Ekonomi & Bisnis

Limbah Wearpack Jadi Berkah, Delapan Ibu Rumah Tangga di OKU Bangun Usaha Konveksi

Limbah Wearpack Jadi Berkah, Delapan Ibu Rumah Tangga di OKU Bangun Usaha Konveksi
Delapan ibu rumah tangga di Desa Banu Ayu, OKU, menyulap limbah wearpack menjadi produk konveksi rumah tangga dengan omzet Rp 10 juta. Dok. Pertamina Patra Niaga Sumbagsel

Melalui olahan pakaian kerja bekas dan kain perca, Kelompok Konveksi Bumi Ayu di Desa Banu Ayu membukukan omzet Rp 10 juta dalam dua bulan. Program ini membuka peluang usaha baru bagi perempuan pedesaan.

OKU, NUSALY – Bagi sebagian orang, wearpack bekas mungkin hanya berakhir sebagai limbah. Namun di Desa Banu Ayu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, pakaian kerja yang tak lagi digunakan justru menjadi sumber penghasilan baru bagi delapan ibu rumah tangga.

Melalui program pendampingan Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan, limbah tekstil tersebut diolah menjadi berbagai produk rumah tangga yang memiliki nilai jual.

Kedelapan perempuan tersebut sebelumnya hanya menerima jasa jahit dalam skala kecil, bahkan sebagian belum memiliki pekerjaan tetap. Melalui program pendampingan Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan, mereka mengikuti enam kali pelatihan mulai dari teknik menjahit hingga manajemen usaha sederhana.

Usai mendapatkan pembekalan, tangan-tangan kreatif para ibu rumah tangga ini mulai mengubah pakaian kerja bekas dan sisa kain konveksi menjadi produk fungsional seperti keset, celemek, bantal kursi, lap anti panas, tatakan wajan, hingga bantal tidur. Pemasaran kemudian dilakukan secara mandiri melalui aplikasi pesan WhatsApp, promosi dari mulut ke mulut, serta keikutsertaan dalam berbagai bazar UMKM di Kabupaten OKU.

Dari Limbah Menjadi Penghasilan

Hingga saat ini, sekitar 300 produk telah dihasilkan. Produk yang paling diminati masyarakat antara lain keset, celemek, bantal kursi, dan lap anti panas karena dinilai fungsional dan terjangkau.

Dari hasil penjualan tersebut, Kelompok Konveksi Bumi Ayu berhasil membukukan omzet lebih dari Rp 10 juta dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Pendapatan tersebut memberikan kontribusi ekonomi tambahan bagi para anggota dengan rata-rata pendapatan sekitar Rp 1,5 juta per orang.

Di balik omzet tersebut, bahan baku yang digunakan ternyata relatif sedikit. Dalam dua bulan, kelompok ini hanya memanfaatkan sekitar 30 kilogram limbah tekstil, yang terdiri atas 10,3 kilogram wearpack bekas dan sekitar 18–20 kilogram kain perca yang semula hanya akan berakhir di tempat pembuangan sampah.

Ketua Kelompok Konveksi Bumi Ayu, Evi Widia, mengatakan program tersebut mengubah cara pandang anggotanya terhadap barang bekas yang semula dianggap tidak lagi bernilai.

“Dulu kami menganggap wearpack bekas tidak lagi berguna. Sekarang kami tahu, dengan kreativitas dan kemauan belajar, limbah bisa menjadi produk yang diminati sekaligus menambah penghasilan keluarga,” kata Evi Widia saat dikonfirmasi, Selasa (14/7/2026).

Upcycling dan Ekonomi Sirkular

Program Gelora Banu Ayu ini menggunakan pendekatan upcycling, yaitu mengolah material bekas menjadi produk baru dengan nilai guna yang lebih tinggi. Pendekatan ini memperpanjang umur pakai material yang semula berpotensi menjadi limbah sekaligus mengurangi timbulan sampah tekstil di tingkat lokal.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi menyatakan, program pemberdayaan perempuan ini sengaja dirancang agar berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.

“Melalui program ini, kami tidak hanya membuka peluang usaha bagi perempuan, tetapi juga mendorong tumbuhnya praktik ekonomi sirkular yang memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Rusminto.

Bagi Kelompok Konveksi Bumi Ayu, program tersebut bukan sekadar mengurangi limbah tekstil. Pendampingan itu juga membuka sumber penghasilan baru bagi anggotanya dan memperlihatkan bahwa barang yang semula dianggap tidak lagi bernilai masih dapat memberi manfaat ekonomi ketika diolah dengan kreativitas.

Program tersebut merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya kesetaraan gender, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

***

Exit mobile version