Aparat kepolisian dari Satuan Intelkam Polres OKU Selatan merangkul kelompok mahasiswa untuk menebar kebaikan di bulan suci Ramadhan. Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Simpang Tiga Bumi Agung, mereka tidak hanya membagikan takjil, tetapi juga sedang merajut pesan perdamaian dan kolaborasi antara penegak hukum dengan elemen pemuda.
MUARADUA, NUSALY – Suasana sore di Simpang Tiga Bumi Agung, Kecamatan Muaradua, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Jumat (6/3/2026), tampak lebih berwarna dari biasanya. Di antara deru mesin kendaraan yang bergegas pulang menjelang waktu berbuka, terlihat sekelompok pria berseragam dinas dan warga sipil berseragam almamater berdiri berdampingan. Mereka bukan sedang melakukan aksi unjuk rasa atau razia kendaraan, melainkan sedang membagi-bagikan kotak takjil kepada para pengguna jalan.
Pemandangan ini menjadi menarik karena melibatkan Satuan Intelkam Polres OKU Selatan—satuan yang secara fungsi biasanya bekerja secara tertutup dan jauh dari sorotan kamera. Namun, hari itu, dipimpin langsung oleh Kasat Intelkam AKP Arie Gusman, jajaran personel intelijen ini justru membaur dengan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) OKU Selatan dan mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Darul Huda.
Gerakan berbagi 150 kotak takjil ini menjadi simbol bahwa di bulan Ramadhan, sekat-sekat formalitas antara aparat keamanan dan kelompok kritis mahasiswa bisa luruh demi misi kemanusiaan. Simpang Tiga Bumi Agung yang biasanya menjadi titik kemacetan di jantung Muaradua, sore itu berubah menjadi panggung kebersamaan yang menyejukkan.
Membeli Karya Mahasiswa
Ada detail menarik di balik 150 kotak makanan yang berpindah tangan ke para pengendara motor dan pengemudi angkutan tersebut. Takjil-takjil itu bukan dipesan dari katering besar, melainkan merupakan hasil olahan tangan para mahasiswa sendiri. Pihak Satuan Intelkam sengaja membeli produk karya mahasiswa tersebut untuk kemudian dibagikan kembali kepada masyarakat luas.
Langkah ini mencerminkan dukungan kepolisian terhadap ekonomi kreatif di kalangan pemuda. AKP Arie Gusman menjelaskan bahwa skema ini sengaja dipilih untuk memberikan dampak ganda. Di satu sisi mahasiswa mendapatkan dukungan atas unit usaha atau kreativitas kuliner mereka, di sisi lain masyarakat mendapatkan manfaat berupa hidangan berbuka puasa yang segar dan layak.
“Kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara kepolisian dan mahasiswa dalam menumbuhkan semangat berbagi. Kami ingin menunjukkan bahwa Polri dan mahasiswa bisa berjalan beriringan untuk memberikan manfaat nyata bagi warga OKU Selatan, khususnya di bulan yang penuh berkah ini,” ujar Arie Gusman di sela-sela kegiatannya.
Kapolres OKU Selatan AKBP I Made Redi Hartana melalui Kasat Intelkam menegaskan bahwa kolaborasi ini juga merupakan investasi sosial. Hubungan antara polisi dan mahasiswa sering kali dipersepsikan secara kaku dalam konteks pengamanan demonstrasi atau pengawasan keamanan. Melalui aksi berbagi takjil ini, persepsi tersebut coba dicairkan menjadi hubungan yang lebih humanis dan harmonis.
Mendinginkan Suasana Sosial
Kegiatan di Simpang Tiga Bumi Agung ini juga berfungsi sebagai instrumen “cooling system” di tingkat lokal. Kehadiran personel intelijen yang turun ke jalan bersama aktivis mahasiswa mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat bahwa situasi keamanan di Kabupaten OKU Selatan dalam kondisi yang kondusif. Kebersamaan di lapangan ini mereduksi potensi gesekan dan membangun komunikasi yang lebih cair antara aparat dan elemen pemuda yang sering kali memiliki daya kritis tinggi.
Masyarakat yang melintas, mulai dari pengemudi ojek, pedagang keliling, hingga pegawai kantoran, tampak antusias. Bagi mereka, sekotak takjil mungkin tampak sederhana, namun kehadiran polisi dan mahasiswa yang bersatu membagikannya memberikan rasa aman dan tenang. Hal ini membuktikan bahwa kehadiran negara di tengah masyarakat bisa dilakukan dengan cara-cara yang lembut dan menyentuh sisi relijiusitas warga.
Kepala Unit (Kanit) Intel bersama jajaran personel lainnya tampak sigap mengatur lalu lintas agar kegiatan berbagi tersebut tidak menimbulkan kemacetan panjang. Ketertiban tetap dijaga, sembari memastikan setiap paket sampai ke tangan mereka yang benar-benar membutuhkan saat dalam perjalanan pulang.
Harapan Kebersamaan Berkelanjutan
Kegiatan “Berbagi Terang” dan kebaikan di OKU Selatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda musiman Ramadhan semata. Pola kolaborasi ini menjadi cetak biru (blueprint) bagi komunikasi lintas sektoral di masa depan. Pendidikan tinggi melalui STIT Darul Huda dan organisasi pergerakan seperti PMII memiliki peran penting sebagai agen pengontrol sosial, dan sinergi dengan kepolisian akan memastikan kontrol tersebut berjalan dalam koridor kedamaian.
Momentum Ramadhan 2026 ini dijadikan batu pijakan untuk mempererat hubungan emosional. Jika di jalanan mereka bisa berbagi makanan, maka di ranah diskusi mereka diharapkan bisa berbagi ide untuk kemajuan daerah. Semangat kebersamaan inilah yang menjadi modal sosial paling berharga bagi Kabupaten OKU Selatan untuk terus tumbuh secara inklusif.
Saat azan Maghrib mulai berkumandang dari masjid-masjid di sekitar Muaradua, kegiatan tersebut pun berakhir dengan jabat tangan erat antara personel polisi dan para mahasiswa. Di persimpangan jalan itu, jejak kebaikan telah tertinggal, membuktikan bahwa sinergi senyap dari satuan intelijen bisa membuahkan cahaya hangat yang dirasakan langsung oleh rakyat. Persimpangan Bumi Agung sore itu bukan sekadar tempat lewat kendaraan, melainkan saksi bisu bersatunya dua elemen penting bangsa dalam satu nampan keberkahan. (andi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
