Veda Ega Pratama tampil brilian dalam balapan dramatis yang diwarnai bendera merah di Sirkuit Goiania. Memaksimalkan start ulang lima putaran, pebalap muda asal Gunung Kidul ini mengukir sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang menapak podium Grand Prix Moto3.
GOIANIA, NUSALY — “Luar biasa!” Seruan spontan itu menjadi ekspresi pertama Veda Ega Pratama sesaat setelah melintasi garis finis di Sirkuit Internasional Ayrton Senna, Goiania, Brasil, Minggu (22/3/2026). Dalam balapan keduanya di ajang Grand Prix Moto3, pebalap berusia 17 tahun itu menunjukkan kematangan mental yang melampaui usianya dengan merebut podium ketiga.
Pencapaian ini bukan sekadar angka di papan skor; Veda resmi menjadi pebalap pertama dalam sejarah Indonesia yang berhasil meraih podium di ajang Grand Prix. Kemenangan ini pun diharapkan menjadi fajar baru bagi karier pebalap lulusan Astra Honda Racing School tersebut di panggung dunia.
”Hari ini saya melakukan pekerjaan dengan sangat bagus. Meskipun sebelum bendera merah saya sempat kesulitan mengelola ban belakang, akhirnya saya bisa finis di tiga besar. Ini merupakan pencapaian terbesar saya saat ini,” ujar Veda dengan mata berbinar di parc ferme.
Ia tak lupa mengirimkan pesan emosional melintasi samudra. ”Terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia, sponsor, dan keluarga saya. Ini luar biasa,” tambah pebalap yang tumbuh besar di belantara balap motor Yogyakarta tersebut.
Intuisi di Balik Bendera Merah
Keberhasilan Veda tidak lepas dari momentum krusial di lap ke-15. Kecelakaan yang menimpa Scott Ogden memicu berkibarnya bendera merah (red flag) akibat kondisi trek yang dinilai berisiko. Bagi Veda, yang saat itu posisinya terus merosot dari urutan keenam ke urutan kesembilan karena keausan ban belakang, penghentian balapan ini adalah napas kedua.
Sesuai regulasi, balapan dimulai kembali (restart) untuk menyelesaikan sisa lima putaran. Di sinilah kecerdikan teknis Honda Team Asia diuji. Veda memanfaatkan jeda tersebut untuk mengganti ban dengan kompon baru. Saat start ulang dilakukan berdasarkan posisi akhir lap ke-14, Veda yang menempati posisi kesembilan langsung melesat.
Keunggulan ban baru membuatnya mampu melakukan manuver agresif sejak tikungan pertama, merangsek ke posisi tujuh. Tak butuh waktu lama bagi Veda untuk menunjukkan taringnya; di lap pertama pasca-start ulang, ia berhasil mendahului Valentin Perrone. Ketenangan Veda semakin teruji saat ia membuntuti Rico Salmela dan meluncurkan serangan bersih pada lap ketiga untuk mengamankan posisi kelima.
Manuver Bersih di Putaran Penentu
Memasuki dua putaran terakhir, aroma podium mulai tercium. Veda, yang memiliki pace sangat kuat, mulai mengintimidasi Guido Pini. Melalui manuver yang berani namun tetap terukur, ia merebut posisi keempat. Tantangan terakhir datang dari pebalap berpengalaman, Alvaro Carpe, yang berada 0,321 detik di depannya.
Di awal lap terakhir, Veda melakukan manuver penentu. Ia mendahului Carpe dengan perhitungan matang, lalu memacu motornya dengan dingin hingga menyentuh garis finis di posisi ketiga, di belakang Marco Morelli dan sang pemenang, Maximo Quiles.
Keberhasilan ini sekaligus membuktikan bahwa balapan jarak pendek memerlukan strategi ban dan kekuatan mental yang berbeda. Sebagai perbandingan, Valentin Perrone yang sebelumnya berada di posisi ketiga sebelum bendera merah, justru melorot ke posisi ketujuh setelah start ulang karena gagal memaksimalkan performa ban barunya.
Bintang Baru dari Timur
Pencapaian Veda memancing pujian dari komentator kawakan TNT Sports, Gavin Emmett. ”Ini momen penting bagi olahraga ini. Indonesia adalah salah satu pendukung MotoGP terbesar di dunia, dan Veda adalah bintang yang mereka miliki, yang kini mulai bersinar terang,” tuturnya.
Bahkan Maximo Quiles, sang juara yang merupakan teman dekat Veda, memberikan apresiasi khusus. Quiles, yang sempat mendapat ucapan selamat dari mentornya, Marc Marquez, di parc ferme, mengaku bangga atas pencapaian sahabatnya itu.
Kembali ke garasi Honda Team Asia, Veda merayakan sejarah ini dengan gaya khasnya: senyum lebar sambil memamerkan trofi dan berucap ”joga bonito”. Di tanah Brasil yang memuja sepak bola indah, Veda Ega Pratama justru menunjukkan balapan yang indah. Podium ini menjadi kado Lebaran paling spesial bagi publik otomotif tanah air. (dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
