Barcelona harus menelan pil pahit setelah dilumat Atletico Madrid empat gol tanpa balas. Kombinasi blunder fatal Eric Garcia dan anomali teknologi VAR delapan menit mengubur ambisi “Blaugrana” di semifinal Copa del Rey.
MADRID, NUSALY – Sepak bola level tertinggi tidak pernah memaafkan eksperimen yang setengah matang. Di Stadion Metropolitano, Jumat (13/2/2026) dini hari WIB, Barcelona dipaksa menelan kenyataan pahit setelah dilumat Atletico Madrid empat gol tanpa balas pada leg pertama semifinal Copa del Rey. Hasil ini bukan sekadar kekalahan skor, melainkan sebuah dekonstruksi mental terhadap taktik Hansi Flick yang tampak naif di hadapan keganasan strategi Diego Simeone yang telah matang selama satu dekade.
Kekalahan 0-4 ini menjadi catatan hitam bagi sejarah kepemimpinan Flick di Barca. Tanpa kehadiran sayap eksplosif seperti Raphinha dan Marcus Rashford, Blaugrana kehilangan identitas dan daya ledak. Hal ini membuat mereka menjadi bulan-bulanan di depan ribuan pendukung fanatik Los Colchoneros yang memenuhi tribun dengan atmosfer yang mengintimidasi sejak peluit pertama dibunyikan.
Tragedi Awal
Laga baru berjalan tiga menit ketika petaka menghampiri tim tamu lewat momen yang akan menghantui karier Eric Garcia. Sebuah operan balik (backpass) yang terlihat sederhana dari Eric justru berujung bencana. Permukaan lapangan Metropolitano yang tidak rata di beberapa titik membuat bola memantul liar secara anomali. Joan Garcia, sang penjaga gawang, gagal melakukan kontrol sempurna; bola meluncur dingin melewati kakinya dan bergulir masuk ke gawang sendiri. Gol bunuh diri ini seketika meruntuhkan skenario yang sudah disusun Flick di ruang ganti sebelum pertandingan dimulai.
Simeone, sang maestro provokasi taktis, melihat lubang menganga di mentalitas pemain Barca. Ia memerintahkan Antoine Griezmann untuk terus menekan garis tinggi guna memaksa bek lawan melakukan kesalahan serupa. Hasilnya nyata pada menit ke-14. Griezmann melepaskan sepakan melengkung yang menjadi ciri khasnya ke sudut jauh gawang mantan klubnya tersebut. Ia memilih tidak merayakan gol itu secara berlebihan, namun publik Madrid tahu bahwa gol tersebut adalah vonis awal bagi kehancuran Barcelona malam itu.
Dominasi Total
Atletico Madrid semakin menggila menjelang akhir babak pertama. Giuliano Simeone tampil dengan determinasi luar biasa di sisi sayap, membedah pertahanan Barca yang ditinggalkan Alejandro Balde saat asyik menyerang ke depan. Kerja sama apik antara Giuliano dan Julian Alvarez memudahkan Ademola Lookman mencetak gol ketiga bagi tuan rumah. Tak lama berselang, Julian Alvarez—sang penyerang berjuluk “La Arana”—mengakhiri paceklik golnya selama 11 laga dengan sebuah tendangan keras dari luar kotak penalti yang membuat skor menjadi 4-0 sebelum turun minum.
Flick tampak tak berdaya di pinggir lapangan melihat skema taktiknya hancur. Eksperimennya menempatkan Dani Olmo di posisi sayap kiri dan memaksakan duet Marc Casado bersama Frenkie de Jong di lini tengah terbukti gagal total. Mereka tidak mampu meredam transisi kilat Atletico yang mengalirkan bola dari kaki ke kaki dengan kecepatan yang mengerikan, sementara lini depan Barca yang biasanya tajam kini seolah tumpul tanpa dukungan dari sektor sayap.
Anomali VAR
Memasuki babak kedua, Barcelona mencoba mengambil inisiatif serangan dengan memasukkan Robert Lewandowski untuk menambah daya gedor. Harapan sempat muncul pada menit ke-52 ketika bek muda Pau Cubarsi berhasil menyambar bola liar di depan gawang Juan Musso. Namun, kegembiraan suporter Barca yang hadir di sudut stadion langsung dibekukan oleh intervensi Video Assistant Referee (VAR) yang mematikan momentum kebangkitan tersebut.
Apa yang terjadi setelahnya adalah sebuah anomali dalam sejarah sepak bola modern. Pengecekan VAR untuk menentukan posisi offside Lewandowski berlangsung selama delapan menit. Durasi ini menyamai rekor dunia untuk pengecekan video terlama yang pernah terjadi di kompetisi Inggris musim lalu. Keadaan di lapangan berubah menjadi sangat ganjil; saking lamanya waktu tunggu, kedua penjaga gawang terlihat harus melakukan pemanasan ulang dan melakukan operan-operan pendek di tengah lapangan agar otot mereka tidak kaku sementara wasit mematung di depan layar monitor.
Vonis Akhir
Ketika keputusan akhirnya keluar dan gol tersebut dianulir, nyawa permainan Barcelona sudah benar-benar padam. Waktu delapan menit yang terbuang bukan hanya membatalkan angka di papan skor, tetapi juga menghancurkan momentum fisik dan psikologis anak asuh Flick yang sedang mencoba bangkit. Frustrasi pun mulai menjalar ke seluruh lini permainan Barcelona yang kian kehilangan disiplin posisi di sisa waktu pertandingan.
Penderitaan Eric Garcia mencapai puncaknya pada menit ke-83. Setelah mengawali malam dengan gol bunuh diri, ia harus mengakhirinya di ruang ganti lebih cepat. Eric menerima kartu merah langsung setelah menjatuhkan Alex Baena yang sedang dalam posisi bersih untuk mencetak gol kelima bagi Atletico. Kartu merah ini melengkapi penderitaan kolektif Barcelona yang harus bermain dengan sepuluh orang di sisa waktu pertandingan yang sudah tidak bermakna lagi bagi mereka.
Kekalahan ini memberikan pekerjaan rumah yang luar biasa berat bagi Barcelona menjelang leg kedua pada 3 Maret mendatang di Spotify Camp Nou. Secara taktis, Flick harus mengakui keunggulan intuisi Simeone dalam memanfaatkan celah sistemik dan ketiadaan pilar kunci. Bagi Atletico Madrid, hasil ini adalah langkah raksasa menuju final di Sevilla. Dengan satu kaki yang sudah berada di partai puncak, mereka menunjukkan bahwa mereka adalah predator yang paling menakutkan saat lawan menunjukkan celah sekecil apa pun dalam organisasi pertahanan.
(dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
