Peningkatan mobilitas komoditas antarnegara menuntut pembaruan data dan pengawasan terhadap ratusan jenis satwa serta tumbuhan yang berpotensi merusak ekosistem lokal.
PALEMBANG, NUSALY – Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Selatan memperketat pengawasan di pintu masuk wilayah menyusul meningkatnya lalu lintas perdagangan global dan mobilitas komoditas antarnegara.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah masuknya Invasive Alien Species (IAS) atau spesies asing invasif yang berpotensi merusak keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati lokal.
Hingga saat ini, otoritas karantina setempat mencatat belum menemukan adanya lalu lintas hewan, ikan, maupun tumbuhan di Sumatera Selatan yang teridentifikasi sebagai spesies asing invasif. Namun, peningkatan kewaspadaan di perbatasan (border) tetap dilakukan seiring tingginya aktivitas logistik internasional yang masuk ke wilayah ini.
Analis Perkarantinaan Tumbuhan Ahli Utama Badan Karantina Indonesia (Barantin) Antarjo Dikin menjelaskan, spesies asing invasif mencakup hewan, ikan, tumbuhan, hingga mikroorganisme patogen yang masuk ke wilayah di luar habitat alaminya.
Jika berhasil lolos dan menetap, keberadaan spesies tersebut tidak hanya mengganggu keseimbangan alam, tetapi juga memicu kerugian ekonomi pada sektor pertanian dan perikanan, hingga berdampak pada kesehatan manusia.
“Pengendalian harus dilakukan secara terpadu melalui pendekatan sebelum menyentuh perbatasan (pre-border), di area perbatasan (border), hingga setelah melewati perbatasan (post-border) yang didukung analisis risiko secara komprehensif,” ujar Antarjo dalam koordinasi pengawasan di Palembang, Jumat (3/7/2026).
Disiplin Regulasi dan Pembaruan Data
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.94 Tahun 2016 saat ini masih menjadi acuan dalam mendeteksi spesies asing invasif di Indonesia. Regulasi tersebut memuat daftar spesies asing invasif yang menjadi acuan petugas dalam melakukan deteksi di lapangan.
Berdasarkan aturan tersebut, terdapat 187 jenis spesies invasif yang tercatat sudah berada dan tersebar di wilayah Indonesia. Beberapa contoh di antaranya yang telah banyak ditemukan di berbagai ekosistem perairan Indonesia adalah ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) dan keong mas (Pomacea canaliculata).
Sementara itu, sebanyak 132 jenis lainnya hingga kini belum ditemukan di Indonesia sehingga menjadi fokus upaya pencegahan, seperti kumbang khapra (Trogoderma granarium) yang mengancam komoditas biji-bijian serta ikan aligator gar (Atractosteus spatula).
Menurut Antarjo, daftar ratusan spesies tersebut memerlukan pembaruan berkala. Dinamika perdagangan internasional yang cepat dan temuan riset ilmu pengetahuan terbaru menuntut regulasi yang lebih adaptif agar otoritas di lapangan memiliki dasar hukum yang kuat untuk mengantisipasi dinamika ancaman biosekuriti.
Sinergi Pengawasan Lintas Sektoral
Sifat sebaran spesies invasif yang tidak mengenal batas administrasi membuat sistem pengawasan di pelabuhan dan bandara tidak dapat bertumpu pada satu lembaga tunggal.
Kepala Karantina Sumatera Selatan Sri Endah Ekandari menyatakan, keamanan hayati dari ancaman spesies asing merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan.
Di tingkat tapak, penyelarasan langkah pengetatan ini mulai dikoordinasikan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan selaku otoritas yang bertanggung jawab atas konservasi satwa liar dan perlindungan spesies asli Indonesia.
Kerja sama tersebut diperlukan agar pengawasan terhadap komoditas yang melintas dapat dilakukan sejak awal sehingga mengurangi risiko masuknya spesies asing invasif ke ekosistem lokal.
Melalui koordinasi pertukaran data antara petugas karantina dan pengelola kawasan konservasi, diharapkan potensi penyebaran material asing yang mengancam spesies endemik di Sumatera Selatan dapat diantisipasi sedini mungkin. (desta)
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang
