MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --
OKI Maju Bersama

Cahaya di Lempuing: Saat Listrik Tak Lagi Menumpang Tetangga

Cahaya di Lempuing: Saat Listrik Tak Lagi Menumpang Tetangga
Bupati OKI, Muchendi, bersama Ketua TP PKK OKI, Ike Muchendi, menyambangi kediaman Waris, Senin (2/3/2026). Dok. Diskominfo OKI

Bagi keluarga prasejahtera di pelosok Ogan Komering Ilir, listrik bukan sekadar aliran elektron, melainkan simbol kemandirian dan martabat. Kolaborasi antara PLN, Baznas, dan pemerintah daerah kini mulai menyentuh bilik-bilik kayu yang puluhan tahun gelap gulita.

OKI, NUSALY – Di Desa Cahya Makmur, Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), malam biasanya jatuh dengan sunyi yang menekan. Bagi Waris (39), seorang buruh harian lepas, gelap bukan sekadar fenomena alam, melainkan pengingat akan keterbatasan ekonomi yang menjepitnya bertahun-tahun. Di rumah berdinding papan itu, ia harus menumpang kabel dari tetangga hanya untuk menyalakan sepetak lampu pijar, sebuah praktik yang tidak hanya tidak nyaman, tetapi juga menyimpan risiko arus pendek yang mengintai nyawa keluarganya.

Namun, sejak Desember 2025, lanskap kehidupan Waris berubah. Sebuah meteran listrik resmi dari PT PLN (Persero) kini bertengger di dinding rumahnya. Cahaya yang memancar dari sana tidak lagi berasal dari “belas kasihan” tetangga, melainkan hak akses energi yang kini ia miliki secara mandiri. Peristiwa ini bukan sekadar urusan teknis penyambungan kabel, melainkan sebuah lompatan besar bagi sebuah keluarga yang selama ini terpinggirkan dari akses infrastruktur dasar.

Kegembiraan Waris kian berlapis ketika pada Senin (2/3/2026), rombongan Pemerintah Kabupaten OKI yang dipimpin Bupati Muchendi menyambangi kediamannya. Kedatangan itu membawa kabar yang selama ini hanya berani ia impikan: rumah papannya yang mulai lapuk akan segera dipugar melalui Program Rumah Layak Huni yang dikelola Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) OKI. Bagi seorang buruh harian, mendapatkan rumah layak huni dan listrik gratis dalam waktu yang hampir bersamaan adalah sebuah mukjizat kecil di tengah kerasnya perjuangan hidup.

Energi dan Kelahiran Baru

Ada getaran emosional saat Waris menceritakan momen listriknya menyala pertama kali. “Alhamdulillah, listrik ini menyala berbarengan dengan kelahiran anak kedua saya bulan Desember lalu. Rasanya seperti menyambut harapan baru,” ujarnya dengan suara lirih. Bagi Waris, keberadaan listrik mandiri berarti anak-anaknya kini bisa belajar dengan pencahayaan yang memadai tanpa harus khawatir kabel tarikan dari tetangga terputus atau bermasalah.

Akses listrik gratis ini merupakan bagian dari program Light Up The Dream yang diinisiasi oleh PLN UP3 Tugu Mulyo melalui aspirasi Anggota DPR RI, Dewi Yustisiana. Program ini dirancang secara spesifik untuk menyasar warga prasejahtera yang secara finansial tidak mampu menanggung biaya penyambungan baru. Di wilayah seperti Lempuing, yang jarak antar-pemukimannya cukup menantang, kehadiran program ini menjadi jembatan bagi warga yang selama ini terisolasi secara energi.

Bupati Muchendi, saat meninjau langsung kondisi rumah Waris, menegaskan bahwa kemiskinan energi adalah salah satu penghambat utama kualitas hidup. Ia menilai, akses terhadap hunian yang layak dan listrik yang aman merupakan fondasi paling dasar sebelum pemerintah bicara soal peningkatan pendidikan atau produktivitas ekonomi. Tanpa lampu yang stabil, anak-anak prasejahtera sudah kalah sebelum memulai kompetisi di sekolah karena terbatasnya waktu dan fasilitas belajar di rumah.

“Bantuan rumah layak huni dan sambungan listrik gratis ini bukan sekadar bantuan fisik. Ini adalah wujud nyata kehadiran negara untuk memastikan masyarakat mendapatkan kehidupan yang lebih bermartabat,” kata Muchendi. Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor antara eksekutif, legislatif, BUMD, dan lembaga pengelola zakat seperti Baznas adalah model kerja yang harus terus diperluas agar dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua keluarga saja.

Memutus Rantai Ketertinggalan

Persoalan rumah tidak layak huni di OKI masih menjadi pekerjaan rumah yang menantang. Rumah yang sehat, dengan sanitasi memadai dan instalasi listrik yang terstandar, adalah syarat mutlak untuk menekan angka stunting dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat desa. Dengan intervensi Baznas, pemugaran rumah Waris nantinya akan fokus pada penguatan struktur bangunan dan kelayakan sanitasi.

Sinergi ini menunjukkan bahwa menangani kemiskinan tidak bisa dilakukan secara parsial. Listrik tanpa rumah yang layak akan berisiko kebakaran, sementara rumah bagus tanpa listrik akan tetap membuat penghuninya tertinggal dalam arus informasi dan modernitas. Muchendi berharap model kolaborasi ini menjadi inspirasi bagi sektor swasta lainnya di OKI untuk ikut serta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Kami siap memperkuat kolaborasi lintas sektor. Harapannya, kesejahteraan masyarakat dapat meningkat secara bertahap dan merata hingga ke pelosok desa terjauh,” tegas Muchendi didampingi Ketua TP PKK OKI, Ike Muchendi.

Bagi Waris, segala diskusi kebijakan dan angka-angka kemiskinan itu mungkin terasa jauh. Yang ia tahu pasti adalah malam ini ia tidak perlu lagi merasa sungkan pada tetangganya saat menyalakan lampu. Di bawah benderangnya cahaya listrik yang kini sah miliknya, ia menatap masa depan anak-anaknya dengan sedikit lebih lapang. Harapan yang sempat redup kini menyala kembali, seiring dengan suara meteran listrik yang berdetak di dinding rumah barunya nanti. (puputzch)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version