Fokus Utama

Kebakaran Lahan Gambut di Tulung Selapan OKI Belum Padam

Kebakaran Lahan Gambut di Tulung Selapan OKI Belum Padam
Kebakaran lahan gambut di Tulung Selapan, OKI belum padam memasuki hari kedua dan meluas hingga 20 hektare. Dok. Istimewa

Luas area yang terbakar bertambah dari 12 hektare menjadi 20 hektare di tengah menyusutnya pasokan air kanal.

KAYUAGUNG, NUSALY – Kebakaran lahan gambut di Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, belum berhasil dipadamkan hingga memasuki hari kedua. Luas area yang terbakar bahkan bertambah dari sekitar 12 hektare menjadi sekitar 20 hektare di tengah menyusutnya ketersediaan air di kanal-kanal sekitar lokasi.

Kebakaran di lahan milik warga Desa Tulung Selapan Ilir tersebut pertama kali terdeteksi pada Jumat (17/7/2026). Hingga hari kedua, vegetasi yang terbakar didominasi oleh semak belukar, anakan kayu gelam, belidang, serta kumpaian.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto menjelaskan, tim gabungan dari Manggala Agni Daops Sumatera XVII/OKI, BPBD, dan TNI kini berfokus memutus penjalaran api yang merambat ke jalur hijau serta melakukan proses mopping up. Upaya darat tersebut didukung operasi udara melalui dua helikopter water bombing dari BNPB.

Hambatan air

Pemadaman di lokasi tidak hanya dilakukan melalui operasi udara. Di lapangan, tim juga harus memutus penjalaran api yang tersebar di sejumlah titik, sementara ketersediaan air di kanal primer maupun kanal cacing terus menyusut.

“Status belum padam. Spot kebakaran banyak dan tersebar, serta beberapa titik jauh dari sumber air. Ketersediaan air semakin kecil di kanal-kanal primer maupun kanal cacing,” ujar Ferdian melalui keterangan resmi, Sabtu (18/7/2026).

Pada operasi hari pertama, tim baru berhasil memadamkan lahan seluas kurang lebih 1 hektare. Guna mempercepat lokalisasi api di sektor Tulung Selapan, Manggala Agni berencana menambah satu regu personel tambahan untuk memperkuat dua regu yang sudah bekerja di lapangan.

Modifikasi cuaca

Sebagai upaya membantu pemadaman, Kementerian Kehutanan akan menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) mulai 19 hingga 30 Juli. Operasi dilakukan melalui penyebaran garam (NaCl) ke awan yang berpotensi menghasilkan hujan di wilayah terdampak.

“Rencana operasi modifikasi cuaca dukungan dari Kemenhut direncanakan mulai besok (19/7) hingga (30/7),” kata Ferdian.

Operasi modifikasi cuaca dijadwalkan berlangsung pada 19–30 Juli untuk mendukung upaya penanganan karhutla di kawasan gambut OKI. (puputzch)

Exit mobile version