Kamtibmas

Pendar Kebaikan di Atas Riak Musi: Kala Polairud Menyapa Warga Pesisir

Pendar Kebaikan di Atas Riak Musi: Kala Polairud Menyapa Warga Pesisir
Ditpolairud Polda Sumsel gelar aksi sosial berbagi takjil di Sungai Musi. Dok. Ditpolairud Polda Sumsel

Di balik tugas menjaga kedaulatan hukum di wilayah perairan, jajaran Ditpolairud Polda Sumsel menanggalkan sejenak kekakuan seragam untuk menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat sungai. Di bawah langit senja Palembang, paket takjil menjadi jembatan silaturahmi yang menghubungkan aparat dengan para nelayan dan pengemudi ketek yang kerap terlupakan di tengah arus pembangunan kota.

PALEMBANG, NUSALY – Cahaya matahari senja perlahan meredup, menyisakan semburat jingga yang memantul di permukaan Sungai Musi yang tenang. Di Dermaga Markas Komando Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Sumatera Selatan, aktivitas sore itu tampak berbeda. Bukan raungan mesin kapal patroli yang menjadi pusat perhatian, melainkan langkah-langkah ringan para personel yang membawa tumpukan kotak takjil dan santap berbuka menuju bibir sungai.

Jumat (6/3/2026), menjadi momentum bagi jajaran Ditpolairud untuk menunjukkan wajah lain dari korps kepolisian. Di bulan Ramadhan yang penuh berkah, misi mereka beralih dari sekadar penegakan hukum dan patroli keamanan menjadi misi “Berbagi Kebahagiaan”. Sasarannya adalah mereka yang hidup dan menggantungkan nasib di sepanjang aliran sungai kebanggaan masyarakat Palembang tersebut.

Mulai dari pengemudi ketek (perahu tradisional) yang setianya menanti penumpang, nelayan tradisional yang baru menambatkan jaring, hingga buruh pelabuhan yang masih berpeluh meski waktu berbuka tinggal menghitung menit. Kehadiran para personel Polairud yang menghampiri langsung ke atas geladak kapal-kapal kecil ini membawa warna tersendiri di tengah penatnya rutinitas mencari nafkah di perairan.

Wujud Kedekatan yang Humanis

Direktur Polairud Polda Sumsel Kombes Heru Agung Nugroho melalui Kasubdit Gakkum AKBP Chusnul Qomar menegaskan bahwa aksi sosial ini bukan sekadar rutinitas bagi-bagi makanan. Ada pesan mendalam tentang kehadiran Polri yang melampaui tugas-tugas administratif dan keamanan. Ramadhan dipandang sebagai momentum emas untuk meruntuhkan tembok pembatas antara aparat penegak hukum dengan warga pesisir.

“Instruksi kami jelas: pastikan kebahagiaan Ramadhan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali. Khususnya mereka yang masih harus bekerja di perairan hingga waktu berbuka tiba, sering kali mereka luput dari pandangan mata publik di daratan,” ujar AKBP Chusnul Qomar saat ditemui di sela kegiatan.

Bagi Polairud, masyarakat perairan adalah mitra strategis dalam menjaga keamanan wilayah laut dan sungai. Dengan membagikan takjil, mereka ingin menanamkan kepercayaan bahwa polisi bukan hanya hadir saat ada pelanggaran hukum, tetapi hadir sebagai saudara yang peduli terhadap kesejahteraan sosial mereka. “Kami ingin hadir bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat sungai dan laut,” tambahnya.

Haru di Atas Perahu

Sapaan ramah dari para personel Polairud disambut dengan senyum tulus oleh para penerima manfaat. Bagi seorang pengemudi ketek yang seharian berjibaku dengan ombak kecil Musi, dihampiri oleh petugas kepolisian untuk sekadar diberikan santap berbuka adalah hal yang menyentuh hati. Ada rasa aman yang hadir secara psikologis saat aparat menunjukkan kepedulian sekecil apa pun.

Sorot mata haru terpancar dari para buruh pelabuhan yang sering kali baru bisa membatalkan puasa seadanya di tempat kerja. Melalui aksi ini, Ditpolairud Polda Sumsel mencoba meringankan sedikit beban mereka, sembari memastikan bahwa perdamaian dan ketenangan tetap terjaga di kawasan vital perairan Sumatera Selatan.

Aksi ini juga menjadi cerminan dari semangat Polri yang responsif. Masyarakat pesisir yang biasanya memiliki akses terbatas terhadap berbagai program sosial di pusat kota, kini menjadi prioritas utama. Polairud membuktikan bahwa jangkauan pelayanan mereka tidak terbatas pada luasnya samudera, tetapi juga pada dalamnya simpati terhadap kondisi sosial masyarakat.

Menjaga Stabilitas Melalui Pendekatan Hati

Secara sosiologis, pendekatan humanis seperti ini sangat efektif dalam menjaga stabilitas keamanan. Ketika masyarakat merasa diayomi dan diperhatikan, mereka cenderung akan menjadi “mata dan telinga” bagi kepolisian dalam mendeteksi dini potensi gangguan keamanan di wilayah perairan, seperti penyelundupan atau tindak kriminalitas laut lainnya.

Program berbagi kebahagiaan ini direncanakan akan terus dilakukan secara konsisten sepanjang bulan Ramadhan. Harapannya, wajah Polri yang humanis, responsif, dan senantiasa hadir membawa solusi dapat terus tertanam di benak warga Sumatera Selatan.

Saat azan Maghrib berkumandang dan gema takbir menggema dari Masjid Agung hingga ke tepian sungai, para nelayan dan pengemudi ketek itu tidak lagi sendirian. Di sela-sela santap berbuka yang sederhana, terselip doa dan apresiasi bagi para penjaga perairan yang sore itu memilih untuk berbagi terang kebahagiaan. Sungai Musi malam itu tak hanya dialiri air, tapi juga dialiri energi kebaikan yang menyatukan hati aparat dan rakyat. (emen)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version