Penurunan tinggi muka air tanah membuat lahan gambut kian rentan terbakar hingga memicu lonjakan 537 titik panas dan memaksa operasi pemadaman maraton di lima kecamatan.
KAYUAGUNG, NUSALY.COM — Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ogan Komering Ilir kembali memasuki fase krusial seiring mengeringnya hamparan lahan gambut di wilayah tersebut. Penurunan tinggi muka air tanah yang signifikan dalam satu bulan terakhir memicu meluasnya sebaran api, hingga memaksa tim gabungan melangsungkan operasi pemadaman darat dan udara secara maraton.
Kondisi cuaca terik yang melanda kawasan pesisir Sumatera Selatan ini mengakibatkan lonjakan titik panas secara drastis dalam kurun waktu 24 jam. Berdasarkan pemantauan satelit, jumlah titik panas di wilayah Ogan Komering Ilir tercatat melonjak hingga 537 titik pada Minggu (23/8/2026), meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari sebelumnya yang berada di angka 251 titik.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Komering Ilir Nova Triyussanto menjelaskan bahwa eskalasi kebakaran lahan ini telah berlangsung hampir satu bulan penuh. Karakteristik lahan gambut yang mengering membuat rembetan api menjalar hingga ke bawah permukaan tanah, sehingga proses pemadaman di satu lokasi kerap membutuhkan waktu lebih dari dua hari.
Gambut Mengering
Kondisi geografis Ogan Komering Ilir yang didominasi bentang alam gambut menjadi tantangan tersendiri dalam penanggulangan karhutla. Ketika tinggi muka air tanah menyusut, material organik gambut di bawah permukaan berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah tersulut dan sulit dipadamkan hanya dengan penyiraman permukaan.
Situasi tersebut menyebabkan kemunculan titik api menyebar di sepuluh lokasi berbeda setiap harinya. Guna mengoptimalkan keterbatasan personel dan armada, pemetaan fokus penanganan kini dipusatkan pada lima wilayah kecamatan paling rentan, yaitu Tulung Selapan, Pampangan, Pangkalan Lampam, Tanjung Lubuk, dan Sungai Menang.
Operasi pemadaman intensif terus dilakukan di titik-titik krusial yang mengancam kawasan pemukiman maupun perkebunan warga. Pada hari yang sama, tim pemadam gabungan diterjunkan langsung untuk menjinakkan api di Desa Tanjung Makmur, Kecamatan Pedamaran Timur, serta Desa Tanjung Beringin di Kecamatan Tanjung Lubuk.
Operasi Maraton
Penanganan di lapangan menerapkan strategi taktis hibrida yang memadukan pengerahan personel darat dan pemadaman udara. Selain mengerahkan tim darat untuk membuat sekat bakar dan membasahi vegetasi, helikopter bom air (water bombing) juga disiagakan untuk menjangkau titik-titik api di tengah kubah gambut yang sulit diakses jalur darat.
Di samping upaya pemadaman langsung, BPBD Ogan Komering Ilir bersama instansi terkait terus mengintensifkan pemantauan berkala terhadap sebaran titik panas melalui sistem pemetaan satelit. Langkah ini dipadukan dengan patroli pencegahan serta sosialisasi melarang pembukaan lahan dengan cara dibakar kepada masyarakat setempat.
Kesiapsiagaan personel dan armada pemadam di setiap posko wilayah kini ditingkatkan ke level maksimal. Langkah antisipasi ini dinilai krusial untuk mencegah meluasnya sebaran asap yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan mengancam stabilitas ekosistem gambut regional. (puputzch)
