Oleh : Ahmad Bermawi, S.Pd, M.Pd
(Kepala SMK Bina Bangsa, Kayuagung, OKI, Sumatera Selatan)

1. Pendahuluan
Pendidikan vokasi memiliki peran penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang siap kerja dan kompeten. Namun, di Indonesia, lulusan SMK sering kali menghadapi kesulitan untuk memasuki dunia kerja. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2022, tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan SMK mencapai 8,49%, lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan SMA. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki oleh lulusan SMK dan kebutuhan industri. SMK Bina Bangsa Kayuagung, sebagai salah satu institusi pendidikan vokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), juga menghadapi tantangan serupa.
Untuk menjawab tantangan tersebut, SMK Bina Bangsa mengembangkan program Teaching Factory, yang mengintegrasikan kegiatan produksi nyata ke dalam proses pembelajaran. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah memproduksi lampu LED karya siswa, yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis, kewirausahaan, serta daya saing lulusan di pasar kerja. Program ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi masalah rendahnya tingkat penyerapan lulusan SMK di dunia kerja.
2. Latar Belakang
Di era globalisasi dan revolusi industri 4.0, keterampilan teknis dan adaptabilitas menjadi faktor kunci dalam memenangkan persaingan di pasar tenaga kerja. Namun, banyak lulusan SMK yang masih belum siap memasuki dunia kerja karena keterbatasan pengalaman praktik dan kurangnya koneksi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Di SMK Bina Bangsa, dari 40 lulusan tahun ajaran 2022/2023, hanya 15% yang berhasil mendapatkan pekerjaan di sektor formal, sementara 80% lainnya belum terserap di dunia kerja.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran tersendiri, baik bagi pihak sekolah maupun orang tua siswa. Sebagai langkah awal, SMK Bina Bangsa melakukan analisis mendalam melalui Tracer Study untuk mengidentifikasi masalah utama yang dihadapi lulusan. Dari hasil studi tersebut, ditemukan bahwa banyak lulusan yang memiliki keterampilan teknis dasar, tetapi tidak cukup kompeten dalam bidang spesifik yang dibutuhkan oleh industri. Selain itu, minimnya fasilitas praktik dan koneksi dengan DUDI menjadi hambatan besar dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja.
3. Tujuan Program Teaching Factory
Program Teaching Factory di SMK Bina Bangsa dirancang dengan beberapa tujuan utama, yaitu:
- Meningkatkan Keterampilan Teknis Siswa: Melalui keterlibatan langsung dalam proses produksi lampu LED, siswa dapat mengembangkan keterampilan teknis spesifik yang relevan dengan kebutuhan industri.
- Meningkatkan Kemandirian Finansial Siswa: Program ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan penghasilan tambahan melalui penjualan produk, sehingga mereka dapat belajar tentang kewirausahaan sejak dini.
- Mengurangi Pengangguran Lulusan SMK: Dengan menyediakan lapangan kerja bagi siswa dan lulusan yang terlibat dalam program, SMK Bina Bangsa berharap dapat mengurangi tingkat pengangguran lulusan.
- Meningkatkan Kerjasama dengan DUDI: Program ini juga bertujuan untuk mempererat hubungan antara sekolah dengan industri, sehingga dapat membuka lebih banyak peluang kerja bagi lulusan di masa depan.
4. Tantangan yang Dihadapi
4.1 Kurangnya Fasilitas dan Sarana Belajar
Fasilitas yang memadai menjadi salah satu kunci keberhasilan program Teaching Factory. Namun, keterbatasan anggaran sering kali menjadi penghambat dalam penyediaan fasilitas seperti ruang praktik, alat produksi, dan bahan baku. SMK Bina Bangsa sendiri masih menghadapi tantangan dalam menyediakan peralatan dan mesin produksi yang sesuai dengan standar industri. Hal ini mempengaruhi kelancaran proses produksi dan kualitas produk yang dihasilkan.
4.2 Keterbatasan Sumber Daya Manusia
Program ini membutuhkan tenaga pengajar yang kompeten dalam bidang teknik produksi, manajemen, dan pemasaran. Namun, tidak semua guru memiliki pengalaman dalam industri, sehingga diperlukan pelatihan tambahan untuk meningkatkan kapasitas mereka. Selain itu, siswa yang terlibat dalam program ini juga perlu mendapatkan pelatihan intensif agar dapat memahami seluruh proses produksi dengan baik.
4.3 Minimnya Dukungan dari DUDI
Meskipun sudah ada beberapa MoU dengan DUDI, sebagian besar masih sebatas pada program magang dan belum berlanjut ke penyaluran kerja atau kerjasama produksi yang lebih konkret. Hal ini menyebabkan keterbatasan akses siswa terhadap lingkungan kerja yang sebenarnya, sehingga mereka belum dapat sepenuhnya mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dunia kerja.
5. Implementasi Program
5.1 Pelatihan dan Persiapan

Implementasi program Teaching Factory dimulai dengan pelatihan guru oleh CV Merah Putih Jakarta, mitra yang bergerak di bidang produksi lampu LED. Tiga orang guru dari SMK Bina Bangsa mendapatkan pelatihan intensif selama dua hari, yang mencakup teknik perakitan, manajemen produksi, hingga pemasaran produk. Setelah pelatihan ini, guru-guru tersebut melatih siswa dari kelas X, XI, dan XII yang terpilih untuk terlibat dalam program ini.
Pelatihan siswa dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, siswa dilatih untuk memahami dasar-dasar perakitan komponen lampu LED. Setelah mereka menguasai teknik dasar, siswa kemudian dibagi ke dalam beberapa tim yang bertanggung jawab atas perakitan, kontrol kualitas, pengemasan, dan pemasaran. Setiap tim dipandu oleh seorang guru yang memastikan bahwa proses produksi berjalan sesuai dengan standar yang ditetapkan.
5.2 Proses Produksi
Produksi lampu LED dilakukan di ruang Teaching Factory yang sudah dilengkapi dengan peralatan dasar seperti solder, obeng, tang, dan alat pengujian kualitas. Pada awalnya, produksi hanya mencapai 10 lampu per hari, dengan banyak produk yang tidak memenuhi standar kualitas. Namun, seiring dengan peningkatan keterampilan siswa, produksi meningkat menjadi 30 lampu per hari dengan tingkat kerusakan yang menurun signifikan.
Setiap siswa memiliki peran spesifik dalam proses produksi. Beberapa siswa bertanggung jawab untuk merakit komponen elektronik, sementara yang lain melakukan pengujian kualitas. Tim pemasaran bertugas untuk mempromosikan produk melalui media sosial dan jaringan komunitas. Selama lima bulan pertama, program ini berhasil memproduksi lebih dari 1.500 lampu LED, yang sebagian besar dijual kepada masyarakat lokal dan sekolah-sekolah sekitar.
5.3 Pemasaran dan Promosi
Untuk memperluas jangkauan pasar, SMK Bina Bangsa mengadakan berbagai kegiatan promosi seperti bazar, pameran, dan kampanye di media sosial. Produk lampu LED dipromosikan melalui akun Facebook dan Instagram sekolah, serta melalui kerjasama dengan beberapa lembaga pendidikan dan komunitas lokal. Program ini mendapat respon positif dari masyarakat, yang tidak hanya tertarik pada produk lampu LED, tetapi juga pada konsep Teaching Factory yang diterapkan oleh sekolah.

6. Hasil Program
Setelah lima bulan pelaksanaan, program ini menunjukkan beberapa hasil positif:
- Peningkatan Keterampilan Siswa: Sebanyak 25 siswa yang terlibat dalam program ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan teknis dan manajerial. Mereka tidak hanya menguasai teknik perakitan lampu LED, tetapi juga belajar tentang manajemen produksi, pemasaran, dan kewirausahaan.
- Peningkatan Pendapatan Siswa: Setiap siswa yang terlibat dalam program ini mendapatkan pendapatan tambahan sekitar Rp250.000 – Rp300.000 per minggu dari hasil penjualan lampu LED. Pendapatan ini sangat membantu siswa, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
- Peningkatan Citra Sekolah: Program ini berhasil meningkatkan citra SMK Bina Bangsa di masyarakat. Minat lulusan SMP/MTs untuk melanjutkan pendidikan di SMK Bina Bangsa meningkat, terbukti dengan meningkatnya jumlah pendaftaran siswa baru pada tahun ajaran 2024/2025.
- Pembukaan Lapangan Kerja Baru: Program ini membuka peluang kerja bagi lulusan yang belum terserap di DUDI. Sebanyak 10 alumni dilibatkan sebagai tim pemasaran produk lampu LED, yang membantu mereka mendapatkan pengalaman kerja yang relevan.
7. Kesimpulan
Program Teaching Factory pembuatan lampu LED di SMK Bina Bangsa telah memberikan dampak positif bagi siswa, sekolah, dan masyarakat. Program ini membuktikan bahwa pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kegiatan produksi nyata dapat meningkatkan keterampilan dan kemandirian siswa, serta membuka peluang kerja baru. Keberhasilan program ini dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain dalam mengembangkan program serupa untuk meningkatkan daya saing lulusan di pasar kerja.
8. Rekomendasi
- Pengembangan Fasilitas: Perlu peningkatan fasilitas belajar seperti laboratorium dan ruang produksi untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk.
- Peningkatan Kapasitas Guru: Guru-guru yang terlibat dalam program ini perlu mendapatkan pelatihan lanjutan agar dapat mengembangkan metode pembelajaran yang lebih efektif.
- Pengembangan Produk Baru: SMK Bina Bangsa dapat mengembangkan produk-produk baru yang relevan dengan kebutuhan pasar, seperti lampu tenaga surya atau peralatan elektronik lainnya.
- Ekspansi Kerjasama dengan DUDI: Perluasan kerjasama dengan DUDI untuk menciptakan lebih banyak peluang pelatihan dan penempatan kerja bagi siswa dan lulusan.
- Evaluasi Program secara Berkala: Evaluasi berkala perlu dilakukan untuk mengukur keberhasilan program dan mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki.
NUSALY Channel
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.