MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --
Laporan Utama

Ibu dan Anak Berpelukan dalam Satu Kantong Jenazah, Korban Tewas Bus ALS Jadi 18 Orang

Ibu dan Anak Berpelukan dalam Satu Kantong Jenazah, Korban Tewas Bus ALS Jadi 18 Orang
Kepala RS Bhayangkara Mohamad Hasan Palembang Kombes Budi Susanto menunjukkan foto sejumlah temuan barang dari kantong jenazah saat memberi keterangan perkembangan proses identifikasi korban tewas kecelakaan maut bus ALS di RS Bhayangkara Mohamad Hasan, Palembang, Sumsel, Jumat (8/5/2026). Dok. Kompas

Jumlah korban tewas dari kecelakaan maut bus ALS menjadi 18 orang setelah ditemukan dua individu dari satu kantong jenazah dan ada korban selamat yang meninggal.

PALEMBANG, NUSALY – Pemeriksaan mendalam di posko mortem terhadap para korban kecelakaan maut bus ALS dan truk tangki minyak di kawasan Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, mengungkap pemandangan tragis yang menggetarkan nurani.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Daerah Sumatera Selatan menemukan satu kantong jenazah berisi bagian tubuh dari dua individu yang melekat erat satu sama lain.

Kenyataan memilukan ini terdeteksi saat petugas melakukan autopsi detail terhadap sisa-sisa raga yang dievakuasi dari lokasi kejadian.

Dalam kantong tersebut, ditemukan bagian tubuh individu yang secara anatomi jauh lebih kecil, berada dalam posisi menempel di ketiak raga dewasa. Posisi ini menggambarkan sebuah naluri perlindungan yang tak terputus hingga detik terakhir.

”Kemungkinan besar itu adalah bagian tubuh ibu dan anak berusia di bawah 5 tahun. Mereka kemungkinan saling berpelukan saat musibah terjadi,” ujar Kepala RS Bhayangkara Mohamad Hasan Palembang Komisaris Besar Budi Susanto dengan nada bergetar seusai konferensi pers, Jumat (8/5/2026).

Temuan dalam kantong jenazah berkode PM 0008 tersebut semula sempat mengecoh tim medis. Berdasarkan pemeriksaan awal di lapangan, petugas mengira kantong tersebut hanya berisi satu individu.

Namun, setelah dilakukan pembedahan medis dan observasi lebih lanjut, ternyata terdapat bagian tubuh dari dua nyawa yang saling menyatu akibat dampak benturan dan suhu ekstrem saat kebakaran bus terjadi.

Tim DVI akhirnya memutuskan untuk memecah kode identifikasi menjadi dua, yakni PM 0008B yang diduga kuat sebagai perempuan dewasa, dan PM 0008C untuk sang balita. Hingga saat ini, jenis kelamin dari korban balita tersebut belum dapat dipastikan secara visual karena kondisi kerusakan jaringan yang sangat masif.

Uji DNA dan Harapan Keluarga dari Lampung

Meskipun identitas raga di balik kode PM 0008 tersebut belum dipastikan secara legal, secercah harapan sekaligus duka mulai mengarah pada sebuah keluarga asal Way Kanan, Lampung. Pihak kepolisian menerima laporan dari kerabat yang mencari keberadaan Aldi (26), Rani (23), dan Bela (2). Ketiganya tercatat dalam manifes perjalanan bus tersebut dan hingga kini belum ditemukan di antara korban selamat.

Namun, Kombes Budi Susanto menegaskan bahwa pihaknya memegang teguh prinsip kehati-hatian medis. Klaim identitas tidak akan diberikan hanya berdasarkan dugaan atau pengakuan keluarga, melainkan harus melalui validasi ilmiah yang tidak terbantahkan.

”Kami telah mengambil sampel pembanding dari individu PM 0008C, khususnya dari bagian tendon dan tulang rawan untuk diuji DNA. Sampel raga terkecil ini akan dikirimkan ke Laboratorium Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Markas Besar Kepolisian RI di Jakarta pada Sabtu (9/5/2026) pagi. Sementara 16 sampel dari jenazah lainnya sudah terbang lebih dulu pada Jumat pagi ini,” kata Budi menjelaskan prosedur tersebut.

Masuknya korban balita ini secara otomatis merombak data statistik di RS Bhayangkara. Dari 16 kantong jenazah yang semula diduga berisi 13 laki-laki dan 3 perempuan dewasa, kini terselip satu nyawa balita sebagai korban termuda. Total raga yang kini sedang diidentifikasi di Palembang berjumlah 17 orang.

Gagal Napas di RSUD Rupit

Angka kematian dalam tragedi transportasi paling kelam di lintas Sumatera tahun ini pun genap menyentuh 18 jiwa. Kabar duka terbaru datang dari RSUD Rupit, Musi Rawas Utara, tempat para korban luka bakar mendapatkan perawatan darurat. Muhammad Fahrul Hubaidi (31), salah satu dari empat penumpang selamat asal Tegal, Jawa Tengah, dinyatakan meninggal dunia pada Jumat pukul 11.55 WIB.

Fahrul gagal bertahan hidup setelah mengalami kondisi gagal napas akut. Luka bakar yang dialaminya mencapai 90 persen dari luas permukaan tubuh, sebuah kondisi yang secara medis sangat sulit untuk dipulihkan.

Fahrul sejatinya sempat menunjukkan semangat berjuang setelah menjalani operasi eksisi jaringan kulit mati pada Rabu lalu, namun komplikasi infeksi dan kegagalan organ dalam membuat kondisinya memburuk dengan cepat.

”Pihak manajemen bus ALS akan memfasilitasi pemulangan jenazah Fahrul langsung dari Muratara menuju Tegal. Jenazahnya tidak dibawa lagi ke Palembang karena identitasnya sudah dipastikan sejak awal evakuasi,” tutur Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, Trisnawarman.

Evakuasi Dramatis di Kepungan Banjir

Saat ini, fokus tim medis sepenuhnya tertuju pada upaya menyelamatkan nyawa yang masih tersisa, yakni Jumiatun (34) dan Ngadiono (44). Keduanya merupakan warga asal Pati, Jawa Tengah, yang juga menjadi korban selamat dari kobaran api.

Proses evakuasi keduanya berlangsung sangat dramatis. Selain harus berpacu dengan waktu medis, tim penyelamat juga harus menghadapi kendala alam berupa banjir besar yang tengah mengepung wilayah Musi Rawas Utara.

Ngadiono, yang menderita luka bakar 60 persen, berhasil dievakuasi lebih awal menuju RS Bhayangkara Palembang dengan menggunakan bantuan helikopter pada Jumat siang guna menghindari hambatan jalur darat.

Sementara itu, Jumiatun yang kondisinya jauh lebih kritis dengan luka bakar hingga 89 persen, terpaksa menempuh jalur darat menggunakan ambulans dalam pengawasan medis ketat.

”Keputusan untuk menidurkan Jumiatun secara medis dengan bantuan ventilator diambil agar pasien tidak merasakan nyeri yang tak terbayangkan di sekujur tubuhnya selama perjalanan panjang menuju Palembang,” jelas Trisnawarman.

Jaminan Biaya dan Santunan Ahli Waris

Pemerintah Daerah, RS Bhayangkara, bersama Jasa Raharja Sumsel memastikan bahwa seluruh beban biaya pengobatan korban selamat akan ditanggung sepenuhnya. Perawatan para korban selamat diperkirakan akan memakan waktu yang sangat lama, mengingat risiko infeksi pada luka bakar di atas 50 persen sangat tinggi dan kemungkinan memerlukan serangkaian operasi plastik lanjutan.

Kepala Bagian Administrasi Jasa Raharja Sumsel, Sugeng Prastowo, menegaskan komitmen lembaganya dalam mendukung pemulihan korban. Selain menjamin biaya perawatan maksimal Rp 20 juta per orang, santunan kematian sebesar Rp 50 juta juga telah disiapkan bagi seluruh ahli waris korban meninggal dunia.

”Dana santunan akan segera diserahkan begitu proses identifikasi DVI tuntas dan data ahli waris terkumpul secara sah. Kami ingin memastikan tidak ada kendala finansial bagi keluarga yang sedang berduka maupun yang sedang berjuang di ruang perawatan,” pungkas Sugeng.

Di tengah prosedur medis yang rumit dan perjuangan para dokter, pelukan abadi ibu dan anak dalam kantong PM 0008 akan selalu menjadi pengingat paling pahit tentang betapa rapuhnya nyawa di jalan raya.

Kini, semua mata tertuju pada hasil laboratorium DNA di Jakarta, menanti kepastian untuk memulangkan raga-raga yang telah berjuang di tengah kobaran api. (nvr/dhi/emen)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version