MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --
Ekologi & Iklim

Kain Merah di Kordaimahkrah Menjaga Ruang Hidup Masyarakat Distrik Konda

Kain Merah di Kordaimahkrah Menjaga Ruang Hidup Masyarakat Distrik Konda
Masyarakat Adat Distrik Konda melakukan pemalangan patok adat di hutan mereka sebagai benteng pertahanan terakhir dari ekspansi perkebunan kelapa sawit. Dok. Istimewa

Masyarakat Adat Distrik Konda melakukan pemalangan patok adat di hutan mereka sebagai benteng pertahanan terakhir dari ekspansi perkebunan kelapa sawit. Di tengah ancaman konsesi belasan ribu hektar, warga memilih menanam tanda batas secara ritual demi memastikan masa depan generasi mendatang tidak tercerabut dari akar alamnya.

SORONG SELATAN, NUSALY – Di bawah rimbunnya hutan primer Distrik Konda, Sorong Selatan, Papua Barat Daya, puluhan pasang kaki menyisir jalan setapak yang nyaris tertutup semak. Mereka bukan sedang berburu, melainkan sedang meneguhkan kedaulatan atas tanah ulayat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dengan membawa kain merah dan cat merah, para tetua adat, pemuda, hingga mama-mama bergerak dalam hening yang sakral untuk menandai batas-batas hutan mereka.

Rabu (4/3/2026), menjadi hari bersejarah bagi warga Kampung Nakna, Distrik Konda, dan Kampung Keyen, Distrik Teminabuan. Mereka melakukan ritual pemasangan patok adat di area hutan bernama Kordaimahkrah, Sun, Mondarmbe, dan Nimadaduk. Langkah ini diambil sebagai respons atas kekhawatiran yang kian memuncak terhadap rencana masuknya investasi perkebunan kelapa sawit oleh PT Anugerah Sakti Internusa (ASI).

Bagi masyarakat adat di Distrik Konda, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan atau tanah kosong. Hutan adalah supermarket alami, apotek hidup, sekaligus identitas spiritual yang tidak bisa ditukar dengan nilai ekonomi jangka pendek. Melalui pemalangan patok adat ini, mereka mengirimkan pesan tegas kepada pihak perusahaan dan pemerintah: hutan adat mereka memiliki pemilik sah.

Melindungi Napas Kehidupan

Bapak Yance Mondar, tokoh masyarakat yang memimpin patroli hutan tersebut, mengungkapkan ketakutan yang nyata jika hutan adat mereka jatuh ke tangan korporasi. Menurutnya, kehadiran kelapa sawit hanya akan mendatangkan pembongkaran hutan secara masif yang berujung pada hilangnya ruang hidup.

“Kami survei dan buat patok adat ini karena ada rencana masuknya kelapa sawit. Kami takut, kalau kelapa sawit ini masuk, nanti dia bongkar kami punya hutan yang sedikit ini, lalu kami mau hidup di mana? Kami mau berburu di mana? Kami mau berkebun di mana?” ujar Yance dengan nada getir.

Kekhawatiran Yance beralasan. Hutan Konda merupakan habitat bagi keanekaragaman hayati yang kaya, mulai dari babi hutan, kasuari, kanguru pohon, maleo, hingga rusa. Hewan-hewan ini adalah sumber protein dan bagian dari rantai makanan masyarakat adat. Jika hutan dikonversi menjadi monokultur sawit, seluruh ekosistem tersebut dipastikan akan runtuh.

Senada dengan Yance, Mama Grice Mondar menegaskan komitmennya untuk menjaga warisan moyang. Baginya, hutan adalah titipan untuk anak cucu di masa depan. “Hutan ini dari orang tua moyang untuk kami, dan kami juga akan wariskan untuk anak cucu kami. Jadi kami tetap tolak kelapa sawit di hutan kami,” tegasnya.

Apotek Hidup dan Ruang Kreativitas

Bagi kaum perempuan atau “mama-mama” di Distrik Konda, hutan memiliki makna ekonomi dan kesehatan yang sangat personal. Mama Fransina Sianggo menceritakan bagaimana hutan menyediakan ramuan obat-obatan tradisional setiap kali ada anggota keluarga yang jatuh sakit. Hutan juga menjadi penyedia bahan baku kerajinan tangan, seperti daun tikar dan rumput untuk membuat noken.

“Kami ambil daun tikar dan rumput untuk buat noken dan tikar untuk kebutuhan kami,” kata Fransina. Hilangnya hutan berarti hilangnya akses mereka terhadap kedaulatan kesehatan dan kemandirian ekonomi berbasis kerajinan tangan tradisional.

Upaya pematokan adat ini juga melibatkan berbagai marga, seperti Marga Kareth Sarus, Marga Sianggo, Marga Karet, dan Marga Kemeray. Keterlibatan lintas marga ini menunjukkan solidaritas yang kuat bahwa ancaman investasi sawit tidak hanya berdampak pada satu keluarga, melainkan seluruh entitas sosial di Distrik Konda.

Tokoh adat Afsya, Bapak Yulian Kareth, menegaskan bahwa perusahaan harus menghormati hak kepemilikan masyarakat adat. “Hutan ini bukan tanah kosong, ada pemiliknya. Jadi sampai kapan pun kami tetap tolak kelapa sawit,” ujarnya. Pernyataan ini sekaligus menyentil narasi pembangunan yang sering kali menganggap wilayah hutan di Papua sebagai lahan “terlantar” yang siap digarap investor.

Upaya pematokan adat ini juga melibatkan berbagai marga, seperti Marga Kareth Sarus, Marga Sianggo, Marga Karet, dan Marga Kemeray. Dok. Istimewa

Ancaman Konsesi di Hutan Primer

PT ASI saat ini disebut tengah mengincar wilayah hutan adat di Distrik Konda dan Distrik Teminabuan dengan izin konsesi mencapai 14.000 hektar. Luasan ini dipandang sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan hutan primer di Papua Barat Daya, yang kian hari kian tergerus oleh kepentingan ekstraktif.

Sejarah mencatat bahwa Tanah Papua selalu menjadi magnet bagi investasi yang ingin mengeksploitasi hutan perawan. Namun, gerakan pemalangan patok adat di Distrik Konda menunjukkan adanya kesadaran kolektif yang meningkat dari masyarakat lokal untuk mempertahankan hak ulayatnya. Edukasi kepada generasi muda di internal marga dan suku juga menjadi bagian dari agenda patroli hutan ini, agar pengetahuan tentang batas wilayah dan kecintaan pada alam tidak luntur tergerus zaman.

Kain merah yang kini terikat di pepohonan Kordaimahkrah adalah simbol keberanian sekaligus peringatan. Ia menandai sebuah garis batas yang tidak boleh dilewati oleh siapa pun tanpa izin pemilik ulayat. Masyarakat Distrik Konda telah memilih jalannya sendiri: menjaga hutan agar tetap hijau, agar babi hutan tetap berlari, dan agar mama-mama tetap bisa merajut noken di bawah naungan pohon yang telah berdiri sejak zaman moyang mereka. (*)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

error: Content is protected !!
Exit mobile version