keamanan Sosial
Di sisi lain, IKPM juga menyuarakan keberlanjutan program mudik gratis yang telah menjadi kebijakan iconic Pemkab Muba. Program ini dinilai bukan hanya soal efisiensi biaya perjalanan, melainkan bentuk jaminan sosial dan keamanan transportasi bagi mahasiswa serta masyarakat Muba di Yogyakarta yang ingin kembali ke kampung halaman saat hari besar keagamaan.
Ardiansyah memastikan bahwa program tersebut tetap menjadi agenda rutin tahunan. “Mudik gratis tetap dilaksanakan. Kami tinggal menginventarisasi jumlah mahasiswa di Yogyakarta agar kapasitas angkut yang dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” jelasnya.
Kebijakan ini mencerminkan pendekatan jurnalisme solusi dalam tata kelola pemerintahan daerah, di mana pemerintah hadir untuk memitigasi kendala logistik bagi warganya yang sedang menempuh pendidikan di luar provinsi.
Membangun Narasi Kemandirian Organisasi
Selain urusan fasilitas, Pemkab Muba mendorong IKPM Yogyakarta untuk bertransformasi menjadi wadah diskusi yang inovatif. Kemandirian organisasi dipandang penting agar IKPM tidak hanya menjadi kelompok yang bergantung pada anggaran daerah, tetapi mampu melahirkan gagasan-gagasan baru yang bisa disumbangkan kembali ke Musi Banyuasin.
Struktur kepengurusan IKPM Yogyakarta periode 2025-2027 yang berjumlah 29 orang diharapkan mampu menjadi jembatan informasi antara Pemkab Muba dan perkembangan sains-teknologi di Yogyakarta. Penekanan pada aspek SDM unggul ini sejalan dengan visi Muba untuk mencetak generasi yang mampu bersaing di level nasional tanpa melupakan akar daerahnya.
Audiensi ini menutup hari dengan sebuah kesepakatan moral: bahwa pendidikan adalah kerja kolaboratif. Pemkab menyediakan sarana dan perlindungan, sementara mahasiswa menyediakan dedikasi dan prestasi. Di tengah hiruk-pikuk Yogyakarta, mahasiswa Muba kini memiliki kepastian bahwa suara mereka tetap didengar di gedung-gedung pemerintahan di Sekayu.
(hra)
NUSALY Channel
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
