Bunda Literasi Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, menemui Kepala Perpusnas RI untuk menyelaraskan gerak literasi daerah. Sebuah upaya memastikan perpustakaan bukan sekadar gudang buku, melainkan jantung peradaban warga.
JAKARTA, NUSALY – Di tengah kepungan arus informasi digital yang kian deras, buku sering kali dipandang sebagai relik masa lalu yang mulai ditinggalkan. Namun, bagi Pemerintah Kota Palembang, buku tetaplah komoditas paling berharga dalam investasi sumber daya manusia. Keyakinan inilah yang membawa Bunda Literasi Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, menembus kemacetan Jakarta menuju gedung Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI di Jalan Medan Merdeka Selatan, Kamis (5/2/2026).
Pertemuan dengan Kepala Perpusnas RI, Prof. E. Aminudin Aziz, bukan sekadar agenda kunjungan kerja biasa yang sarat seremoni. Ada keresahan yang tersirat dari rombongan asal Sumatera Selatan ini tentang bagaimana mendongkrak minat baca yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di tingkat daerah. Dewi Sastrani menyadari, tanpa dukungan kuat dari hulu—yakni Perpusnas—napas literasi di daerah bisa saja tersengal-sengal.
Dalam audiensi tersebut, Dewi tidak sendirian. Ia hadir bersama Duta Literasi Provinsi Sumsel, Ratu Tenny Leriva, dan jajaran penggerak literasi dari kabupaten/kota tetangga. Kehadiran mereka seolah menjadi sinyal bahwa Sumatera Selatan sedang berupaya membangun benteng literasi yang kokoh melalui penyelarasan visi dengan program nasional.
Tujuan besarnya jelas: menyinkronkan gerak. Dewi ingin memastikan bahwa apa yang dirancang di Jakarta bisa mendarat dengan tepat di perpustakaan-perpustakaan lorong di Palembang. Tanpa sinkronisasi, bantuan fisik maupun program literasi hanya akan menjadi tumpukan dokumen tanpa dampak nyata bagi masyarakat.
Mengubah Angka Menjadi Budaya
Target yang dibidik dalam audiensi ini memang bersifat administratif, yakni peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM). Namun, bagi Dewi Sastrani, angka-angka itu hanyalah muara. Proses yang jauh lebih penting adalah bagaimana mengubah kebiasaan membaca menjadi bagian dari gaya hidup keluarga di Palembang.
Peran Bunda Literasi di sini menjadi sangat krusial sebagai “influencer” sosial yang mampu menggerakkan para orang tua. Dewi menekankan bahwa literasi harus dimulai dari meja makan dan ruang tamu rumah tangga. Jika keluarga tidak lagi menganggap buku sebagai benda penting, maka fasilitas perpustakaan semegah apa pun tidak akan pernah ramai dikunjungi.
Kekaguman Dewi sempat membuncah saat ia menyisir koleksi di Perpusnas. Ia menyoroti betapa lengkapnya rujukan pengetahuan di sana, mulai dari sejarah biografi pemimpin bangsa hingga literatur populer. “Di gedung ini, kita bisa melihat wajah Indonesia melalui ribuan judul buku. Ini bukan cuma rujukan, tapi warisan yang sangat berharga bagi siapa saja yang mau menggali pengetahuan,” tuturnya saat melihat deretan biografi Presiden Indonesia.
Gerbang Ilmu yang Tak Boleh Tertutup
Meski begitu, fasilitas lengkap di Jakarta hanyalah inspirasi. Tantangan sesungguhnya adalah membawa semangat itu pulang ke Bumi Sriwijaya. Dewi tak bosan-bosannya menitipkan pesan untuk anak-anak sekolah dan generasi muda di Palembang agar tidak menjauhi perpustakaan. Ia ingin mengubah stigma perpustakaan dari tempat yang kaku dan sunyi menjadi ruang belajar terbuka yang dinamis.
Baginya, membaca adalah fondasi utama untuk membangun daya saing. Di era persaingan global, anak muda yang malas membaca akan mudah tergilas oleh hoaks dan informasi yang dangkal. Membaca memberikan kedalaman berpikir, sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk membangun Palembang di masa depan.
“Membaca itu gerbang pengetahuan. Kami ingin anak-anak di sekolah tidak sekadar membaca karena tugas, tapi karena mereka haus akan ilmu. Itulah fondasi sebenarnya dari generasi yang cerdas dan berdaya saing,” pungkas Dewi menutup pembicaraan.
Melalui audiensi ini, Palembang sedang berupaya memastikan bahwa gerbang pengetahuan itu tetap terbuka lebar. Kerjasama dengan Perpusnas RI diharapkan tidak hanya berhenti pada penandatanganan berkas, tetapi melahirkan program-program segar yang membuat warga Palembang kembali jatuh cinta pada buku.
(desta)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
