Kesehatan

Siasat Metabolisme dan Manajemen Kebugaran Selama Ramadan

Siasat Metabolisme dan Manajemen Kebugaran Selama Ramadan
Foto Ilustrasi dibuat dengan AI. Dok. Nusaly.com

Puasa bukan sekadar memindahkan waktu makan, melainkan proses sinkronisasi ulang sistem metabolisme tubuh. Memahami jam biologis dan asupan nutrisi makro menjadi kunci agar tetap produktif di tengah ibadah bulan suci.

KAYUAGUNG, NUSALY – Memasuki Ramadan 1447 Hijriah yang diperkirakan jatuh pada pertengahan Februari 2026 ini, tantangan fisik bagi umat Muslim kembali menjadi perhatian utama. Bukan hanya soal menahan haus dan lapar selama lebih dari 13 jam, namun bagaimana tubuh beradaptasi dengan pergeseran ritme sirkadian dan metabolisme. Bagi para profesional yang memiliki aktivitas tinggi, transisi ini sering kali memicu penurunan produktivitas jika tidak dikelola dengan pemahaman medis yang tepat.

Secara biologis, tubuh manusia membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat hari untuk menyesuaikan diri dengan jadwal makan yang baru. Dalam fase ini, kadar glukosa dalam darah akan menurun, memaksa tubuh mencari sumber energi alternatif. Pemahaman mengenai apa yang dikonsumsi saat sahur dan berbuka bukan lagi sekadar urusan selera, melainkan urusan keberlanjutan energi seluler.

Manajemen Glukosa

Kunci utama kebugaran selama puasa terletak pada cara kita mengelola lonjakan glukosa. Saat berbuka, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula sederhana secara berlebihan justru memicu sugar crash—kondisi di mana kadar gula darah melonjak drastis lalu turun dengan cepat, yang mengakibatkan rasa lemas dan kantuk yang hebat setelah magrib.

Para ahli gizi menyarankan pendekatan nutrisi fungsional dengan memprioritaskan karbohidrat kompleks dan serat saat sahur. Serat memiliki peran krusial dalam memperlambat penyerapan nutrisi, sehingga energi dilepaskan secara bertahap ke dalam aliran darah (slow release). Strategi ini sangat efektif untuk menjaga konsentrasi tetap stabil hingga sore hari, terutama bagi pekerja kantoran yang mengandalkan fungsi kognitif tinggi.

Ritme Sirkadian

Selain nutrisi, tantangan terbesar lainnya adalah manajemen tidur. Perubahan jam bangun untuk sahur sering kali memotong fase tidur REM (Rapid Eye Movement) yang penting bagi pemulihan mental. Kurang tidur yang kronis selama Ramadan dapat mengganggu hormon leptin dan ghrelin, yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Akibatnya, seseorang akan merasa jauh lebih lapar dan cenderung makan berlebihan saat berbuka.

Menyiasati hal ini, pengaturan waktu tidur yang konsisten menjadi harga mati. Menambah porsi tidur di awal malam dan memanfaatkan waktu istirahat singkat ( power nap) selama 15-20 menit di siang hari dapat membantu menjaga kewaspadaan otak. Kualitas tidur yang terjaga akan memastikan sistem imun tetap optimal, mengingat perubahan cuaca di bulan Maret yang sering kali tidak menentu.

Hidrasi Seluler

Persoalan dehidrasi sering kali disalahpahami hanya sebagai rasa haus. Padahal, dehidrasi ringan saja sudah cukup untuk menurunkan volume otak dan mengganggu daya ingat jangka pendek. Strategi hidrasi yang efektif bukan dengan meminum air dalam jumlah besar sekaligus saat sahur, melainkan dengan pola “intermittent hydration” antara waktu berbuka hingga imsak.

Memastikan asupan elektrolit alami, seperti dari buah-buahan atau air kelapa, juga membantu sel-sel tubuh mengikat air lebih lama. Dengan manajemen hidrasi yang presisi, risiko sakit kepala dan kram otot—yang sering dikeluhkan saat berpuasa—dapat diminimalisir secara signifikan.

Integritas Fisik

Pada akhirnya, kebugaran di bulan Ramadan adalah hasil dari sinkronisasi antara niat ibadah dan pemahaman atas batas-batas fisik tubuh. Puasa seharusnya menjadi momentum bagi tubuh untuk melakukan detoksifikasi alami dan perbaikan sel (autofagi), bukan justru menjadi beban yang merusak kesehatan akibat pola makan yang serampangan.

Melalui pendekatan medis yang terukur, ibadah Ramadan 2026 dapat dijalani dengan kualitas kesehatan yang prima. Disiplin dalam mengatur nutrisi, tidur, dan hidrasi adalah bentuk penghargaan terhadap tubuh, sekaligus sarana untuk mencapai kekhusyukan ibadah yang maksimal.

(puputzch)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version