Fasilitas pelayanan kesehatan di ibu kota Provinsi Sumatra Selatan menghadapi tantangan serius akibat ketimpangan pasokan darah. Gerakan donor massal di tingkat kecamatan kini diintensifkan guna mengejar target pemenuhan kebutuhan medis warga.
PALEMBANG, NUSALY – Jaminan ketersediaan kantong darah untuk kebutuhan medis darurat di Kota Palembang masih berada dalam zona merah. Tingginya angka permintaan dari sejumlah rumah sakit rujukan di wilayah perkotaan belum mampu diimbangi oleh laju pertumbuhan jumlah pendonor aktif secara sukarela.
Kondisi kritis pada sektor ketahanan kesehatan publik ini diungkapkan langsung oleh Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Palembang Dewi Sastrani.
Berdasarkan data akumulasi berkala, kebutuhan ideal darah untuk melayani pasien di seluruh jaringan pelayanan kesehatan Kota Palembang saat ini menembus angka 7.000 kantong per bulan.
Akan tetapi, kapasitas pasokan rata-rata yang mampu dihimpun oleh unit donor darah PMI sejauh ini baru menyentuh angka 5.000 kantong per bulan.
Ketimpangan ini menyebabkan Kota Palembang mengalami defisit bersih sebanyak 2.000 kantong darah setiap bulannya, sebuah celah pasokan yang sangat berisiko bagi keselamatan pasien darurat, korban kecelakaan, hingga ibu melahirkan.
Guna mengikis jurang kekurangan pasokan tersebut, otoritas kemanusiaan kota mulai merubah strategi dengan menjemput bola ke tingkat administrasi wilayah paling bawah.
Kolaborasi strategis ini diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pelayanan kesehatan antara PMI Kota Palembang dengan Pemerintah Kecamatan Kertapati, Kamis (21/5/2026).
“Setetes darah dari para relawan sangat menentukan kelangsungan hidup warga lain yang sedang berjuang di ruang-ruang perawatan rumah sakit. Kami harus bergerak bersama lintas instansi untuk menutup lubang kekurangan ini,” ujar Dewi Sastrani di sela-sela peninjauan posko donor darah.
Mobilisasi massa di tingkat tapak
Langkah taktis perluasan basis pendonor ini dinilai sebagai jalan keluar paling rasional di tengah stagnannya partisipasi personal masyarakat urban. Pengkondisian massa melalui struktur pemerintahan kecamatan dan kelurahan terbukti lebih efektif memantik kepedulian kolektif warga setempat.
Dalam aksi perdana yang dipusatkan di halaman Kantor Camat Kertapati tersebut, jajaran aparatur sipil negara setempat bersama elemen masyarakat langsung merespons dengan menyumbangkan sedikitnya 70 kantong darah baru.
Camat Kertapati Rifandi Putra menegaskan bahwa keterlibatan wilayahnya tidak akan berhenti pada seremoni penandatanganan berkas kerja sama hari ini belaka.
Pihak otoritas kecamatan berkomitmen menjadikan program donor darah sebagai bagian dari agenda rutin bulanan yang disosialisasikan secara masif di tingkat rukun tetangga (RT).
Edukasi mengenai manfaat kesehatan bagi pendonor akan terus digalakkan guna menghapus stigma dan ketakutan medis yang masih sering ditemui pada masyarakat pinggiran kota.
Optimalisasi pasokan dari wilayah penyangga seperti Kertapati diharapkan mampu menjadi stimulus bagi kecamatan-kecamatan lain di Bumi Sriwijaya untuk melakukan gerakan serupa.
Konsistensi pasokan dari lini terbawah akan menjadi kunci utama bagi PMI dalam mengamankan stok darah mandiri, sehingga keluarga pasien tidak perlu lagi dibebani kewajiban mencari donor pengganti di saat situasi kritis berkecamuk. (dhi)
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang
